Keengganan Rezim Myanmar, Derita Rohingya

Etnis minoritas muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine (Arakan), Myanmar berusaha menghindari aksi pembantaian, persekusi dan perkosaan oleh tentara dan etnis mayoritas Myamar meliwati rawa-rawa, sungai dan laut menuju wilayah Bangladesh.

KURANGNYA perhatian dan keengganan Pemerintah Myanmar menjadi halangan utama merepatriasi ratusan ribu etnis minoritas Rohingya  yang masih berada di kam pengungsi sementara di wilayah Cox Bazar, Bangladesh.

“Proses repatriasi tergantung sepenuhnya pada negara asal mereka (Myanmar), “ kata Dubes Bangladesh untuk RI, Azmal Kabir di Jakarta, Kamis (25/4) seraya menandaskan, negaranya siap memfasilitasi program pemulangan pengungsi Rohingya tersebut.

Sekitar 100.000 etnis muslim Rohingya yang melarikan diri dari negara bagian Rakhine, Myanmar, saat ini ditampung di kam pengungsi Cox Bazar, Bangladesh dekat tapal batas dengan Myanmar.

Kaum Rohingya tersebut dengan berbagai cara berupaya menyeberangi kawasan rawa-rawa, melalui sungai atau laut menuju tanah Bangladesh agar terhindar dari aksi persekusi dan pembantaian oleh rezim pasukan Myanmar dan mayoritas etnis setempat.

Penguasa Myanmar menolak kewarganegaraan mereka, kecuali hanya beberapa gelintir dengan persyaratan tertentu,  salah satau alasannya, karena secara fisik dan juga wajah kaum etnis Rohingya lebih mirip dengan penduduk Bangladesh.

“Tidak ada yang membantah fakta, walau mirip penduduk Bangladesh, mereka adalah warga negara Myanmar, “ kata Kabir seraya mencontohkan, jika ada orang yang mirip dan berbudaya sama dengan Indonesia, bukan berarti mereka WNI.

Pemerintah Bangladesh sendiri berencana memindahkan para pengungsi yang berada di Cox Bazar ke lokasi penampungan baru di Pulau Bhasan Char karena lokasi lama rawan longsor terutama pada musim hujan yang segera tiba.

Sampai hari ini, belum ada solusi yang bisa membuat kelompok etnis minoritas muslim di Negara Bagian Rakhine atau Arakan dalam bahasa lokal, bebas dari kemiskinan, diskriminasi, kekerasan serta persekusi.

Sekitar satu hingga 1,3 juta etnis Rohingya di Rakhine hidup dalam kesengsaraan dan ketidakpastian, karena kebangsaannya tidak diakui oleh rezim junta militer Myanmar.

Penganiayaan, persekusi dan genocida kerap dilakukan tentara Myanmar dibantu mayoritas etnis Budha, terlebih jika ada korban di pihak mereka akibat serangan kelompok militan yang tergabung dalam Arakan Salvation Army –ARSA.

Etnis muslim Rohingya yang berasal dari Hindia belakang, didatangkan ke negara Bagian Rakhine oleh kolonial Inggeris pada abad ke-18 untuk dipekerjakan di perkebunan, namun pasca kemerdekaan Myanmar, kehadiran mereka tidak dikehendaki pemerintah dan mayoritas warga.

ASEAN dan PBB harus lebih serius menuntaskan nasib minoritas muslim Rohingya agar mereka dapat hidup layak dan tidak menjadi korban pelaggaran HAM sepanjang masa. (Reuters/NS)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement