JAKARTA – Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyebut lonjakan kasus baru Covid-19 yang mencapai 5.444 pada Jumat (13/11) merupakan dampak pelonggaran protokol kesehatan di Indonesia.
Menurutnya kenaikan tersebut sebagai dampak dari pelonggaran protokol kesehatan seperti masih ada aktivitas massa berkerumun, dan belum memadainya upaya 3T.
Namun, Dicky menjelaskan, sebagaimana dilansir CNNIndonesia, bahwa sebenarnya jika melihat pada pemodelan kondisi pandemi di Indonesia, kasus positif harian bisa mencapai 10 ribu kasus per hari.
Menurut Dicky, angka tersebut tak sesuai dengan pemodelan kemungkinan karena upaya testing-tracing-treatment (3T) belum memadai sehingga banyak kasus positif yang belum ditemukan.
Berdasarkan beberapa pemodelan situasi pandemi di Indonesia buatan institut luar negeri, penambahan kasus harian di Indonesia bisa mencapai 60 ribu kasus dalam sehari jika mengikuti tes yang dianjurkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Berdasarkan anjuran WHO, dengan asumsi penduduk 270 juta jiwa, jumlah tes mingguan Indonesia mestinya sebanyak 270 ribu dalam sepekan.
Namun, data mingguan Satgas Covid-19 menunjukkan tes di Indonesia belum pernah sekalipun mencapai angka tersebut.
Jumlah pengetesan tertinggi tercapai pada minggu ketiga Oktober, yakni sebanyak 222.287 tes dalam sepekan. Berdasarkan terakhir, pada minggu pertama November, pengetesan hanya sebanyak 181.304.





