JAKARTA, KBK – Jarum jam menunjukan pukul sembilan dua puluh menit, puluhan orang yang sebagian besar anak-anak mulai membentuk barisan mengelilingi lapangan dadakan beralaskan terpal biru yang disetiap sisinya dipenuhi bongkahan batu besar, dengan suasana gegap gempita upacara detik-detik proklamasi pun dimulai di lahan yang dahulu lokasi rumah mereka.
Lusuhnya baju para peserta upacara dan deretan tenda pengungsian berwarna abu kecoklatan seakan menjadi saksi bisu kekejaman para pemangku kekuasaan, tak sedikit pula para peserta upacara yang hanya menggunakan sandal jepit, jauh dari model protokoler upacara pada umumnya yang menggunakan sepatu.
Mendekati pukul sembilan tiga puluh menit, dua anak laki-laki dan satu perempuan berpakaian serba putih dengan langkah tegap mendekati tiang bambu. Mereka adalah pasukan pengibar bendera, tak lama kemudian lagu kebangsaan Indonesia pun berkumandang ke seantero tanah gusuran Kampung Akuarium, Pasar Ikan, Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara.
Alunan lagu yang melantun secara lantang sontak membuat suasana menjadi emosional, tetesan air mata tanpa terasa membasahi pipi para peserta upacara. Ketika matahari semakin meninggi tak satu pun dari para peserta yang mengeluh kepanasan, mereka tetap berdiri tegar hingga prosesi upacara selesai.
Bertindak sebagai inspektur upacara Drg Imam Rulyawan Direktur Dompet Dhuafa Filantropi. Dalam pidato singkatnya Imam mengatakan bahwa tujuan terselenggaranya upaca ini tak lain guna memperjuangkan warga Kampung Akuarium untuk memperoleh kemerdekaan yang hakiki secara adil dan terlepas dari penindasan yang di lakukan oleh pihak yang mengatakan punya kekuasaan.
“Arti kemerdekaan yang sebenarnya bukan merdeka secara bebas sampai orang yang tidak punya kekuasaan ditindas, itu bukan kemerdekaan. Untuk melawan itu kita harus bekerja keras dan bekerja cerdas secara ikhlas,” kata Imam, Rabu (17/0816).
Setelah ditutup dengan doa, upacara yang dilaksanakan selama 25 menit itu usai dan dilanjutkan dengan aneka kegitan lomba khas tujuh belasan antara lain lomba makan krupuk, joget jeruk, panjat pinang dan mengambil koin yang diselipkan dalam jeruk bali.
Tak menunggu waktu lama, seutas tambang mulai dibentangkan panitia acara. Kendati persiapan lomba belum rampung, para peserta lomba yang di dominasi anak-anak itu terlihat antusias. Mereka saling mengacungkan telunjuk, tanda ingin mendaftarkan diri supaya bisa ikut lomba makan krupuk.
Ahmad Fitroh panitia acara lomba tujuh belasan di Kampung Akuarium mengatakan tujuan diadakannya lomba tak lain ingin menjaga kekompakan antar sesama warga setelah terpecah belah oleh insiden penggusuran yang berlangsung beberapa waktu lalu.
“Tidak hanya anak-anak, lomba ini juga diikuti oleh ibu-ibu dan bapak-bapak. Kami ingin mengajak mereka terlibat dalam kemeriahan hari kemerdekaan, selain itu kami juga ingin membangun kekompakan antara sesama warga,” ucap Ahmad.
Anita Novita Sari (17) begitu senang bisa ikut memeriahkan hari kemerdekaan meski rumahnya telah rata dengan tanah, namun tatapan matanya terlihat masih menyimpan rasa duka mendalam mengingat pada tahun sebelumnya ia masih mengikuti tujuh belasan bersama warga Kampung Akuarim secara kompak.
“Sedih, biasanya saya ikut lomba ramai-ramai bersama teman tapi sekarang terpisah-pisah,” kata bocah ABG yang akan mengikuti lomba joget jeruk itu.
Senada dengan Anita, Puput (12) warga Kampung Akuarium juga merasakan hal serupa. Sejak rumahnya kena gusuran kehidupan sehari-harinya berubah 180 derajat, ia tak bisa lagi bermain bebas bersama temannya. Hadirnya upacara detik-detik proklamasi dan aneka lomba yang terselenggara di lingkungannya seakan menjadi pelipur lara.
“Saya senang disini ada lomba, jadi rame,” ucap Puput yang antusias menanti perlombaan panjat pinang.
Upi Yunita (38) mengaku baru pertama kali seumur hidup mengikuti upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan di tanah kelahirannya meski rumahnya tak lagi berdiri. Ia berharap di hari kemerdekaan ini bisa mendapatkan keadilan dari pemangku kepentingan yang telah mengambil haknya sebagai penduduk Kampung Akuarium, Luar Batang.
“Saya terus berusaha mengambil hak saya, di hari kemerdekaan ini saya mau suara kami di dengar,” ujarnya
Semoga hadirnya sang saka merah putih pada hari kemerdekaan RI 71 di tanah Luar Batang yang tergusur oleh kepentingan penguasa dapat memberikan energi positif bagi kehidupan warga sekitar yang hingga kini masih berjuang menggapai kehidupan yang lebih layak.





