
ESKALASI potensi konflik antara dua negara adidaya, Amerika Serikat dan China tak terhindarkan dengan rencana negeri Paman Sam itu menempatkan enam pengebom B-52 Stratofortress di Australia.
Jubir Kemlu China Zhao Lijian pun meresponsnya dengan menyebutkan, perilaku AS tersebut memicu peningkatan ketegangan dan merusak perdamaian dan stabilitas serta memicu perlombaan persenjataan di kawasan (Asia Pasifik-red).
“Kerjasama pertahanan atau keamanan antarnegara tidak boleh menempatkan pihak ketiga sebagai target atau merugikan kepentingannya, “ ujar Lijian.
Tentu saja Penempatan enam unit bomber B-52 Stratofortress bermesin delapan turbojet dengan kecepatan subsonik berdaya jelajah 8.800 mil yang mampu menggembol 31 ton aneka persenjataan termasuk hulu ledak nuklir menjadi ancaman bagi China.
Sekitar 700-an B-52 berbagai varian (B sampai H) telah diproduksi dan dioperasikan sejak awal era Perang dingin pada 1955 lalu dan terus dimodifikasi dan dimodernisasikan, baik mesin, peralatan navigasi, komunikasi, sistem pegindetntifikasi lawan atau kawan dan rudal serta persenjataannya.
Dibandrol dari 14,4 juta sampai 57,8 juta dollar AS (sekitar Rp 2,23 sampai Rp12,8,triliun per unit tergantung asesorisnya dan seri terakhir (H) mampu menggembol 20 rudal nuklir SRAM-AGM-69 dan 17 rudal jelajah Tomahawk AM-109.
TV Australia (ABC) dalam program siaran dokumentasinya menyebutkan, pangkalan Tindal yang berlokasi sekitar 300 Km dari kota Darwin, Australia utara akan diperluas dan ditingkatkan kapasitasnya dengan biaya 100juta dollar AS untuk menampung B-52 tersebut.
Tentu saja penempatan keenam bomber B-52 tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi tekad China untuk merebut kembali Taiwan yang tiap kali dilontarkan oleh para pemimpin negara tirai bambu itu.
“Dengan pengebom yang mampu menjangkau serangan ke daratan China bisa menjadi signal bagi China bahwa aksinya terhadap Taiwan bakal menerima konsekuensi lebih jauh, “ ungkap Becca Wasser dari Center for American Security.
Aussie Sekutu AS
Sementara peneliti senior dan aktivis antinuklir Richard Tanter mengemukakan, kesediaan Australia menerima penempatan B-52 di tengah konflik AS dan China menunjukkan kesediaan negeri kanguru itu bersekutu dengan AS.
“Ini peringatan bagi China, kami (Australia) siap menjadi ujung ombak AS, “ ujarnya.
Sedangkan Sekretaris Dep. Hubungan Int’l Universitas Indonesia Yeremia Lalisang berpendapat, ada beberapa faktor yang mendorong China saat ini untuk menahan diri konflik militer dengan AS.
Pertama, peralihan kepemimpinan China pasca Kongres Partai Komunis China (PKC) belum rampung, kemampuan (secara teknologi-red) masih di bawah AS walau terus dimodernisasikan dan ketiga, ekonomi China makin tergantung kondisi global.
Dari sisi anggaran militer, AS tertinggi dengan 738 miliar dollar AS (sekiatar Rp 10,61 kuadriliun disusul China pada ranking ke-2 dengan 193,3 miliar (Rp2.780 triliun).
Dari jumlah personil dan armada laut, Pasukan Pembebasan China (CLA) jauh lebih besar, misalnya armada lautnya dengan 700 kapal perang dibandingkan AS sekitar 300-an, namun teknologinya diperkirakan masih dibawah AS
Perseteruan AS dan China mau tidak mau memicu kembali perlombaan persenjataan seperti terjadi di era Perang Dingin lalu.
(AFP/Reuters/ns).




