
ENTAH bagaimana isi hati nurani pemimpin atau komandan pihak-pihak yang bertikai di Suriah yang tega memerintahkan anak buahnya untuk membomi warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak dengan senjata kimia atau gas beracun.
Berdasarkan laporan Lembaga Pemantau Hak Azasi Manusia di Suriah (SOHR), paling tidak 70 korban tewas, 20 diantaranya anak-anak dan 17 lainnya perempuan akibat serangan gas syaraf di kota Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib, Suriah barat laut, Rabu (5/4).
Khan Sheikhoun adalah kota strategis yang diperebutkan oleh pihak-pihak yang bertikai karena lokasinya terletak di titik pertemuan tiga provinsi yakni Idlib, Aleppo dan Hama serta dekat dengan akses jalan raya menuju ibukota Suriah, Damaskus.
Seperti yang sudah-sudah, kedua belah pihak yang bertikai, dari kubu pasukan pemerintah rezim Bashar al-Assad dan pendukungnya termasuk Rusia dan kelompok perlawanan saling tuding mengenai siapa pelakunya.
Kubu perlawanan dan sejumlah aktivis menuding pasukan Suriah selama ini sudah biasa menggunakan roket atau artileri berisi zat kimia berupa gas klorin untuk membantai ribuan warga sipil.
Korban yang berjatuhan kali ini, menurut keterangan dokter, juga dindikasikan telah terpapar gas saraf, karena sebelum meregang nyawa dalam waktu singkat, mengalami kejang-kejang, pupil mata mengecil, mulut berbusa dan fisik melemah.
Penyidik PBB sebelumnya juga pernah menyimpulkan, AU Suriah melancarkan serangan rudal memuat gas sarin ke kawasan permukiman di Ghouta Timur , dekat Damaskus pada malam hari 21 Agustus 2013 lalu sehingga mengakibatkan sekitar 1.400 lebih warga sipil yang sedang terlelap menemui ajalnya.
Selama ini, hanya pasukan rezim pemerintah yang diketahui memiliki stok gas sarin dan chlorin di antara pihak bertikai di Suriah, walaupun negara itu ikut menandatangani Konvensi Senjata Kimia PBB mengenai larangan memproduksi, memiliki dan mengunakan senjata kimia.
Organisasi yang mengawasi implementasi larangan penggunaan senjata kimia juga menyaakan sudah menyita seluruh stok senjata kimia yang dimiliki Suriah, namun kelompok perlawanan menduga, masih ada sebagian yang disembunyikan.
Pendukung setia rezim al-Asshad, pemerintah Rusia balik menuding bahwa senjata kimia atau gas beracun adalah milik lelompok perlawanan dari fraksi Fath al-Sam. Depot penyimpanan senjata pembunuh massal itu meledak saat terkena serangan rudal pesawat-pesawat tempur AU Suriah.
Kecaman PBB
PBB mengecam kejahatan perang dan pelanggaran hukum kemanusiaan international yang sedang berlangsung di Suriah, dan Uni Eropa (UE) menganggap, al-Assad adalah pihak paling bertanggungjawab atas tragedi kemanusiaan ini, sedangkan Inggeris menilai, serangan zat kimia biasa dilakukan oleh rezim Suriah.
DK PBB dilaporkan sedang menyusun draft resolusi kecaman atas penggunaan senjata kimia di Suriah, sedangkan PBB dan UE akan merembugkan langkah-langkah pemberian akses bagi bantuan kemanusiaan.
Kecaman juga muncul dari Paus Fransiscus yang menyebutkan, penggunaan senjata kimia yang telah merenggut puluhan nyawa di Suriah adalah aksi kekejaman yang tidak bisa ditolelir.
Sebaliknya Rusia yang memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB selalu berada di belakang sekutunya, rezim al-Assad.
Konflik Suriah selain dipicu persoalan internal antara kubu loyalis al-Assad dan kubu perlawanan yang tergabung dalam tentara Pembebasan Suriah (FSA) , juga akibat akumulasi kepentingan dan perebutan pengaruh negara-negara sekitarnya dan juga “pemain” kelas dunia (AS dan Rusia) serta konspirasi politik sektarian.
Perebutan pengaruh di kawasan terjadi antara Arab Saudi dan Turki di satu pihak dan Iran, Irak dan Kurdi di pihak lain, sementara dari kelompok sektarian terjadi perebutan pengaruh antara paham Syiah dan Sunni.
Dua juta warga Suriah hengkang, menyabung nyawa menyeberangi Laut Mediteranea atau melintasi daratan Turki menuju Eropa, sekitar 12 juta kehilangan nafkah dan 320.000 korban tewas terperangkap di tengah konflik yang berkecamuk sejak sekitar lima tahun lalu.
Sejumlah pertemuan yang diprakasai PBB berujung kegagalan, karena terbentur isu utama yakni pro-kontra megenai kelanjutan pemerintahan petahana pimpinan Bashar al-Assad.
Entah sampai kapan, derita dan nyawa waga sipil Suriah menjadi tumbal permainan kekuasaan elite lokal, regional dan pemain klas dunia. (AP/AFP/Reuters/NS)




