
AKSI begal yang dilakukan enam orang, empat di antaranya ABG terhadap FR alias S, perempuan pengendara sepeda motor yang sedang hamil, di ruas Jl. Mustika, Bekasi (11/3) lalu sangat sadis, meresahkan dan mengganggu rasa aman masyarakat.
Tega-teganya, tidak hanya memepet kendaraan korban serta mengancam dengan senjata tajam salah seorang pelaku juga mendorong korban hingga terjatuh, lalu pelaku membawa lari sepeda motornya.
Kelompok dipimpin RAF (15) tersebut berhasil dicokok polisi dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.Masing-masing mengambil peran dalam aksi sadis yang dilakukan.
MP (20) berperan mengambil motor korban dan menodongkan senjata tajam, IZ (20) menodongkan golok, MAH (15) mengendara sepeda motor dan memboncengkan MP, RAF sebagai inisiator, AS mengendara motor dan memboncengi RAF, MD (16) merboncengkan IZ.
Ironisnya, berbagai kasus kejahatan di kawasan Jabodetabek seperti tawuran, begal, pemalakan, mabok-mabokan dan aksi-aksi ala gangster lain dilakukan ABG berstatus siswa, di bawah 20 tahun.
Direktur Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes T. Ade Hidayat mengungkapkan, pada awalnya kelompok-kelompok ABG terbentuk dengan ngumpul-ngumpul, lalu mendeklarasikan nama kelompok mereka.
Mereka melakukan aksi kekerasan, sering terhadap orang yang tidak bermasalah sekali pun, hanya untuk menunjukkan eksistensi mereka dan agar dianggap memiliki nyali lebih atau “jagoan”.
Selain untuk mencari jati diri, menurut pengamat sosial Universitas Jakarta, Rahmat Hidayat aksi-aksi kejahatan para ABG itu juga dipicu faktor eksternal terkait nilai-nilai, norma, lingkungan sosial serta keluarga.
Yang memprihatinkan, nilai-nilai moral dan kontrol sosial keluarga makin longgar akibat pola edukasi dan pengawasan orang tua yang mungkin sibuk mencari nafkah, tidak seketat dulu lagi.
Medsos yang menjadi wahana interaksi mereka, sayangnya juga sering dimanfaatkan untuk hal-hal negatif seperti ajakan tawuran atau provokasi antara kelompok satu dan lainnya.
Para remaja tersebut yang sejatinya adalah generasi penerus bangsa, juga di era now yang seharusnya mengedepankan adab, ahklak dan nalar, tindakan mereka sangat merusak citra bangsa.
Kejahatan jalanan harus ditumpas tuntas agar tidak menimbulkan rasa ketakutan di ruang-ruang publik dan terus membuat korban berjatuhan.




