Kolaborasi Global untuk Temukan Vaksin Corona

Ilustrasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan kemitraan global untuk menemukan vaksin SARS CoV-2 penyebab Covid-19 yang menjadi milik warga dunia.

KERJASAMA global perlu didorong untuk menemukan vaksin guna melawan virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, karena jika dilakukan sendiri-sendiri, menguras dana, waktu dan energi sangat besar.

Upaya menggandeng pihak asing tercermin dari lawatan Menlu RI Retno Marsudi dan Menteri BUMN Erick Thohir ke China, Kamis (20/8), a.l. bertemu dengan pimpinan perusahaan farmasi Sinovac, Sinopharm dan Camsino.

Ketiga perusahaan China itu termasuk dari tujuh perusahaan yang tercatat di Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah melakukan uji klinis tahap ketiga bakal vaksin SARS-CoV-2, sedangkan Sinovac bekerjasama dengan PT Biofarma, Bandung yang diharapkan sudah mampu memproduksi vaksin pertengahan 2021.

Vaksin yang diproduksi diharapkan sudah bisa digunakan untuk program imunisasi massal di Indonesia pada 2021 dan selain itu, Sinovac juga akan melakukan alih teknologi pengembangannya pada Biofarma.

Indonesia sendiri, saat ini juga terus berupaya mengembangkan sendiri vaksin SARS-CoV-2 misalnya seperti yang dilakukan oleh Lembaga Eijkman dan sejumlah perguruan tinggi.

Persaingan, siapa yang paling duluan menemukan vaksin SARS-CoV-2 juga tak terhindarkan, karena tentu juga menyangkut reputasi suatu perusahaan atau negara untuk menghasilkan produk yang dinanti-nanti umat manusia itu.

Rusia misalnya, mengklaim sudah mampu memproduksi vaksin yang dinamai Sputnik V untuk melawan Covid-19 walau diragukan oleh WHO, karena proses uji klinisnya dinilai kurang transparan.

Terjunnya sejumlah industri farmasi global terkemuka juga diharapkan akan mampu menekan harga satuan vaksin yang dihasilkan sebagai hasil persaingan terbuka yang menguntungkan konsumen.

Sinovac misalnya, memproyeksian 72,5 dolar AS per dosis, Johnson & Johnson 10 dolar AS, Moderna 37,5 dolar AS, sedangkan Serum Institute India 13 dollar AS. Tawaran terendah disampaikan oleh Oxford University bersama Astrazeneca yakni 4,0 dolar AS.

Kerjasamaa pembuatan vaksin global juga diserukan oleh Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus yang menyebutkan saat ini sudah ada 80 negara yang berkomitmen untuk bergabung.

Vaksin  virus corona, ujarnya, harus tersedia sebagai milik publik global, sehingga harus dipastikan semua orang mendapat akses yang sama atas produk penyelamat nyawa yang sedang dikembangkan itu.

“Seharusnya lebih banyak lagi pemimpin bergabung pada upaya tersebut dan kita perlu memiliki komitmen politik dan konsesnsus global yang serius, bahkan sebelum kita menghasilkan produknya. Itulah yang sedang kami dorong, “ kata Adhanom.

Tawaran juga disampaikan oleh PM Australia Scott Morison yang menyebutkan bahwan negaranya yang sedang melakkan uji klinis  vaksin SARS-CoV-2 akan memberikannya pada negara-negara tetangga yang membutuhkannya termasuk Indonesia.

Sampai (21/8) tercatat 22.866.146 warga di 215 negara positif terpapar Covid-19, sebanyak 797.164 orang meninggal, jumlah korban terbanyak di AS yakni 5.746.534 orang terpapar, 177.426 orang meninggal, disusul Brazil dengan 3.505.097 korban terpapar dan 112.433 orang meninggal.

Covid-19 yang menjadi ancaman global, ada juga hikmahnya, yakni menjadi musuh bersama warga  dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement