
KOTA pelabuhan, Aden akhirnya jatuh ke tangan milisi Dewan Transisi Selatan (STC) dukungan Uni Emirat Arab (UEA), sehingga lawannya, rezim loyalis Arab Saudi di bawah Presiden Abdurrabuh Mansour Hadi tersingkir.
Secara de facto peristiwa tersebut juga menandai “pecah kongsi” koalisi antara UEA dan Saudi yang dibentuk pada 2015 guna mendukung rezim petahana pimpinan Presiden Mansour Hadi untuk memerangi kelompok milisi Houthi dukungan Iran yang menguasai wilayah selatan Yaman.
Keretakan antara UEA dan Saudi mulai terendus saat UEA menarik pasukan koalisinya bersama Saudi di Yaman Juni lalu, kemudian “PDKT” antara Panglima Pengawal Pantai UEA Brigjen Moh. Ali Mesbah dan Komandan Pasukan Perbatasan Iran Brigjen Qassem Rezaei di Teheran (13/8), padahal sebelumnya UEA dan Iran berseberangan di tengah konflik Yaman. Iran di belakang milisi Houthi, UEA bersama Saudi mendukung rezim Mansour Hadi.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Mansour Hadi secara “de facto” juga tidak memiliki pijakan lagi setelah tergusur pasukan STC dari Aden yang dipertahankan pasca kekuasaannya dijatuhkan oleh milisi Houthi dan kemudian melarikan diri ke Saudi pada 2014.
Ironisnya, Mansour Hadi justru ditumbangkan oleh STC, yang pembentukannya disponsori UEA pada 2017 bertujuan mengembalikan kekuasaannya yang diambil alih milisi Houthi.
Perpecahan antara STC dan Mansour Hadi konon terkait kemitraan Hadi dengan kelompok Partai Islah, afiliasi Ikhwanul Muslimin yang dianggap teroris dan dilarang oleh rezim pemerintah UEA.
Yang juga sulit dipahami oleh pengamat, Arab Saudi dengan kemampuan militer dan petro dollarnya yang tanpa UEA pun agaknya mampu memenangkan kubu yang didukungnya (rezim Mansour Hadi), namun berpangku tangan saja menyaksikan Aden jatuh ke tangan STC.
Walau pun tidak pernah terlibat pertempuran besar di Timur Tengah, termasuk melawan Israel, Arab Saudi menumpuk peralatan militer secara besar-besaran beberapa tahun terakhir ini.
Bahkan belanja militer Saudi tahun lalu mengejutkan, yakni 69,4 milyar dollar (sekitar Rp971,6 triliun) atau ke-3 terbesar di dunia, menyalip posisi Rusia (66,3 milyar dollar atau sekitar Rp 928,2 triliun). AS dengan belanja militer 610 milyar dollar (sekitar Rp8.540 triliun) menempati rangking ke-1.
Walau tidak memiliki senjata pemusnah massal, Saudi menduduki ranking ke-9 kekuatan militer dunia. Dengan 259 ribu personil, AB Saudi didukung peralatan canggih dari AS seperti 790 pesawat-pesawat tempur antara lain F-15 Eagle seri terbaru, 1.100 tank antara lain M-1 Abrams, ratusan artileri seperti Paladin M-109 dan heli serang Apache.
Jadi, tidak berlebihan penilaian Menpen Yaman Moamar al-Eryani yang menyebutkan, tidak adanya perlawanan pasukan Saudi untuk mempertahankan Aden otomatis mengakhiri kekuatan koalisi negara itu bersama Saudi di Yaman.
Penasehat Presiden Hadi, Abdul Malik AL-Mekhlavi menilai, rakyat Yaman sudah kehilangan kepercayaan terhadap Saudi, walau ada analis militer yang menduga, Saudi sengaja melepas Aden agar Yaman terpecah dua, antara bagian utara yang dikuasai Houthi dan selatan oleh STC yang didukung UEA.
Jatuhnya Aden ke tangan STC sekaligus juga mengakihiri misi DK PBB No. 2216 di bawah Marthin Grifiths karena tugasnya adalah menjaga persatuan negeri itu, sedangkan saat ini secara de facto terbagi dua, wlayah selatan yang dikuasai Houthi dan utara dikontrol STC.
Dari segi geopolitik, tentu saja direbutnya Aden oleh milisi Houthi adalah kemenangan bagi Iran yang mendukungnya dan juga dalam konteks perebutan pengaruh kawasan dengan Saudi.
Yang mengenaskan, Konflik Yaman telah merenggut lebih 10 ribu nyawa dan menyebabkan lebih sepertiga dari 29 juta rakyat Yaman terancam kelaparan. (AP/AFP/ns)




