JAKARTA, KBKNEWS.id –Â Militer Iran menyatakan telah meningkatkan stok persenjataan rudalnya dan berada dalam kondisi kesiapsiagaan penuh di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.
Pernyataan ini disampaikan Komandan Divisi Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi, Rabu (14/1/2026), seperti dilaporkan Anadolu Agency.
Mousavi menegaskan bahwa kekuatan dirgantara Iran kini berada pada puncak kesiapan pertahanan dan siap menghadapi segala bentuk ancaman. Ia menyebut produksi militer di berbagai sektor mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelum konflik bersenjata dengan Israel pada Juni 2025.
Selama perang yang berlangsung selama 12 hari tersebut, Iran meluncurkan ratusan rudal balistik ke wilayah Israel sebagai respons atas serangan Tel Aviv yang menewaskan sejumlah komandan militer senior dan ilmuwan Iran.
Dalam konflik yang sama, Amerika Serikat juga dilaporkan membombardir tiga fasilitas nuklir Iran.
Menurut Mousavi, seluruh kerusakan yang dialami pasukan Iran selama konflik telah sepenuhnya diperbaiki. Hal itu, kata dia, memastikan kesiapan militer tetap berada pada level tertinggi.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan dari Washington. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan aksi militer terhadap Iran, sekaligus menyuarakan dukungan terbuka kepada aksi protes yang berlangsung di negara tersebut sejak bulan lalu.
Trump juga memperingatkan bahwa pihak-pihak yang ia sebut sebagai pelaku kekerasan terhadap demonstran akan menghadapi konsekuensi berat.
Sejumlah laporan menyebutkan Washington tengah mempertimbangkan opsi serangan militer, menyusul kebijakan pengenaan tarif 25 persen terhadap negara-negara yang masih menjalin perdagangan dengan Iran.
Menanggapi hal tersebut, pejabat Iran memperingatkan bahwa pangkalan militer AS di kawasan akan menjadi sasaran jika Teheran diserang. Dalam surat kepada Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menuduh Trump menghasut kekerasan internal serta mengancam kedaulatan Iran.
Sementara itu, pejabat keamanan senior Iran Ali Larijani menyebut ancaman Presiden AS sebagai tindakan provokatif dan tidak bertanggung jawab. Di tengah situasi yang terus memanas, sejumlah negara dilaporkan telah mengimbau warganya untuk segera meninggalkan Iran.





