
ANCAMAN milisi Houthi di Yaman untuk menutupĀ Selat Aden dikhawatirkan dapat menyulut eskalasi konflik dan menyeret negara-negara lain yang berkepentingan di salah satu alur penting pasokanĀ minyak global tersebut.
Houthi melakukan hal itu sebagai respons atas blokade pelabuhan Hodeidah di Yaman oleh pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung rezim petahana pimpinan Presiden Abdurrabuh Mansour Hadi.
āJika penjajah (maksudnya Arab Saudi-red) tetap memblokade Hodeidah dan perundingan menemui jalan buntu, kami akan mengambil pilihan strategis termasuk menutup alur pelayaran di Laut Merah, ā kata Ketua Dewan Politik Houthi, Saleh al-Samad, Selasa (9/1).
Laut Merah yang berdekatan dengan pesisir selatan Yaman dan tembus hingga Terusan Suez merupakan salah satu alur penting pengangkutan minyak menuju kawasan Eropa.
Sedangkan Selat bab al-Mandab dengan lebar hanya 20 Km yang berada di titik Ā pertemuan antara Laut Merah dan Teluk Aden di Laut Arab sangat rentan bagi keamanan kapal-kapal tanker yang lalu lalang dari aksi-aksi penyerangan.
Al-Samad tidak merinci lebih jauh pernyataannya yang disampaikan oleh Kantor Berita SABA milik kelompok Houthi yang āde factoā saat ini menguasai lebih separuh wilayah Yaman.
Dalam perang saudara di Yaman, milisi Houthi semula berada di kubu loyalis mantan Presiden Ali Abdullah Saleh yang tewas 4 Desember lalu setelah ia diindikasikan akan membelot,Ā merapat ke kubu Arab Saudi.
Di tubuh Partai Kongres Rakyat Umum (GPC) yang didirikan oleh Abdullah Saleh juga terjadi konflik internal pasca kepergiannya, karena penggantinya, mantan Mentan Sadeq Amei Abou Rass bertekad akan terus melawan intervensi Arab.
Perang saudara di Yaman diwarnai perebutan hegemoni di kawasan Timur Tengah antara Iran yang berada di belakang Houthi dan loyalis Abdullah Saleh melawan koalisi Arab Saudi di kubu Mansour Hadi.
Beberapa kali serangan rudal yang dilancarkan oleh pasukan Houthi ke wilayah Arab Saudi termasuk ke istana Yamama di Riyadh beberapa waktu lalu diduga menggunakan rudal-rudal balistik yang dipasok Iran.
Konflik Yaman yang ditandai dengan keterlibatan Arab Saudi dengan mengerah- kan pesawat-pesawat tempurnya sejak Maret 2015 telah menewaskanĀ 10.000 orang, sebagian besar warga sipil yang terjebak di tengah pertempuran.
Akibat blokade laut, termasuk ke pelabuhan Hodeidah dengan alasan mencegah pasokan senjata bagi Houthi, Ā bantuan kemanusiaan juga ikut terhambat.
Akibatnya, 17 juta dari 27 juta penduduk Yaman rawan pangan, tujuh juta terancam kelaparan dan 900.000 orang terjangkit kolera akibat buruknya sanitasi yang sebagian sarananya luluh-lantak dilanda konflik.
Alih-alih mereda, konflik Yaman yang bermula akibat ego elite di negeri itu, terus meluas ke level perebutan hegemoni kawasan dan nantinya, tidak mustahil pula akan melibatkan pemain dunia seperti AS dan Rusia.
(AFP/Reuters/NS)




