
BENTUK phisik dan anatomi Kartomarmo sangat menyalahi rumus, jika tak mau disebut dungu dan di luar akal sehat. Bayangkan, sebagai wayang berhidung bentulan, matanya malah kedhelen bukan thelengan. Mengapa dilukiskan macam demikian, nggak tahulah! Yang jelas dengan tipikal seperti itu Kartomarmo jadi tampang kriminal habis. Ndilalah kersaning Allah, oleh Prabu Duryudana dia malah dipercaya menjadi bendahara kraton. Karenanya klop benar, tiada hari tanpa ngobyek, main anggaran, main proyek. Berkat “keahliannya” tersebut, sekarang rumahnya di kesatriyan Tirtatinalang bagaikan istana. Saking kayanya, barisan Kurawa menyebut dirinya: Kartomakmur.
“Tuh, perutnya sampai menjorok ke depan, saking gemuknya, kayak Wakil Ketua DPR saja.” Ledek Durmagati.
“Untungnya Kartomakmur tak suka bermulut nyinyir.” Tambah Aswatama.
Kebetulan Prabu Duryudana dewasa ini tengah membangun proyek wantilan, yakni kandang gajah Antisura. Anggarannya Rp 15 milyar, dan telah diresmikan minggu lalu. Tapi anehnya, setelah kandang nampak elit dan mewah, gajah Antisura justru tak mau menempati. Setiap digiring masuk selalu berontak. Sudah banyak prajurit negeri Ngastina tewas terinjak, karena terlalu berani menggiring gajah masuk ke dalam wantilan baru. Pawang gajah se- Kabupaten Lampung telah dikerahkan, masih juga gagal mengendalikan.
“Bapa Pandita Durna, kenapa gerangan, gajah Antisura kok ngambek? Padahal anggaran bikin wantilan sudah terlanjur high cost.” Keluh Prabu Duryudana dalam rapat terbatas di Istana Gajahoya.
“Aduh anak prabu, apa itu high cost? Saya nggak paham, apa sejenis dengan sega hik (nasi kucing) Solo itu ya?” jawab Durna tanpa tedeng aling-aling.
Prabu Duryudana lalu memerintahkan paranormal agung Ngastina tersebut untuk maneges kersaning jawata (mencari tahu maksud dewa), apa gerangan yang terjadi. Malam harinya Pendita Durna di ruang bertapanya ditemui Bethara Bayu. Dengan pakai jubah kahyangan, dewa angin itu memberikan bisikan bahwa ngambeknya gajah Antisura lantaran tahu anggaran proyek wantilan di-“mark up” gas pol. Sebagai golongan hewan yang anti korupsi, Antisura lalu unjuk rasa menurut cara gajah.
Pendhita Durna memang doyan popularitas. Dapat bocoran kasus beginian tidak langsung dilaporkan Prabu Duryudana dulu, tapi malah diumbar pada pers dan media online. Akibatnya, raja Ngastina belum terima laporan, koran, TV dan internet malah sudah asyik memberitakan. Tak urung Kartomakmur dibuat bulan-bulanan pers. Tambah celaka, diwawancarai lan dijak talk show di TV tidak berani, justru menghilang entah ke mana. Bahkan “lingkaran istana” yang dimintai informasi malah saling menyalahkan.
“Bapa Durna, bagaimana ini? Laporan rahasia kok malah diumbar ke media massa? Jadi pejabat mbok jangan suka curang dong….” Prabu Duryudana marah betul, lupa dalam suasana puasa.
“Anak prabu, terus terang saja, saya ini gembala sapi, eh…. kepancing. Jika tutup-tutupi malah nanti dikira dapat bagian. Maafkan saja bleguduk, eh anak prabu.” jawab Durna pating pecotot, soalnya pikiran jadi kacau. Mendadak jadi dungu.
Prabu Duryudana marah betul, kecurangan yang tidak masif, tapi sistematis dan brutal bisa merusak citra Kurawa. Para pejabat Ngastina kemudian dikumpulkan. Prabu Baladewa diangkat dadi Ketua KPK, memeriksa ulah Kartomarmo yang menjadi tikus negara. Tapi sayang, begitu status dinaikkan jadi tersangka, dia minta pemeriksaan setelah Lebaran saja. Di samping perut lapar dan haus, padahal pemeriksaan bisa berjam-jam, takutnya langsung nggak boleh pulang alias ditahan.
Ternyata, perkembangan terakhir Kartomakmur malah kabur, saat dinyatakan paspornya dicabut. Terpaksa Suman Sengkuniharyo ditunjuk untuk memimpin Tim Kurawa memboyong Kartomakmur yang kabarnya mau kabur ke Brunei. Ternyata itu hoaks. Aslinya dia kabur ke Jonggring Salaka.
“Tangkap dia hidup-hidup. Tapi kalau rewel, tembak saja kepalanya.” Perintah Prabu Duryudana.
“Kok sadis amat sama adik sendiri?” Durmagati lagi-lagi protes.
Alkisah, di kahyangan Jonggring Salaka kluster Pasetran Gandamayit, Bethari Durga sedang menerima tamu Kartomarmo. Ditilik dari raut mukanya, sepertinya tamu anyar katon (kali pertama) sedang dirundung masalah multidimensi. Wajahnya pucat, sambil terbatuk-batuk dengan pegangi dada, sedangkan berat tubuhnya telah menurun 18 Kg. Bethari Durga pun heran, hanya sosok wayang Kartomarmo kelas akar rumput di Ngastina, kok niru-niru Dewasrani sowan ke Pasetran Gandamayit segala. Ini lakon carangan apa lagi, dalangnya kok kurang kerjaan amat.
“Kok menyalahi pakem betul kamu, Kartomarmo. Kamu punya keinginan apa, tumben-tumbenan ke sini? Ngomong singkat dan jelas ya, acaraku hari ini padat sekali. Saya mau operasi payudara, sekalian suntik solikin, mumpung dibiayai dana BPJS Kesehatan….,” ujar eyang Bethari Durga.
“Mohon perlindungan, Eyang Bethari. Saya di Ngastina dikejar KPK, dituduh korupsi, padahal saya tidak sendiri, karena sudah bagito, dibagi roto,” ujar Kartomarmo. Bethari Durga tercenung, kenapa sekarang kahyangan Pasetran Gandamayit dijadikan bunker koruptor wayang ngercapada? Bulan lalu Dewi Eny Saragih Dewi juga sempat ke sini, sebelum ditangkap KPK. Mengapa Kartomakmur menyusul? Total jendral ada 20 koruptor yang ngumpet ke sini. Ada saja ulah wayang sekarang. Korupsi tidak mau bagi-bagi, tapi setelah dikejar KPK bingung minta perlindungan.
Sebagai dewa pamomong wayang jahat, Bethari Durga bisanya hanya mendukung setiap tindak kejahatan. Untuk uang jasa, dia cukup minta komisi 15 % dari hasil korupsi tersebut, anggap saja sebagai pajak PPh. Uang segitu tak semua masuk kantong sendiri, harus dibagi pula untuk Jaramaya dan Jarameya anak buahnya. Tapi dasar dewa kacangan yang nggragas, Jaramaya Cs masih suka kelayaban di ngercapada, main cuci otak maklhuk akar rumput, minta duwit serta mendalangi penipuan lewat ATM.
“Boleh tinggal di Pasetran Gandamayit sini. Tapi berapa hasil korupsi dan cara-caranya, harus dibeberkan, demi transparansi,” ujar Bethari Durga.
“Biasa Eyang. Agar anggaran cepat keluar, saya mesti minta komisi 10 persen. Tapi itu juga nggak saya makan sendiri. Durmagati, Dursasono, pokoknya semua kerabat Ngastina yang pakai nama “dur” semua kebagian……,” ujar Kartomarmo ngobok-obok pejabat Ngastina.
Belum juga selesai perundingan rahasia di Pasetran Gandamayit, keburu ada tamu patih Ngastina Suman Sengkuniharyo, ketua Tim Ngastina. Dia kaget sejenak, ternyata Kartomakmur sudah kongkow-kongkow di sini. Langsung sport jantung dia, takutnya Kartomarmo mulutnya ngablak ngomong yang enggak-enggak.
“Anda tak boleh tangkap Kartomarmo. Bilang sama Duryudana, masak beraninya hanya sama koruptor kelas teri, tangkap tuh yang kelas kakap,” ujar Durga jadi beking.
“Tapi saya hari ini duta angrampungi (utusan menyelesaikan segala masalah). Jika Kartomarmo bertahan, saya berhak membunuhnya ketimbang nanti “menyanyi” yang mboten-mbo….!”
Belum selesai Suman Sengkuniharyo ngomong, keburu digasak Jaramaya dan Jarameya, ditantang perang di alun-alun Repat Kepanasan. Karena patih Ngastina manusia cemen, akhirnya malah ngajak berdamai saja. Sembari ngerokok klembak menyan wayang bertiga mengatur skenario, intinya Kartomarmo baru siap memenuhi panggilan KPK jika penyakit jantungnya sudah sembuh betul. Untuk bukti, Suman Sengkuniharyo dibekali kapsul warfarin dan aspirin, yang katanya sisa obat puskesmas.
Prabu Duryudana marah betul, bagaimana bisa raja kok dikadali anak kecil. Ini bagaimana Sengkuni ini, ditugaskan bawa pulang Kartomarmo, malah hanya dapat kapsul penyakit jantung. Terpaksa Prabu Duryudana kirim WA ke Lurah Semar, minta bantuwan membereskan Bethari Durga. Dari dulu Semar memang konsisten menjadikan koruptor sebagai musuh bersama, sehingga Semar yang rambutnya sudah lama meninggalkan dunia hitam, segera berangkat ke kahyangan Pasetran Gandmayit.
“He, Durga kamu jangan mbekingi maling berdasi. Jika Kartomarmo tidak kamu serahkan, saya kirimi “bom atom” kamu. “ ancam Semar.
“Saya nurut, tapi jangan dijadikan tersangka lho ya,” Durga mohon dikasihani.
Bethari Durga tak berkutik. Kartomarmo yang hendak kabur, kontan ditenteng Ki Badranaya, diboyong ke Ngastina diserahkan ke Prabu Duryudana. Sang prabu merasa lega, citra sebagai pemberantas korupsi pulih kembali. (Ki Guna Watoncarita).


