SURABAYA – Perjalanan panjang Ibu Yeyen dalam mencari kesembuhan dari tumor tulang belakang menjadi bukti ketabahan dan kekuatan iman di tengah ujian kesehatan yang berat. Berawal dari keluhan tidak bisa buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK) pada 18 Agustus 2024, ia menjalani serangkaian pemeriksaan di RSI Jemursari Surabaya.
Yeyen mendapat diagnosis cairan di jantung, ginjal, paru-paru, dan empedu, serta batu ginjal. Setelah dua minggu dirawat, kondisi Ibu Yeyen membaik dan ia diperbolehkan pulang.
Namun, cobaan kembali datang. Pada 14 September 2024, ia harus dirawat lagi setelah dua kali terjatuh—pertama saat berwudhu untuk sholat Isya, dan kedua di kamar mandi akibat kehilangan keseimbangan. Kaki kanannya mendadak kaku dari lutut hingga pergelangan, disertai nyeri hebat. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan adanya kelainan di tulang belakang, tetapi butuh MRI untuk memastikannya. Karena RSI Jemursari tidak memiliki alat MRI, Ibu Yeyen dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Proses Diagnosis yang Penuh Tantangan
Selama menunggu jadwal MRI pada 28 Oktober 2024, Ibu Yeyen menjalani berbagai tes, termasuk tes keringat dengan metode unik menggunakan tepung putih. Hasilnya menunjukkan area panggul hingga lutut tidak berkeringat normal, mengindikasikan masalah di sekitar pinggang dan lutut.
Setelah MRI, terungkap bahwa tulang belakang lumbar (L8) retak, L9 & L10 mengembang, serta L11 & L12 menyempit. Dokter juga mencurigai adanya tumor, tetapi lokasi pastinya belum terdeteksi. Pemeriksaan lanjutan seperti MIBI (senyawa radioaktif) dan Bone Scan pun belum mampu menemukan titik pasti tumor.
Dukungan dari Berbagai Pihak
Selama proses pengobatan, Ibu Yeyen tidak bisa berjalan atau berdiri, sehingga ia selalu menggunakan bantuan ambulans dari berbagai lembaga. Salah satunya ambulans dari Dompet Dhuafa Surabaya.
Tak hanya itu, **Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Jawa Timur** juga membentuk tim pendampingan khusus untuk mendukungnya.
Harapan di Tengah Ketidakpastian
Kini, Ibu Yeyen masih menunggu tindakan biopsi yang tertunda karena libur Lebaran 2025 (28 Maret–8 April). Meski belum menemukan titik pasti tumor, ia tetap optimis dengan dukungan keluarga, sahabat, dan berbagai pihak.
“Alhamdulillah, banyak kemudahan dari Allah selama saya mencari kepastian. Semoga waktu kesembuhan itu segera tiba. Aamiin Allahumma Aamiin,” ujarnya penuh harap.





