GUATEMALA CITY—Hingga kini, jumlah korban tewas dalam bencana longsor di, Santa Catarina Pinula, Guatemala mencapai 131 orang. Sementara 300-an orang lainnya masih belum ditemukan.
Juru bicara relawan pemadam kebakaran Julio Sanchez mengatakan, di antara korban tewas yang ditemukan terdapat anak-anak, termasuk bayi yang baru lahir. Peristiwa ini terjadi pada Kamis (1/10) malam waktu setempat, saat hujan deras mengguyur. Air bah kemudian menggulung dan menghancurkan bangunan yang terletak di Desa Cambray II. Sedikitnya 125 rumah hancur tersapu air.
Hingga saat ini, tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap ratusan korban yang diduga masih tertimbun di bawah rumah yang hancur. Ahad (4/10) kemarin, petugas sempat menghentikan pencarian karena hujan kembali turun, dan beresiko bagi tim jika terus melakukan upaya pencarian.
Sebenarnya, Pemerintah Kota Guatemala City sudah memerintah masyarakat di sekitar lokasi bencana untuk pindah berkali-kali. Terakhir kali mereka mengingatkan pada bulan November tahun lalu. Namun, banyak keluarga menolak dengan alasan tak punya tempat baru.
Pejabat setempat mengatakan, dampak dari hujan deras diperburuk oleh sungai terdekat yang meluap. Delapan orang telah meninggal dalam insiden yang terkait dengan cuaca dalam beberapa bulan terakhir. Musim hujan tahun lalu, sedikitnya 29 orang tewas, dan 9 ribu rumah rusak. Musim hujan tahun ini berlangsung sejak Mei, dan diprediksi akan berakhir pada November mendatang.
Lebih dari 53 persen penduduk Guatemala yang berjumlah 16 juta jiwa, hidup dalam kemiskinan. Sisa-sisa luka perang saudara selama 36 tahun, yang berakhir pada tahun 1996 masih terasa di negara ini. Selain kemiskinan dan korupsi, tingkat kejahatan di Guatemala juga terus mengalami peningkatan. AFP




