GAYA bicara jubir Istana Kangka Nyebelin memang datar, kurang greget. Malah sering diawali dengan kata-kata nggak jelas, aaa eeee aaaa eeee…..melulu, mirip Mensesneg di era Orde Baru. Lebih-lebih Kangka ini juga sering bawa-bawa nama raja Prabu Matswapati. Sebentar-sebentar di depan pers, dia selalu mengatakan, “Menurut petunjuk bapak eh raja Wiratha……” atau lain waktu dibalik menjadi, “Raja Wiratha memberi petunjuk eee……”
Paling fatal menjelang Lebaran kemarin. Prabu Matswapati menyinggung soal geplak Bantul sebagai hidangan tamu, Jubir Kangka malah membahas gaplek Gunung Kidul sebagai makanan pokok wong cilik. Ngapain, hari raya Idul Fitri kok makan thiwul? Bener-bener nggak nyambung dan Kangka bener-bener nyebelin.
“Jubir Istana kok ngomongnya pating pecotot, saya jadikan Dubes di negara bilangan Rusia, mau?” tegur Menhan Kencaka yang jadi orang kepercayaan Prabu Matswapati.
“Terserah saja sama bosku lah….” jawab Kangka Nyebelin santai saja, tak peduli akan ancaman halus petinggi Wiratha tersebut.
Sebenarnya Sencaka tak ada niat ketemu Jubir Kangka. Tapi karena amprok tak sengaja di lorong Istana, dia iseng-iseng menyinggung soal gaplek dan geplak tersebut. Tujuan utama pagi-pagi ke Taman Keputren sebetulnya mau ketemu ayunda Dewi Rekatawati. Lebih fokus lagi, ingin bisa menatap dan melihat kecantikan Salindri pegawai baru yang telah ditunjuknya sebagai ajudan ibu negara.
Penampilannya pegawai baru di Taman Keputren ini memang benar-benar menggamit rasa merangsang pandang itu. Blak kotang atau terus terang saja, sebetulnya Kencaka jatuh hati pada Salindri. Jika mau, dia siap menjadikan Salindri istri kedua. Memangnya pejabat tinggi negara boleh poligami? Untuk di Wiratha bolah-boleh saja, sebab tak ada PP-10 yang melarang PNS poligami. Diam-diam Sencaka mengakui kebenaran ucapan juragan ayam bakar Wong Solo, Puspa Wardoyo: banyak istri banyak rejeki. Yang penting harus berbanding lurus antara kebutuhan meteril dan onderdil.
“Mbakyu permaisuri ada, Sal…..” kata Sencaka begitu ketemu ajudan baru ini.
“Ada di dalam, sepertinya bau main WA-nan sinuwun.” Jawab Salindri takzim.
Sudah dijawab demikian tapi Sencaka tak segera beranjak masuk ke dalam, melainkan terus mencoba ngobrol bersama Salindri. Isyu yang diangkat macam-macam, seputar kaum perempuan. Misalnya soal kenapa Salindri masih tetap pakai rok span seperti Polwan dan Kowad, bukan berjilbab seperti wanita kebanyakan di Wiratha sekarang. Atau soal kemungkinan wanita ingin jadi presiden di negeri sebelah. Dibela-belain sampai tebar baliho, padahal elektabilitasnya tetap jeblok.
Tapi jawab Salindri tetap hanya ya dan tidak saja, dia tak mau beropini panjang lebar, takut ketahuan siapa diri sesungguhnya. Dan karena jawaban tersebut Sencaka menjadi semakin yakin bahwa Salindri memang sekedar orang desa yang ingin mengubah nasib ke ibukota negara.
“Kamu kok cantik banget sih, sudah punya suami belum? Mau nggak saya jadikan bini kedua?” ujar Sencaka pada akhirnya, to the point saja.
“Jangan sinuwun, saya sudah punya suami dari golongan lelembut.” Jawab Salindri berkelit.
“Ngapain punya suami makhluk halus? Mendingan jadi istriku, aku ini dari Golongan Karya, lho……” jawab Kencaka asal-asalan, sebab aslinya punya KTA Golkar juga tidak, pakai jaket kuning juga belum pernah. Kalau giginya yang kuning karena jarang sikat gigi, memang iya.
Demikianlah, ketika situasinya demikian kondusif, dia berusaha merangkul dan mencium Salindri nan seksi itu. Tapi ajudan ibu negara sudah siap dengan berbagai kemungkinan. Maka dia mundur-mundur sampai ketemu sebuah meja. Ketika Kencaka dengan penuh nafsu menubruknya, dengan cepat Salindri menghindar. Gubrak, Menhan Wiratha itu bukan dapat pipi licin sang ajudan, justru kena lingir meja sampai jidat benjol sebesar bakpao isi kacang ijo macam Setya Novanto Ketua DPR/Golkar tempo hari.
Salindri masuk ke dalam cari aman, berlagak santai ketemu ibu negara. Dalam kondisi jidat benjol mana berani Kencaka ketemu ayunda, pasti justru akan menjadi bahan pertanyaan; kenapa jidat sampai mencono. Maka buru-buru Kencaka jalan keluar dengan santainya, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Dia benar-benar kerepotan jika muncul pertanyaan asbabul nuzul si jidat benjol.
“Lho ndara Kencaka, kenapa tuh dahinya?” tegur Satpam.
“Kamu ini aneh! Masih banyak pemandangan lainnya yang indah-indah di Wiratha, kenapa malah mengurusi soal jidatku segala? Tolong belikan rokok Minak Jingga…..”
Mendadak Kencaka mengalihkan perhatian dan kecurigaan Satpam. Habis memberikan uang Rp 20.000,- selembar Kencaka lalu mencari di mana piranti CCTV ditaruh. Begitu ketemu langsung diambil data rekamannya. Sebab jika sampai terlihat dan terbaca oleh pihak lain, apa kata dunia? Hancur reputasi Sencaka, paling tidak kantong ludes diperas wartawan bodrex. Oii…..Menhan Kencaka mau perkosa ajudan ibu negara!
Adapun Salindri, ketika situasi di luar sudah mantap terkendali, segera mohon izin ke ibu negara untuk keluar sebentar. Tujuan sesungguhnya mau bertemu Jagal Abilawa. Dia ingin menyampaikan musibah yang hampir saja menyapanya. Dia ingin tokoh andalan Pendawa Lima itu memberi pelajaran secukupnya pada Kencaka yang cluthak pada kaum Hawa. (Ki Guna Watoncarita)



