Sebelum hari H gencatan senjata, Israel tetap serang Gaza

Kabinet Perang Israel dipimpin PM Benjamin Netanyahu (paling kanan), Jumat (17/1) mnyepakati gencatan senjata di Gaza dengan pihak Hamas.

ASA bagi terwujudnya perdamaian disambut antusias oleh warga  di wilayah  Gaza, Palestina   yang porak poranda dilanda perang antara milisi HAMAS, Palestina da Israel sejak awal Oktober 2023.

Namun faktanya, walau kesepakatan gencatan senjata sudah disetujui oleh kabinet perang Israel, Jumat (17/1), pengeboman terhadap wilayah tersebut masih dilancarkan oleh tentara Israel.

Sejak kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, Mesir dan Qatar diumumkan, Jumat, setidaknya 87 warga Palestina tewas, termasuk 21 anak-anak dan 25 perempuan.

Angka tersebut menambah panjang daftar korban dalam perang yang telah berlangsung lebih dari satu tahun tiga bulan seperti yang dilaporkan  Al Jazeera, berdasarkan  laporan dari badan-badan kemanusiaan dan otoritas Gaza.

Perang yang diawali serangan mendadak Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023, menewaskan 1.139 warga negara Yahudi dan penyekapan 200-an sandera, dibalas secara brutal dengan bombardemen udara dan serangan darat selang sehari kemudian (8 Okt.), sehingga diperkirakan 46.000 warga Palestina termasuk Hamas tewas dan sekitar seratus ribu luka-luka.

Militer Israel (IDF)atas tekanan warganya yang mencemaskan  sisa sandera yang masih disembunykan Hamas akhirnya menyetujui kesepakatan gencatan senjata, sehingga membuka peluang bagi pembebasan 33 sandera Israel pada Minggu (19/1/2025) mendatang.

Puluhan sandera sudah dibebaskan berdasarkan kesepakatan senjata sebelumnya, namun sejauh ini diperkirakan sebagian tewas di lokasi-lokasipenyekapan dan dalam keepakatan gencatan senjatakali ini, akan dibeaskan 33 sandera lagi.

Sebagai gantinya, Israel akan membebaskan hingga 1.650 tahanan Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak di bawah 19 tahun.

Serangan ke kam pengungsi

Sementara kamp pengungsian Khan Younis, Gaza, mnurut laoran Reuters, serangan terhadap tenda pengungsi menewaskan dua orang dan melukai tujuh lainnya.

Selain pembebasan sandera dan tahanan, kesepakatan gencatan senjata juga mencakup peningkatan bantuan kemanusiaan ke Gaza, termasuk hingga 600 truk bantuan per hari untuk menangani kelaparan dan penyakit yang meluas di wilayah itu.

Di Israel sendiri, kesepakatan gencatan senjata kali ini menuai pro dan kontra. Kelompok garis keras dalam pemerintahan, bahkan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mengancam mundur jika dianggap takluk pada Hamas.

Namun PM Benjamin Netanyahu menegaskan, gencatan senjata  penting dilakukan untuk membebaskan para sandera dan memberikan kesempatan bagi peredaan ketegangan di kawasan itu.

Bagi elite dan politisi, penderitaan di tengah perang tentu tidak begitu dirasakan, beda halnya dengan puluhan ribu rakyat Palestina yang harus meregang nyawa, seratus ribuan yang terluka dan ratusan ribu yang kehilangan tempat tinggal.

Begitu pula warga Israel yang kehilangan lebih 1.200 keluarga atau kerabat mereka yang juga berharap-harap cemas menantikan kepastian tentang hidup-mati atau pembebasan sandera yang masih hidup. (Reuters/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here