
PADANG-Joni Effendi, 24 tahun, tengah terbaring di hamparan kasur Ruang Teratai 4 Rumah Sakit M. Djamil Padang, ketika tim Dompet Dhuafa Singgalang datang untuk membesuknya pada Senin (25/4/2016) lalu.
Dua wanita paruh baya tengah mendampinginya dengan telaten, menuntun Joni dalam aktivitas sehari-harinya. Mereka adalah Ibu kandung Joni, Djusmainar, 61 tahun, dan Suherniwati, 49 tahun, yang telah menjadi ‘ibu angkat’ Joni semenjak masa kuliah.
Pasca dua operasi yang dia jalani, yakni operasi usus buntu dan usus bocor, Joni membutuhkan istirahat ekstra serta keterbatasan dalam beraktivitas. Perutnya masih sangat lemah. Terlihat dua guratan bekas operasi di perutnya yang masih dalam masa pemulihan.
“Ketika mengajukan bantuan ke Dompet Dhuafa Singgalang pada awal maret lalu, saya melihat sendiri kondisi Joni yang datang mengajukan surat permohonan, dengan kondisi perut terbuka, saat itu usus buntunya telah di angkat, namun masih dalam tahap pemulihan untuk ia operasi kedua, usus bocornya. Dari perutnya yang masih terbuka, usus bocor tersebut ditempatkan diluar, diberi kantong plastik khusus untuk menampung sisa makanan yang tak bisa melewati anusnya,” kenang Syamsul pada Kamis (28/4/2016).
Untuk operasi ini, Joni terbebani biaya sebesar 16 juta. Meski tercatat lunas di sistem administrasi rumah sakit, namun sebenarnya Joni dan keluarga menanggung hutang kepada karib kerabat yang telah memberi mereka pinjaman untuk operasi.
“Bahkan, pajak kendaraan yang dipakai ayah Joni untuk bekerja, mendapat dispensasi oleh pihak kepolisian, karena digunakan untuk biaya pengobatan Joni,” cerita Suherni, mewakili ibu kandung Joni yang tak sanggup bercerita banyak karena perhatiannya yang telah terkuras untuk anaknya.
Mulai berkuliah di Universitas Negeri Padang (UNP) pada 2010 lalu, Joni berteman dengan anak Suherni, Elsi Wulandari (24).
Suherni telah menganggap Joni seperti anak kandungnya sendiri. Semenjak mengenal Joni di semester tiga bangku kuliah, ia merasa bersimpati dengan kondisi Joni. Ibunya memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berjualan lontong di kampung, Jl. Kayangan Ujung, RT.003 RW.007 Kelurahan Babussalam, Kec. Mandau. Dan sang ayah, Tajudin (64), bekerja sebagai buruh harian lepas.
Mengenal latar belakang kehidupan Joni yang berketerbatasan, Suherni berempati memberikan fasilitas tempat tinggal gratis bagi Joni hingga sekarang, di rumahnya yang beralamat di Jl. Pincuran 7 No.12 Kalumbuk Padang. Joni menamatkan kuliah dan bekerja sebagai Honorer di Pusat Layanan Autis Padang.
Delapan bulan bekerja, Joni merasa gejala tak beres dari perutnya. Saat diperiksakan, ternyata hasil ronsen menemukan bahwa terdapat usus buntu pada perutnya serta kebocoran pada bagian lainnya.
“Joni di operasi pada Januari lalu, ususnya dipotong sepanjang 7cm. Dan ususnya belum boleh dimasukkan sampai Maret lalu, Kemana-mana Joni harus mengenakan kantong plastik khusus yang dipasangkan pada ususnya,” imbuh Suherni seraya memperlihatkan bentuk kantong plastiknya.
Saat ini, bekas operasi Joni telah dijahit kembali setelah operasi kedua; pemasukan ususnya kembali kedalam perut. Joni belum bisa mengkonsumsi makanan seperti orang normal pada umumnya, karna dikhawatirkan merusak ususnya kembali selama masa penyembuhan.
“Joni hanya diperbolehkan meminum susu khusus yang telah disiapkan pihak rumah sakit, itu pun hanya boleh dikonsumsi sebanyak dua sendok makan setiap dua jam, tidak boleh makan yang lain, bubur pun tidak,” Suherni meneruskan ceritanya.
Dalam masa perawatan ini, Joni dan keluarganya mengaku bingung dan putus asa mengenai biaya dan pemulihannya. Sementara sebelumnya, mereka masih berhutang kesana kemari.
Melalui Dompet Dhuafa Singgalang, diharapkan, para dermawan kembali menyalurkan kepedulian mereka untuk membantu sesama kita yang terkendala dalam usaha mereka menjemput kesembuhan.
Donasi dapat disalurkan via Rekening BNI Syariah 234.666666.6 a.n. Dompet Dhuafa Singgalang. Untuk informasi lebih lengkap dapat menghubungi Hotline dinomor 081267023333. –nisa




