
JAKARTA berdasarkan survei Yayasan Thomson Reuters bekerjasama dengan perusahaan polling YouGov pada 2016 menempati peringkat ke lima dari 16 kota di dunia yang transportasinya dinilai tidak aman.
Walau ada perbaikan moda angkutan umum dengan hadirnya bus-bus Transjakarta, MRT dan KRL yang diperbanyak frekuensi layanannya dan semua ber-AC , aksi-aksi pelecehan seksual terhadap perempuan masih sering terjadi.
Ironisnya, berdasarkan hasil catatan PT KAI Commuter Indonesia selaku operator KRL Â (Kompas, 12/5), terjadi 25 kasus pelecehan seksual di KRL pada 2017, namun seluruhnya tidak ada yang berlanjut ke kepolisian.
Tikad disebutkan kenapa kasus-kasus tersebut tidak diteruskan, apakah korban merasa malu karena menganggap kejadian yang menimpanya sebagai aib, ribet proses pelaporannya seperti pengajuan barang bukti, saksi dan lainnya.
Sementara menurut jajak pendapat Litbang Kompas yang digelar 4-5 Mei lalu terhadap 486 responden berdomisili di Jabodetabek berusia minimal 17 tahun, separuhnya (53 persen) menilai, penyebab utama pelecehan di kendaraan umum karena adanya kesempatan.
Sebanyak 13,5 persen menganggap karena korban tidak melapor, 10 persen karena tidak efektifnya penegakan hukum, 9,2 persen karena pelaku tidak jera, 5,8 persen menganggap pelecehan seksual hal biasa, 5,4 persen karena penumpang lain tak peduli dan 3,1 persen tidak tahu atau tidak menjawab.
Penyebab utama kenapa korban pelecehan seksual tidak melapor, lebih separuh (53,8 persen) takut, 25,6 persen malu, 8,5 persen bingung, 7,3 persen enggan terlibat proses hukum, 0,9 persen pesismis terhadap ketegasan proses hukum, tidak jawab ataSemenu tidak tahu 3,7 persen.
Sementara itu, 35,9 persen responden mengaku langsung menegur pelaku jika mengetahui aksi pelecehan seksual di kendaraan umum, 26,9 persen lapor pada petugas, 12,6 persen memberitahu korban untuk pindah tempat, 12,4 persen berteriak, 7,3 persen diam atau pura-pura tidak tahu dan 2,6 persen tidak tahu/tidak jawab.
Menjawab pertanyaan terkait hal penting yang perlu dilakukan pemerintah, 26,1 persen responden mengusulkan penambahan gerbong/bus khusus untuk wanita, 21,8 persen menghukum pelaku
Kemudian  20,1 persen responden mengajak masyarakat peduli dan 12,2 persen mengampanyekan edukasi terkait pelecehan seksual, mengeduaksi penumpang wanita melindungi diri dan mendorong korban melapor, sedangkan 2,3 persen tidak tahu/tidak menjawab.
Jakarta sebagai kota metropolitan, tentu tidak cukup sekadar berupa  gemerlapannya sarana dan parsarana umum dan gedung pencakar langit, tetapi juga warga yang menjunjung tinggi adab dan budaya. (Litbang Kompas/NS)




