JAKARTA, KBKNews.id – Ibadah kurban merupakan salah satu ibadah yang sangat agung dalam Islam. Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketakwaan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Lalu, apa saja keutamaan ibadah kurban dalam Idul Adha? Mari kita simak penjelasannya berdasarkan dalil dan perkataan ulama.
1. Syariat Seluruh Umat
Ibadah kurban bukan hanya milik umat Nabi Muhammad ﷺ, tetapi telah ada sejak zaman Nabi Adam ‘alaihissalam. Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 27 tentang kisah dua putra Nabi Adam, Habil dan Qabil, yang diperintahkan untuk berkurban. Habil berkurban dengan domba yang gemuk, sementara Qabil berkurban dengan hasil pertanian. Allah menerima kurban Habil karena ketakwaannya, sedangkan kurban Qabil ditolak.
Ini menunjukkan bahwa kurban adalah ibadah yang sangat diperhatikan Allah sejak dahulu kala, sebagaimana shalat dan puasa yang juga disyariatkan kepada umat-umat sebelumnya.
2. Syiar Tauhid
Kurban adalah bentuk pengagungan kepada Allah dan penegasan tauhid. Ketika menyembelih, kita mengucapkan “Bismillah, Allahu Akbar”, sebagai simbol bahwa pengorbanan ini hanya untuk Allah, bukan untuk berhala, jin, atau tujuan duniawi.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 34:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
“Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang diberikan kepada mereka berupa hewan ternak.”
3. Ibadah Harta Terbaik
Berkurban lebih utama daripada sedekah biasa. Rasulullah ﷺ menggandengkan antara shalat dan kurban dalam firman-Nya:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa kurban adalah ibadah harta yang paling afdhal setelah shalat, karena mengandung dua ibadah sekaligus:
Ibadah menyembelih (mengalirkan darah sebagai bentuk ketundukan kepada Allah).
Sedekah (membagikan daging kepada fakir miskin).
4. Sunnah yang Kontinyu
Rasulullah ﷺ tidak pernah absen berkurban setiap tahun, menunjukkan betapa agungnya ibadah ini. Bahkan, beliau berkurban untuk seluruh keluarganya meskipun memiliki banyak istri. Ini menjadi teladan bahwa kurban tidak harus mewah—satu kambing cukup untuk satu keluarga.
5. Bukti Ketakwaan
Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging dan darah kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.”
Kurban adalah bukti nyata ketakwaan seorang hamba. Siapa yang mampu tetapi enggan berkurban, berarti ia telah menyia-nyiakan kesempatan besar untuk mendekatkan diri kepada Allah.
6. Bukti Syukur kepada Allah
Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ setelah menganugerahkan Al-Kautsar:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Ini menunjukkan bahwa salah satu bentuk syukur atas nikmat Allah adalah dengan shalat dan berkurban.
7. Pahala yang Besar
Meskipun hadis-hadis tentang keutamaan kurban banyak yang dhaif, para ulama sepakat bahwa kurban memiliki keutamaan besar. Di antaranya:
Setiap helai bulu hewan kurban bernilai pahala (HR. Ahmad, Ibnu Majah).
Kurban menjadi syafaat bagi pelakunya di hari Kiamat.
Darah hewan kurban lebih cepat sampai kepada Allah sebelum menetes ke bumi.
8. Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail
Kurban mengingatkan kita pada keteladanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang rela mengorbankan putranya, Ismail, sebagai bentuk ketaatan. Allah kemudian menggantikannya dengan domba besar. Kisah ini menjadi pelajaran tentang keikhlasan dan kepasrahan kepada Allah.





