Kisruh Sesama Arab, Musuh-musuh Islam Diuntungkan

Gemerlapan metropolitan Doha, ibukota Qatar (aspetar)

TIGA negara kaya di kawasan Teluk, Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) diikuti yang lainnya memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar yang dituding mendukung kelompok teroris binaan Iran.

Disayangkan, negara-negara bergelimang petro dolar bercirikan Islam itu terpecah belah akibat pertikaian politik, padahal soliditas mereka diperlukan untuk memberikan andil bagi penyelesaian berbagai persoalan global.

Hubungan Qatar, negara di kawasan Teluk berpenduduk sekitar 2,26 juta jiwa dengan pendapatan per kapita 69.800 dolar AS (2016) dengan ketiga negara Arab itu sudah renggang sejak awal pecahnya Revolusi Arab (Arab Spring) di penghujung 2010.

Qatar mendukung Revolusi Arab dan jaringan kelompok militan Ikhwanul Muslimin (IM), sebaliknya  Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) tidak mendukung Revolusi Arab yang bisa mengancam kelanggengan rezim monarki pemerintah mereka.

Hubungan Qatar dan ketiga negara tersebut, ditambah dengan Mesir semakin memburuk setelah Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamd al Thani seperti dikutip kantor berita Qatar, QNA   (23/5) menyatakan negerinya menjalin hubungan baik dengan Iran dan Israel.

Iran yang beraliran syiah dan Arab Saudi beraliran sunni walau satu front dalam konteks menghadapi Israel, saling bersaing satu dan lainnya untuk memperebutkan hegemoni mereka di Timur Tengah, sedangkan Israel adalah musuh bersama negara-negara Arab.

Pemutusan hubungan diplomatik terhadap Qatar adalah peristiwa terburuk pasca terbentuknya Liga Arab pada 1945 dan Dewan Kerjasama Teluk (GCC) pada 1981 walau Mesir juga pernah “putus kongsi”, dikucilkan oleh negara-negara Arab pasca kesepakatan damai di Camp David, AS antara Mesir – Israel pada 1979.

Bedanya, negara-negara Arab saat itu tetap membuka hubungan udara, laut dan darat dari dan ke wilayah Mesir, sedangkan dengan Qatar, ketiga moda transportasi dari dan ke teritorial negara-negara Arab ditutup.

Diikuti yang lain

Selain ketiga negara, Libya, Mesir, Yaman dan negara lain di luar kawasan, Maladewa, negara pulau-pulau atoll di Samudra Hindia juga ikut memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar.

Ketujuh negara melarang warganya mengunjungi Qatar dan sebaliknya meminta warga  Qatar meninggalkan negara-negara tersebut dalam waktu 14 hari.

Arab Saudi tanpa tedeng aling-aling bahkan menuduh Qatar menyembunyikan anggota kelompok teroris dan sektarian seperti IM, Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) serta Al Qaeda.

Langkah bersama yang diambil, menurut penguasa Riyadh, adalah konsekuensi yang harus dituai Qatar, sebaliknya Qatar membantah telah membantu kegiatan kelompok ekstrim serta menilai sanksi yang dikenakan terhadapnya tidak berdasar dan keliru.

Perusahaan penerbangan Qatar Airways paling terkena dampak pemutusan hubungan diplomatik, karena ke dan dari Arab Saudi saja maskapai itu menerbangi sembilan kota.

Bandar udara Doha di Qatar bersama dengan Dubai dan Abu Dhabi (UEA) sejauh ini juga cukup penting keberadaannya sebagai “hub” atau penghubung bagi penerbangan dari dan ke benua Eropa, Australia dan Asia.

Selain itu, perekonomian Qatar diperkirakan akan mengalami masa-masa sulit akibat pemutusan hubungan terutama untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan yang sebagian besar dipasok dari Arab Saudi melalui jalan darat.

Qatar menampik semua tuduhan terkait dukungan negara itu  terhadap kelompok ekstrim yang dilindungi Iran dan akan meminta bantuan Kuwait untuk memediasi upaya penyelesaian krisis diplomatik tersebut.

Jika kemelut diplomatik antara sesama negara Arab di kawasan Teluk tidak segera berakhir, yang paling diuntungkan tentu musuh-musuh Islam.

 

 

 

Advertisement