Kisah Korban Susur Sungai, Rencana Ulang Tahun Khoirunnisa Berubah Jadi Acara Pemakaman

Dedy Sukma, ayah salah satu korban susur sungai di Sleman, Khoirunnisa Nur Cahyani, berdoa seusai prosesi pemakaman anaknya/ VOA

SLEMAN – Khoirunnisa Nur Cahyani, salah satu korban tewas Susur Sungai di Sungai Sempor, dua bulan lalu, meminta pada sang kakek, Sumarno, untuk mengunjunginya, pada Sabtu  (22/2/2020) untuk merayakan ulang tahunnya.

Namun permintaan untuk merayakan ulangtahun tersebut, tidak disangka Sumarno yang datang dari Tegal, Jawa Tengah, ke Turi, Sleman Yogyakarta, ternyata untuk mengantarkannya ke peristirahatan terakhir.

Sehari sebelumnya, cucunya menjadi satu dari setidaknya 10 korban yang dipastikan meninggal dalam kegiatan Pramuka yang diikutinya. Tidak mengherankan jika Sumarno begitu emosional saat memberikan sambutan pelepasan jenazah Nisa pada Sabtu pagi.

“Ini khususnya kepada SMP N 1 Turi, dan umumnya kepada semuanya saja. Ini fatal. Saya membayangkan, bagaimana kalau 250 anak itu hilang semua,” ujarnya sambil terbata.

Sejumlah kerabat berusaha menenangkan pria berumur 75 tahun itu. Termasuk Dedy Sukma, ayah Nisa yang tak mampu berkata-kata.

“Saya berterimakasih kepada guru-guru yang sudah mendidikan Nisa. Mohon maaf kalau saya emosional,” tambah Sumarno, dilansir VOA Indonesia.

Nisa, yang duduk di kelas 7 SMPN 1 Turi, Sleman, Yogyakarta, adalah satu dari 249 siswa sekolah itu yang mengikuti kegiatan penyusuran Sungai Sempor, yang berlokasi tidak jauh dari sekolahnya. Penyusuran sungai itu adalah bagian dari kegiatan Pramuka.

Kegiatan itu dimulai sekitar pukul 14.00, Jumat (21/2). Ketika kegiatan baru berjalan satu jam, banjir melanda Sungai Sempor dan menghanyutkan ratusan siswa. Menjelang petang Nisa dinyatakan sebagai korban meninggal, bersama 6 kawannya yang semua perempuan.

 

Advertisement