
TNI mengubah penamaan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Kelompok Separatis Teroris (KST) menjadi Organisasi Papua Merdeka (OPM) dengan alasan, sesuai status mereka sebagai kelompok kombatan.
Keputusan ini tertuang dalam Surat Telegram (ST) Panglima TNI yang ditandatangani oleh Asintel Panglima TNI, Mayjen TNI Djaka Budi Utama ditujukan pada Pangdam XVII/ Cenderawasih dan Pangdam XVIII/Kasuari No.STR/41/2024 tanggal 5 April 2024.
Disebutkan dalam ST itu, penamaan  OPM bagi kelompok kriminal di Papua di bawah nama Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TNPB) mulai berlaku saat ini hingga waktu yang tak ditentukan.
Kelompok tersebut melakukan berbagai aksi teror berupa penyerangan terhadap pos-pos TNI dan Polri, juga warga sipil seperti guru, nakes dan pekerja konstruksi di Papua. Pada 2023 saja tercatat 23 prajurit TNI dan Polri yang gugur, dan enam sampai Maret 2024.
Sebenarnya, jumlah anggota OPM Â diperkirakan hanya sekitar 60 sampai 70 orang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil dan tersebar di berbagai lokasi di Papua, namun nyatanya mereka sulit ditaklukkan karena terlindung dengan baik di hutan belantara Papua.
OPM didirikan pada 26 Juli 1965 oleh mantan anggota sukarelawan Papua pro-Belanda (Papua Vrijwiliegers Korps/PVK) Sersan Mayor Permanes Ferry Awom, sedangkan masyarakat mengenal OPM sebagai kelompok separatis NKRI di Papua.
KKB Papua sebagai kelompok teroris telah banyak merugikan masyarakat dengan berbagai tindakannya, seperti melakukan pembunuhan dan merusak fasilitas publik termasuk menyandera pilot Susi Air Philip Mark Mehrtens sejak sepuluh bulan lalu.
Tiga kelompok
Laporan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) yang diterbitkan 24 Agustus 2015 menyebutkan, OPM terdiri dari tiga elemen faksi yang saling bersaing, Â salah satunya, kelompok bersenjata dengan kontrol teritori berbeda yaitu Timika, dataran tinggi dan pantai utara.
Sebagian besar OPM bersenjata dan bermarkas di Papua dan beberapa di antaranya tinggal di pedalaman dan di perbatasan Papua Nugini.
Awalnya ada tiga sayap militer OPM yaitu Goliath Tabuni, Puron Wenda, dan Richard Hans Yoweni. Goliath Tabuni berbasis di Tingginambut, Kab. Puncak Jaya yang dianggap sebagai komando sayap militer OPM terkuat dengan teritorial terluas meliputi Puncak, Paniai dan Mimika, sedangkan Puron Wenda berbasis di Lanny Jaya.
Alasan di balik penamaan kembali OPM, pengubahan dari sebutan status KKB yang disematkan TNI pada 29 April 2021 agaknya tidak bisa sepenuhnya dipahami awam, kemungkinan berkaitan dengan hukum perang sesuai Konvensi Jenewa 1949.
Yang terpenting agar keselamatan prajurit TNI/Polri, PNS dan pekerja lainya serta warga sipil dari ancaman penembakan oleh apa pun namanya, KKB atau OPM, lebih baik lagi.
Last but not least, agar aksi-aksi teror yang dilakukan oleh KKB atau OPM segera bisa diakhiri.




