
CALON perorangan didukung kawula muda dan Partai Gerakan Keadilan (PTI) meraih kursi terbanyak di parlemen (101 dari total 266 kursi) dalam Pemilu Pakistan yang digelar, Kamis (8/2) lalu.
Sementara pesaing terdekat PTI yakni Liga Muslim (PMLN) hanya mampu meraih 75 kursi, sedangkan Partai Rakyat Pakistan (PPP) dengan 51 kursi.
PTI dikendalikan oleh klan Imran Khan yang pernah sekali menduduki jabatan PM, sementara PMLN disetir oleh keluarga Syarif yang pernah tiga kali memimpin Pakistan, sedangkan PPP tokoh-tokohnya nya pernah menjadi presiden dan PM.
Pegiat HAM Open Society Foundation, Omar Waraich menilai, hasil pemilu kali ini mencerminkan adanya pemunculan tren yang tidak terbantahkan dimana kaum muda Pakistan menjatuhkan pilihan pada pemimpin masa depan negeri itu bukan lagi di tangan kalangan militer.
Menurut dia, pemilih baru banyak yang tertarik pada gagassan “Pakistan Baru” yang ditawarkan oleh PTI akibat kekecewaan mereka terhadap klan Sharif yang saat berada di tampuk pimpinan gagal menyelesaikan persoalan bangsa.
Menurut dia, sekitar 90 persen kaum muda ada di belakang Imran Khan, hanya saja mereka takut tampil dan menganggap ini saatnya bagi Pakistan dipimpin tokoh baru.
Sedangkan Direktur Eksekutif Gallup Pakistan Billal Gilani menilai, hasil pemilu kali ini menunjukkan perlawanan terhadap hegemoni militer di panggung politik Pakistan sejak kemerdekaan negara itu.
Sebaliknya, kemenangan para caleg perorangan dalam pemilu kali ini bakal menyulitkan militer mempertahankan dominasi yang mereka kangkangi selama ini dimana tak satu pun seorag PM bisa menjabat tanpa dukungan mereka.
“Pemilih PTI menyampaikan pesan perlawanan, tidak akan membiarkan militer menentukan hasil pemilu dan mereka menghendaki, militer tersingkir, “ ujar seorang pengamat.
Kekuasaan memang kenikmatan , sehingga orang ingin terus mempertahankannya selama mungkin, namun bila sudah tiba waktunya lepas, tak ada yang bisa menghalanginya.
(AP/Reuters/ns).




