
KEMENANGAN kaum Taliban yang dengan cepat menguasai ibukota Afghanistan, Kabul (15/8) tidak serta merta membuat konflik berdarah di negeri itu yang sudah berlangsung sekitar empat dekade berakhir.
Pasukan Uni Soviet pernah bercokol dari 1979 – 1989 di Afghanistan untuk membantu rezim pemerintah melawan kelompok Mujahiddin, sementara Taliban yang pernah berkuasa dari 1996 sampai 2001 ditumbangkan AS dan kembali mengambil alih kekuasaan, memanfaatkan penarikan mundur pasukan AS.
Dari luar, pengakuan terhadap penguasa baru itu juga masih ditunggu terutama dari negara-negara Barat yang selama ini memberikan kucuran dana dan bantuan besar-besaran bagi pembangunan dan perekonomian Afghanistan.
AS membekukan aset Bank Central Afghanistan senilai Rp 137 triliun, sementara walau agak melunak Uni Eropa (UE) yang beranggotakan 27 negara menekankan, kerjasama hanya dimungkinkan jika rezim Taliban memenuhi sejumlah persyaratan.
“Kerjasama bisa dijalin jika kemelut di Afghanistan bisa diselesaikan secara damai dan inklusif (oleh rezim Taliban-red), penegakan HAM termasuk penghormatan bagi Hak-hak Dasar Perempuan, etnis minoritas dan komitmen melawan terorisme, “ kata Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Josep Borell dalam jumpa pers (20/8).
Sementara PM Kanada Justin Trudeau dengan tegas menyatakan niatnya untuk tidak mengakui rezim Taliban karena dianggap telah mengambil alih kekuasaan melalui kekerasan dari pemerintah sah yang dipilih secara demokratis.
Rusia yang di era Uni Soviet pernah bercokol di Kabul selama 10 tahun (1979 – 1989) kabarnya juga belum menentukan sikapnya dan masih menanti perkembangan terakhir, hanya China yang tampak berambisi mengganti peran AS di Afghanistan.
RI sendiri menurut Dirjen Urusan Asia Pasifik dan Afrika Abdul Kadir Jaelani mengemukakan, sedang menunggu perkembangan terakhir karena situasi tidak menentu dan pemerintahan yang efektif belum terbentuk.
Pimpinan Taliban dan China beberapa waktu lalu menyepakati untuk saling dukung. China berjanji akan menjalin kerjasama, sebaliknya Taliban menyatakan tidak akan ikut campur urusan dalam negeri China terkait muslim minoritas Uighur.
Perlawanan di Dalam Negeri
Di dalam negeri, perlawanan juga belum berhenti, antara lain oleh pasukan khusus Afghanistan (ANA Commando Corps) yang dilatih satuan SAS (Special Air Service, Inggeris) dan saat ini masih menyusun kekuatan dan melakukan konsolidasi di Lembah Pansjir, 128 Km dari Kabul.
Berbagai fraksi di dalam negeri di kalangan internal Taliban sendiri, tentu masig-masing akan meminta jatahnya di pemerintahan yang akan terbentuk nanti, belum lagi kelompok-kelompok lain yang akan terus melakukan perlawanan.
Wapres Amrullah Saleh pasca sepeninggal Presiden Ashraf Ghani yang kabur ke Uni Emirat Arab sebelum Kabul jatuh ke tangan Taliban, dari lokasi yang dirahasiakan juga menyerukan perlawanan terhadap Taliban.
“Dalam situasi apa pun, saya tidak akan tunduk pada Taliban, “ serunya sembari meminta rakyat untuk mengangkat senjata.
Sementara itu, ribuan penduduk masih menanti pesawat yang akan mengevakuasi mereka keluar dari Bandara Kabul, sedangkan ribuan lainnya berkumpul di taman-taman kota, panik di tengah situasi tak menentu.
Selain dari Bandara Kabul, ribuan warga yang trauma pada kebengisan rezim Taliban dan kegelapan saat lima tahun berkuasa di negeri itu berbondong-bodong keluar dari perbatasan darat dengan Pakistan, Tajikistan dan Turkmenistan.
Koordinator Kemanusiaan PBB Ramiz Alakbarov mengingatkan datangnya bencana kelaparan di tengah kekeringan hebat yang melanda negeri itu pada bulan-bulan mendatang dan meminta agar Taliban menjamin kesejahteraan warganya.
Sebaliknya, dilaporkan pihak Taliban menyatakan akan menjamin keamanan badan-badan kemanusiaan PBB yang beroperasi di negaranya.
Di dalam negeri, Taliban juga menyerukan rekonsiliasi dan amnesti umum serta meminta warga yang pernah bekerja dengan tentara asing atau pada rezim sebelumnya tidak perlu khawatir, walau tetap saja sebagian besar dari mereka tidak bisa begitu saja mempercayainya.
Kebrutalan Taliban saat memimpin, membantai musuh-musuh yang berseberangan, melarang perempuan keluar rumah sendiri atau anak perempuan bersekolah, warga tidak boleh menonton film dan pembatasan lainnya agaknya masih menghantui masyarakat.
Taliban sukses mengambil alih Kabul dan merebut kekuasaan di Afghanistan secara kilat, namun hari hari berikutnya, konflik dan kegelapan agaknya masih bakal menghantui negeri ini. (AFP/Reuters/ns)




