Konflik Yaman Belum Berakhir, Cuma Jeda

Ilustrasi Pasukan pro presiden Yaman Abdurabbuh Mansour Hadi yang tergusur, melontarkan roket anti tank ke arah lawannya, milisi Houthi dukungan Iran di kota pelabuhan al-Hudaidah.

SEBAGIAN penduduk kota pelabuhan al-Hudaidah, Yaman di tepi Laut Merah yang selamat bisa sedikit bernafas lega setelah Uni Arab Emirat (UAE) mematuhi upaya yang dirancang PBB untuk mengupayakan perdamaian di negeri yang tercabik-cabik konflik sejak tiga tahun lalu tersebut.

Sejak beberapa pekan terakhir ini, kota al-Hudaidah yang berpenduduk sekitar 600 ribu orang dibombardir oleh pesawat-pesawat tempur koalisi Arab Saudi dan UAE dalam upaya menyingkirkan milisi Sihite Houthi dukungan Iran yang mempertahankannya.

Konflik Militer yang berkecamuk sejak 2015 antara rezim pemerintah Yaman pimpinan Abdurabbuh Mansour Hadi didukung ARab Saudi dan UAE dan milisi Houthi yang merupakan perpanjangan tangan Iran telah menewaskan sekiar 10 ribu orang, sebagian besar warga sipil yang terperangkap di tengah pertempuran.

Selain persoalan sektarian dan internal, konflik Yaman diperparah akibat perebutan pengaruh di kawasan Timur Tengah antara Arab Saudi dan Iran.

Menlu UAE Anwar Gargash mengaku pihaknya telah menghentikan serangan agar cukup waktu opsi perdamaian yang digagas Utusan PBB Martn Griffiths bisa diwujudkan. Gargahsh menyatakan, jeda serangan telah diberlakukan sejak 23 Juni lalu, dan pasukan pro pemerintah masih menanti hasil kunjungan misi Griffiths ke ibukota Sana’a yang masih dikuasai milisi Houthi.

PBB sendiri menganggap Yaman mengalami krisis kemanusiaan terburuk di dunia di tengah ancaman kelaparan dan penyakit terhadap penduduk di negeri itu.

Akses menuju dan dari pelabuhan al-Hudaidah selain memiliki nilai strategis bagi pihak-pihak yang besengketa, juga penting bagi pasokan bantuan pangan dan obat-obatan dan badan-badan internasional yang berniat menyalurkannya ke Yaman karena 70 persen pintu masuk menggunakan pelabuhan tersebut.

Sebanyak 27 juta penduduk atau 70 persen penduduk Yaman tergantung pada kelancaran pasokan bahan makanan dan obat-obatan dari pelabuhan al-Hudaidah yang selama konflik dikuasai oleh milisi Houthi. Delapan juta penduduk Yaman saat ini terancam kelaparan jika akses pelabuhan al-Hudaidah tidak segera dibuka.

Milisi Houthi yang bercokol sejak awal konflik agaknya enggan melepaskan cengkeramannya di pelabuhan, hanya bersedia berbagi pengendalian atas pelabuhan tersebut, namun ngotot tetap berada di dalam wilayah kota al-Hudaidah.

Selain kota dan pelabuhan al-Hudaidah yang berlokasi di Yaman barat, milisi dukungan Iran itu juga berhasil mendepak pemerintah rezim Hadi dari ibukota Sana’a serta menguasai sebagian wilayah utara negeri itu.

Situasi di medan tempur saat ini menunjukkan bahwa milisi Houthi agaknya keteteran menghadapi Arab Saudi dan UAE yang menyerang dengan pesawat-pesawat tempur canggih sehingga mau tidak mau harus menerima konsesi yang ditawarkan oleh lawan-lawannya.

Setelah berhasil memukul mundur milisi Houthi dari pelabuhan dan Bandar udara di al-Hudaidah, pasukan koalisi Arab dab UAE saat ini sedang bersiap-siap memberikan pukulan terakhir pada posisi-posisi milisi Houthi yang mempertahankannya.

Sejauh ini, sudah puluhan ribu warga sipil al-Hudaidah melarikan diri ke wilayah-wilayah sekitarnya, dan yang dikhawatirkan mereka yang masih tinggal di dalam kota terjebak jika kekuatan koalisi Arab dan UAE jadi menyerbu.

Pimpinan pihak-pihak yang bertikai dituntut untuk lebih mengedepankan keselamatan jutaan rakyat Yaman ketimbang mengumbar nafsu angkara murka demi keuasaan dan perebutan pengaruh diantara mereka. (AFP/ns)

Advertisement