Kemarau Mundur, Produksi Pangan Terdampak

Musim kemarau 2022 mundur akibat dampak la Nina sehingga berpotensi anjloknya produksi pertanian terutama tanaman pangan seperti beras dan jagung.

TREN tingginya curah hujan sepanjang 2022 karena musim panas yang tertunda akibat fenomena La Nina bisa berdampak buruk bagi produksi pertanian sehingga langkah mitigasi untuk mengantisipasinya harus dilakukan.

Sejumlah wilayah di Indonesia, seperti Semarang dan sekitarnya mengalami banjir rob pekan lalu, sementara Kab. Barito Selatan, Barito Timur serta Kota Waringin Tmur di Prov. Kalimantan Tengah ditetapkan dalam status tanggap banjir selama 14 hari.

Menurut Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan BMKG Ardhasena Sopaheluwakan (30/5), tingginya curah hujan selama Mei tak hanya karena dampak La Nina, tapi juga akibat menghangatnya suhu muka laut di perairan Indonesia yang mengikuti tren pemanasan global.

Menurut dia, kontribusi penghangatan suhu muka laut lima kali lebih besar dibandingkan pemanasan akibat La Nina. Menurut catatan BMKG, fenomena La Nina yang telah berlangsung dua tahun terakhir dan melemah sejak Januari 2022 kembali menguat.

Akibatnya, musim kemarau mundur dari prakiraan sebelumnya sehingga kondisi ini  bisa berdampak terjadinya peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia. Di beberapa wilayah yang seharusnya sudah masuk transisi ke musim kemarau masih turun hujan dengan intensitas tinggi.

Ardhasena mengingatkan, sektor pertanian khususnya tanaman pangan seperti padi dan jagung  bakal paling terdampak akibat peningkatan bencana hidrometerologi .

Potensi banjir, menurut dia, meningkat sehingga merusak lahan pertanian, sedangkan curah hujan yang tinggi juga akan berdampak pada proses pembungaan yang pada gilirannya terjadi kegagalan proses pembuahan.

Sejumlah wilayah yang diprakirakan mengalami hujan tinggi sampai Juli nanti antara lain Cilacap di Jawa Tengah, Bulukumba, Luwu Utara, Sidendeng Rappang, Sinjai dan Wajo  (Sulawesi Selatan), Ambon (Maluku), Fakfak  (Papua Barat)  dan Dogiyai (Papua).

Sementara wilayah yang berstatus siaga menghadapi potensi curah hujan tinggi a.l. Bone (Sulsel) dan Maluku Tengah.

Sementara Dosen Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universtas Gajah Mada Subejo mengemukakan, dari pengalaman selama ini, La Nina yang berpotensi memicu curah hujan tinggi berisiko pada produksi pertanian atau stabilitas pangan sehingga antisipasi diperlukan terutama di wilayah rawan banjir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement