JAKARTA, KBKNews.id – Di tengah krisis kemanusiaan yang berkepanjangan dan memprihatinkan di wilayah Palestina, lembaga filantropi Islam, Dompet Dhuafa, menegaskan kembali komitmennya untuk terus membersamai rakyat Palestina.
Dompet Dhuafa memaparkan laporan kinerja penyaluran bantuan serta terobosan strategis jangka panjang untuk pembangunan kembali Gaza.
Hingga awal tahun 2026, tercatat total bantuan yang telah disalurkan oleh lembaga ini menembus angka lebih dari Rp40 miliar. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari amanah publik dan solidaritas masyarakat Indonesia yang tak pernah surut untuk membantu saudara-saudara mereka di Palestina.
Dalam presentasinya, Ketua Yayasa Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini menjelaskan secara rinci mengenai rekapitulasi penyaluran bantuan yang telah dilakukan sejak eskalasi konflik memuncak pada akhir tahun 2023.
“Berikutnya sekilas kami ingin menyampaikan juga program kami di Palestina. Jadi kami sejak 2023 sampai sekarang ini sudah menyalurkan lebih dari 40 miliar bantuan untuk Palestina,” ujar Ahmad Juwaini dalam Indonesia Humanitarian Summit (iHITS) 2026 di Nusantara Ballroom Tower, Jakarta, Kamis (15/1/2026)
Terdapat tren peningkatan donasi yang signifikan dari tahun ke tahun. Pada periode Oktober hingga Desember 2023, bantuan yang tersalurkan mencapai angka sekitar Rp3,8 miliar. Jumlah ini melonjak drastis pada periode Januari hingga Desember 2024 menjadi sekitar Rp17,9 miliar, dan terus bertambah pada periode Januari hingga Desember 2025 dengan angka mencapai Rp18,8 miliar.
Total akumulasi dana sebesar Rp40.623.275.069 ini disalurkan dalam berbagai bentuk program bantuan yang menyasar kebutuhan krusial para penyintas di Gaza dan wilayah sekitarnya. Hal ini menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat (donatur) kepada Dompet Dhuafa sebagai perantara kebaikan.
“Kami lanjutkan misi-misi kita untuk membantu Palestina ini karena ini merupakan concern kita dan juga besarnya donasi yang dititipkan kepada kita,” ujar Ahmad Juwaini, menekankan bahwa besarnya bantuan ini berbanding lurus dengan besarnya harapan publik yang dititipkan melalui lembaga tersebut.
Inovasi Strategis: Gaza Development Fund
Selain bantuan yang bersifat darurat, sorotan utama dalam pemaparan tersebut adalah peluncuran inisiatif strategis jangka panjang yang diberi nama Gaza Development Fund (GDF). Program ini digagas bersama berbagai pihak sebagai respons atas kebutuhan pembangunan kembali Gaza yang hancur akibat konflik.
Gaza Development Fund bukan sekadar penggalangan dana biasa, melainkan sebuah konsep tata kelola dana yang menginisiasi sumber pendanaan berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk memastikan adanya aliran dana yang stabil bagi pembangunan infrastruktur dan pemulihan kehidupan di Gaza dan Palestina secara lebih luas di masa depan.
“Gaza Development Fund adalah suatu konsep bagaimana kita menginisiasi sumber dana untuk pembangunan di Gaza dan Palestina secara lebih luas,” jelas pembicara saat menjelaskan slide struktur dan tata kelola dana tersebut.
Mekanisme Hybrid: Wakaf dan Dana Sosial
Keunikan dari Gaza Development Fund terletak pada struktur pendanaannya yang memadukan dua instrumen keuangan Islam, yaitu Dana Wakaf (Endowment Fund) dan Dana Sosial (Non-Endowment Fund).
- Dana Wakaf (Endowment Fund): Ini adalah instrumen jangka panjang yang sifatnya abadi. Pokok dana wakaf akan diinvestasikan, dan hasil pengembangannya akan digunakan untuk membiayai program-program di Palestina secara terus-menerus.
- Dana Sosial (Non-Endowment Fund): Ini adalah dana sumbangan biasa (seperti zakat, infak, sedekah) yang sifatnya langsung habis digunakan untuk membantu kebutuhan mendesak dan cepat.
Strategi yang diterapkan oleh Dompet Dhuafa adalah menggunakan pendekatan bertahap. Pada fase awal, lembaga akan menggunakan kombinasi kedua sumber dana tersebut. Dana sosial digunakan untuk penanganan cepat (tanggap darurat), sementara dana wakaf mulai dikumpulkan dan dikelola.
“Semakin lama semakin waktu bertambah, sumber dana wakafnya makin besar, maka pada titik tertentu kita mencukupkan dengan dana wakaf yang sudah manfaatnya besar menghasilkan untuk membantu pembangunan di Gaza atau Palestina dan sekitarnya,” papar Ahmad Juwaini.
Visi besarnya adalah kemandirian finansial untuk bantuan Palestina. Di masa depan, ketika aset wakaf sudah berkembang besar, ketergantungan pada penggalangan dana sosial yang bersifat insidental dapat dikurangi. Bantuan untuk pembangunan sekolah, rumah sakit, atau infrastruktur publik di Gaza nantinya dapat dibiayai sepenuhnya dari hasil investasi dana wakaf yang abadi tersebut.
Transparansi dan Dokumentasi Lapangan
Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik, Dompet Dhuafa juga menampilkan dokumentasi visual penyaluran bantuan di lapangan. Dalam slide presentasi, terlihat berbagai foto kegiatan distribusi bantuan yang mencakup berbagai sektor.
Bantuan-bantuan tersebut tidak hanya berupa logistik pangan, tetapi juga mencakup aspek kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya. Dokumentasi memperlihatkan operasional ambulans, penyediaan tenda darurat, layanan medis, hingga pembagian paket makanan kepada warga yang terdampak.
“Bentuk-bentuk program yang kami lakukan di Palestina… Ya, dalam berbagai bentuk bantuan ya,” ujar Ahmad Juwaini.
Transparansi ini menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan donatur, mengingat penyaluran bantuan ke wilayah konflik seperti Gaza memiliki tantangan dan kompleksitas tersendiri.
Dompet Dhuafa mengajak seluruh elemen masyarakat dan mitra strategis untuk terus berkolaborasi. Konflik mungkin belum berakhir sepenuhnya, namun persiapan untuk masa depan Palestina yang lebih baik harus dimulai dari sekarang.





