DIALOG INTERAKTIF PRO 3 RRI Tentang Ketahanan Pangan Bersama Parni Hadi dan Komisi IV DPR RI
JAKARTA – Swasembada atau ketahanan pangan skala keluarga menjadi energi positif bagi ekonomi keluarga di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Tidak membutuhkan area yang luas, ketahanan pangan bisa diciptakan oleh sektor kecil di tengah masyarakat yaitu keluarga, bagi mereka yang tinggal di perkotaan, dengan berbagai sistem baik dengan polybag maupun hidroponik dapat ditanam berbagai tanaman pangan seperti Kangkung, Bayam, Sawi dan lain sebagainya.
Inisiator sekaligus Ketua Pembina Yayasan Dompet Dhuafa, Parni Hadi mengatakan kemandirian keluarga akan berhasil jika ketahanan pangan tercukupi
“Para petani di era muda, saya setuju saya pikir ketahanan pangan dulu, jika keluarga pangan tercukupi. Kita kerja sama dalam kemandirian keluarga. Semangat dan kepedulian kita untuk mandiri, nanti kita tata perdagangan,” ujar Parni Hadi dalam acara dialog interaktif pro 3 RRI, Selasa (4/5/2020).
Parni mengatakan pada swasembada atau ketahanan pangan, harus diperhatikan jenis tanaman pangan baik secara masa panen maupun tata cara pengelolaan, seperti lele, sayur mayur seperti kangkung, bayam, dan lain-lain.
Lebih lanjut dikatakan Parni Hadi, dirinya mengajak kepada semua orang agar mulai menanam guna memenuhi kebutuhan sendiri.
“Sedulur tani, saya Parni Hadi teman anda. Tugas para intelektual, tolong anda berikan masukan dan solusi. Saya pikir kita harus terjun langsung. Mekanisme pasar punya sendiri, jadi rakyat kecil tidak mungkin diadu oleh kapital,” pungkas Parni Hadi.
Di tempat yang sama, turut hadir pula Guru Besar IPB, Dwi Andrea Santosa dan Wakil Ketua Komisi IV DPR, Daniel Johan.
Dwi Andrea mengatakan ketergantungan terhadap impor pangan semakin lama semakin tinggi, ketika dunia menghadapi guncangan seperti ini maka perdangangan juga turun sehingga tingkat kebutuhan dan konsumsi di masyarakat juga menurun.
“Di sisi lain Petani-petani kelabakan, kami para petani mencoba langsung ke tingkat konsumen untuk memutus mata rantai perdagangan karena jalur industri pangan cukup riskan terlebih di tengah pandemi corona (Covid-19). Beda lagi dengan swasembada atau ketahanan pangan di tingkat keluarga, memanfaatkan perkarangan itu oke saja, tapi jika ada gerakan masal ya kasian petani. Menjamin rantai pasok domestik ini juga harus ada tindakan dari Pemerintah,” ujar Dwi Andrea Santosa.





