GUNUNG GALANG – Mbah Sakiyem yang berusia lebih dari 80 tahun, warga Dusun Gunungalang Twelagiri Pagedongan Banjarnegara, seorang nenek jompo yang hidup sebatang kara di sebuah rumah kecil yang lebih layak disebut gubuk.
“Kula nyuwun tulung griya kula niki dipun dandosi, Panjenengan pirsani piyambak, pageripun boten rapet, menawi ndalu jawah kula boten saged tilem amargi toya mlebet griya, kula nyuwun tulung sanget nggih, tulung griya kula dipun dandosaken”…. (saya minta tolong, rumah saya diperbaiki, kalian lihat sendiri, dinding banyak berlubang, kalau hujan dimalam hari saya tidak dapat tidur karena air hujan masuk ke rumah, saya mohon, tolong rumah saya diperbaiki), ” kata Mba Sakiyem kepada Prapti Banjar, yang berkunjung ke rumahnya bersama kawan-kawannya, komunitas Sedulur ICB.
Kepada KBK Prapti bercerita, bahwa ketika itu, ia sempat mampir ke rumah Mbah Sakiyem karena prihatin melihat gubuk yang dihuni nenek sebatang kara.
Diceritakan Prapti, Mbah Sakiyem dulu bekerja sebagai pencari daun untuk dijual ke tetangganya yang menjadi perajin tempe dan kini Beliau sudah tidak bisa lagi bekerja.
Untuk hidup sehari-hari Beliau hanya mengandalkan bantuan dari tetangganya. Beliau tidak punya anak, familinya meski tinggal satu desa namun beda dusun yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya.
Dan untuk mewujudkan keinginan Mbah Sakiyem memiliki tempat tinggal yang layak itu, lanjut Prapti, Sedulur ICB melakukan gerakan penggalangan dana. Mereka melaksanakan program bedah rumah bersama warga Gunungalang.
“Alhamdullillah, pemilik tanah di mana Mbah Sakiyem tinggal mengijinkan kami untuk melakukan program ini dan warga Gunun Galang-pun sangat mendukung,” terang Prapti.
Sejak saat itu Prapti yang bernama asli Suprapti ini, memulai kampanye penghimpunan dana melalui jejeraing sosial.
“Alhamdulillah hanya dalam waktu delapan hari kami berhasil mengumpulkan dana hampir Rp13 juta sesuai RAB. Kami mendapatkan bantuan dari Indonesia Membangun Rakyat sebesar 8 juta dan setelah itu penggabungan dana kami nyatakan ditutup,” terang Prapti.
Setelah uang terkumpul, Komunitas Sedulur ICB pun melakukan bedah rumah dan kini Mbah Sakiyem sudah tinggal di rumah yang layak, meski tetap dia huni sendiri saja.





