
PROSES panjang harus dilalui oleh Rusia dan Ukraina untuk menghentikan perang, namun paling tidak, prakarsa Presiden Jokowi yang diterima baik kedua belah pihak, bisa membuka dialog menuju perdamaian.
Pihak Rusia, menurut pakar hukum int’l Universitas Pelita Harapan Aleksius Jemadu (30/6) tentu tidak akan bisa menerima mediasi dari pihak Barat, sehingga di sini, posisi RI sebagai negara non-blok lebih menguntungkan.
“Penghentian perang saya kira masih terlalu jauh, namun pembukaan dialog saat ini cukup realistis, “ ujarnya.
Menurut Aleksius, proses perdamaian memang harus datang dari luar, asa perdamaian perlu ditumbuhkan di tengah terbentuknya polarisasi antara negara-negara Barat yang menentang invasi Rusia dan yang mendukungnya.
Sementara, mantan Dubes RI untuk Rusia Hamid Awaludin menilai, pendekatan ekonomi untuk menghentikan peperangan perlu dilakukan, mengingat jika perang berlarut-larut, bukan Rusia dan Ukraina saja yang terdampak, tetapi juga situasi global terutama negara-negara berkembang.
Selain negara-negara industri anggota Uni Eropa yang selama ini tergantung dari pasokan migas dari Rusia, negara-negara berkembang terutama di Afrika juga menggantungkan impor pangan (gandum) dari Rusia dan Ukraina.
Rusia sendiri, dalam jangka panjang, juga akan mengalami kesulitan ekonomi akibat embargo terutama dar negara-negara Barat dipimpin AS dan penguncilan dari sistem perbankan internasional.
“Jika RI bisa mendorong terciptanya gencatan senjata, itu sangat baik, “ ujar Hamid, sehingga selanjutnya, dalam KTT G20 I Bali, November nanti, pembahasan proses perdamaian bisa diteruskan.
Dalam pertemuan empat mata dengan Presiden Jokowi, Presiden Zelensky, Rabu (29/6)Â menyatakan niatnya untuk hadir di KTT G20 nanti, walau semua tergantung dari situasi di negerinya dan siapa-siapa lagi yang hadir dalam pertemuan itu.
Sementara Presiden Putin, dilaporkan meia setempat juga menyatakan niatnya untuk hadir dlam KTT G20 di Bali nanti, namun kepastiannya mungkin bisa diperoleh saat undangan resmi disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam pertemuan malam ini (30/6).
Perjalanan Misi Presiden Jokowi
Seusai menghadiri KTT G7 di Schloss Elmau, dekat ibukota negara bagian Bayern, Munchen, Jerman, Senin (27/6) Presiden Jokowi terbang dari Bandara In’tl Muenchen ke Rzeszow, Polandia dengan mobil (28/6) dilanjutkan dengan mobil ke Stasiun KA Przemsyl.
Dari Przemsyl rombongan berangkat dengan KA pukul 21.15 waktu setempat dalam perjalanan delapan jam, tiba di Stasiun Sentral Kyiv,Rabu pukul 08.50 pagi waktu Kyiv.
Sebelum bertemu empat mata dengan Presiden Voldymyr Zelensky di Istana Mariinsky, Kyiv (Rabu pukul 15.15 – 16.10), Jokowi berkunjung ke kota Irpin, sekitar 26 KM dari Kyiv (pukul 14:00 untuk  menyerahkan bantuan obat-obatan dan peralatan di Pusat Ilmiah, Bedah Endokrin dan Transplatasi Organ.
“Saya menawarkan diri dan membawa pesan dari Presiden Zelensky untuk Presiden Putin yang akan saya temui nanti, “ kata Jokowi kepada Harian Kompas seusai pertemuan kedua presiden di Istana Maryinsky, Kyiv, Rabu (29/6) pukul 15.15 sampai 16.10 waktu setempat.
Menurut Jokowi, hal yang paling penting dalam lawatannya, baik ke Ukraina mau pun Rusia, yakni mengupayakan titik temu kepentingan keduanya sehingga konflik bisa diakhiri.
Dalam pertemuan itu Presiden Jokowi terkait dengan posisi presidensi yang dipegang RI dalam G20, juga menyampaikan undangan pada Presiden Zelensky untuk hadir dalam KTT G20 yang akan digelar di Bali, November, 2022.
“Saya bersyukur, Presiden Jokowi secara pribadi mengantarkan undangan tersebut, namun kehadiran Ukraina tergantung kondisi keamanan di sini dan juga komposisi perserta pertemuan, “ujar Presiden Zelensky. Menurut catatan, Presiden Putin juga diundang dalam pertemuan itu.
Jokowi dan rombongan a.l. Menlu Retno Marsudi dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung meninggalkan Kyiv kembali dengan KA ke Stasiun Przemsyl, Polandia, (sampai Kamis pagi), lalu berkendara ke Bandara Int’l Rzeszo, Kamis pukul 14.00 dan dijadwalkan tiba di Moskow pukul 16.40 waktu Moskow.
Saat berita ini diturunkan, Kamis pukul 17.00 sore waktu Moskow, media Rusia, Izvestia Rusia melaporkan, Presiden Jokowi dan Presiden Putin bertemu empat mata di Kremlin membahas posisi masing-masing.
Presiden Putin, menurut laporan media setempat, menjelaskan pada Jokowi kebijakan yang diambilnya untuk memerangi tetanggaya sesama bekas sempalan Uni Soviet, Ukraina.
Sementara seusai pertemuan, Presiden Jokowi a.l menjelaskan pada Presiden Putin, bagi Indonesia, perdamaian adalah prioritas sehingga sesulit apa pun, dialog harus dibuka dan penyelesaian damai harus dikedepankan.
“Saya juga sampaikan, siap untuk menjembatani, dialog-dialog dan komunikasi selanjutnya antara Rusia dan Ukraina, ” kata presiden.
Dalam pertemuan itu, Jokowi juga menyebutkan, RI mendukung upaya PBB untuk memasukkan lagi komoditas pangan dan energi, baik dari Rusia mau pun Ukraina dalam rantai perdagangan global. “Presiden Putin juga memberikan jaminan kelangsungan pasokan bahan pangan dan pupuk untuk Indonesia, ” ujarnya.
Terlalu dini untuk memprediksi hasil upaya perdamaian yang dilakukan Presiden Jokowi, namun paling tidak, hal itu sesuai dengan amanat UUD 1945 dan juga kedudukan RI sebagai presidensi G20.




