Keteladanan Pertebal Nasionalisme

Nasionalisme selayaknya tidak hanya ditunjukkan saat perayaan HUT kemerdekaan, tetapi dengan perbuatan nyata dalam berpolitik dan keseharian

PERAYAAN HUT Kemerdekaan bisa mempertebal rasa cinta pada Tanah Air, namun suri keteladanan para elite dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam berpolitik terutama menjelang pemilu legislatif dan pilpres 2019 sangat diperlukan untuk menjaga soliditas bangsa dan NKRI.

HAMPIR seluruh warga menilai, perayaan hari kemerdekaan dapat meningkatkan rasa cinta pada Tanah Air dibarengi kebanggaan karena mereka merasa bagian bangsa Indonesia.

Hal itu tercermin dari jawaban 99,2 persen atau hampir seluruhnya (620) responden berusia minimal 17 tahun di 16 kota besar di Indonesia dalam jajak pendapat Harian Kompas pada 15 dan 16 Agustus 2018 atas pertanyaan; “Setuju atau tidak kah Anda, perayaan hari kemerdekaan dapat meningkatkan cinta pada Tanah Air?. Hanya 0,8 persen yang menyatakan tidak setuju.

Tebalnya rasa cinta Tanah Air juga terlihat dari mayoritas responden yang mengaku, setiap terlibat dalam acara HUT kemerdekaan tidak melupakan makna kemerdekaan itu sendiri. Lebih dari separuh (53,5 persen) responden memaknai Hari Kemerdekaan RI untuk mengingat jasa para pahlawan, 25,2 persen meningkatkan persatuan dan 19,8 persen menumbuhkan semagat patriotisme.

Lebih dua pertiga (75,2 persen) responden menjawab, keragaman suku dan budaya membuat mereka bangga sebagai bangsa Indonesia saat mengikuti perayaan kemerdekaan, selain keragaman kekayaan alam (16,9 persen) dan aneka makanan khas (2,7 persen).

Sebanyak 37,3 persen responden berharap agar Indonesia bebas dari konflik atas pertanyaan: “Apa harapan Anda dengan bertambahnya usia kemerdekaan RI?”, 32,1 persen agar persatuan terpelihara, 17,9 persen keamanan terjamin dan 11,6 persen berharap tidak ada lagi kesenjangan sosial.

Sementara itu, Pengajar Hukum Universitas Prasetya Mulya Rio Christiawan dalam tulisannya berjudul: Momentum Nasionalisme” (Kompas, 16/8) menyebutkan, momentum nasionalisme diperlukan mengingat saat ini bangsa Indonesia sedang memasuki tahun politik, Pilkada serentak dan Pilpres 2019.

Kontestasi dalam kegiatan politik praktis terutama melalui politisasi agama, menurut Rio, telah menggerus nilai-nilai kebhinekaan dan menyebabkan identitas bangsa seolah-olah terlupakan dan membuat komponen bangsa terkotak-kotak serta bersikap apatis pada nasionalisme.

“Nasionalisme (selayaknya) tidak hanya sebatas ritual pada perayaan HUT kemerdekaan karena (jika hal itu terjadi-red) tidak membangkitkan semangat nasionalisme itu sendiri sebagai pemersatu bangsa agar tidak tercerai berai, “ ujarnya.

Rio juga melihat tergerusnya rasa nasionalisme, tergantikan pemikiran pragmatis akibat dampak renggangnya soliditas bangsa. “Rakyat mudah dipengaruhi karena tingkat kesejahteran belum terpenuhi”

Nasionalisme tentu saja juga harus diteladankan oleh para elite dengan tulus dan konsisten, tidak sekedar dengan retorika-retorika bermuatan narasi seruan persatuan , tetapi di belakang, terus “menggoreng” isu SARA dan ujaran kebencian, fitnah, politisasi agama dan politik identitas demi mengejar kekuasaan. (NS)

Advertisement