Jika Santoso Tewas, Waspada Teror Meningkat

ilustrasi penyergapan kelompok Santoso

JAKARTA – Kabar tertembaknya pimpinan teroris di hutan Poso, yang belakangan menyatakan diri bergabung dengan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) yakni Santoso, pada Senin (18/7/2016) petang membuat aparat harus lebih waspada karena dikhawatirkan adanya upaya balas dendam.

Analis terorisme dan intelijen dari Universitas Indonesia Ridlwan Habib mengingatkan hal tersebut, agar aparat keamanan mewaspadai ancaman teror di dalam Kota Poso, Sulawesi Tengah, pasca-beredar kabar tewasnya pimpinan kelompok teror Santoso dalam Operasi Tinombala.

“Jika benar Santoso tewas, ancaman teror di dalam kota akan meningkat. Ada retaliasi atau pembalasan dendam, ini harus jadi kewaspadaan aparat,” ujar Ridlwan di Jakarta, Selasa (19/7/2016) dikutip dari Antara.

Diberitakan sebelumnya, buronan sejak tahun 2011 ini diduga tewas bersama seorang anggota kelompoknya oleh aparat gabungan dalam Operasi Tinombala. Sedangkan dua perempuan yang bersamanya melarikan diri.

“Jika benar itu Santoso, ini sebuah keberhasilan operasi counter gerilya oleh Polri dan TNI,” ujar Ridlwan.

Operasi counter gerilya dilakukan dengan cara menyekat pergerakan kelompok Santoso. Mereka didesak mundur ke wilayah yang vegetasi hutannya lebat dan sulit bahan makanan.

“Karena didesak ke wilayah sulit bahan makanan maka mereka putus asa. Akhirnya keluar hutan, ke pinggiran, maka bisa diserang oleh pasukan Kostrad,” jelas alumni S2 Kajian Stratejik Intelijen UI tersebut.

Ridlwan juga memperkirakan sisa anggota kelompok Santoso di dalam hutan Poso akan menyerah. Dua tokoh lain di dalam kelompok Santoso yakni Basri dan Ali Kalora diperkirakan akan turun gunung.

“Anggota yang lain juga akan menyerah karena mereka kehilangan figur pemimpin. Selama ini mereka bertahan karena takut dengan Santoso,” kata Ridlwan.

Sementara itu terkait kabar adanya dua wanita yang berhasil lolos, Ridlwan menduga mereka adalah istri Santoso dan istri Ali Kalora.

Advertisement