Korban Gempa Cianjur Kembali Berjualan

Pedagang berjualan di kawasan Alun-Alun Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pascagempa. (Foto: ANTARA/Feri Purnama)

CIANJUR – Sejumlah pedagang yang menjadi korban gempa bumi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kembali berjualan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Sebelumnya, mereka terpaksa berhenti berjualan karena harus mengurus rumah yang rusak dan khawatir terjadi gempa susulan.

Kegiatan pedagang sektor usaha makanan maupun bukan makanan sudah terlihat ramai di sejumlah ruas jalan, termasuk di titik keramaian masyarakat, seperti rumah sakit umum, Alun-Alun Cianjur, dan jalan protokol lainnya di Cianjur, Sabtu (3/12/2022).

Salah seorang pedagang ayam goreng di sekitar Masjid Agung Cianjur, Agus Nana (48), mengatakan bahwa gempa yang terjadi Senin (21/11/2022) lalu, menyebabkan rumahnya yang berada di RT01/RW09 Pamoyanan, Desa Pamoyanan, Kecamatan Cianjur Kota, rusak.

“Ya, terdampak gempa, tembok rumah saya kalau didorong sedikit saja bisa roboh,” kata dia.

Sejak kejadian itu, ia mengaku terpaksa tidak berjualan ayam goreng di pinggir jalan sekitar kantor Bupati Cianjur karena harus menjaga anak-anak yang tinggal di tenda pengungsian.

Selama empat hari, ia memutuskan tidak berjualan, melainkan membereskan barang-barang rumah di pengungsian, terutama saat itu tidak mau meninggalkan anak karena masih trauma gempa susulan.

“Empat hari saya tidak berjualan, karena takut kalau meninggalkan anak di rumah, anak saya ada dua. Tidak apa-apa tidak punya penghasilan yang penting nyawa dulu,” katanya.

Agus mengaku empat hari setelah gempa, mulai berani berjualan meskipun masih ada perasaan khawatir, terutama anak-anak yang tinggal di pengungsian.

Beberapa hari berjualan, kata dia, pedagang sudah kembali ramai, begitu juga para pembeli. Ditambah, banyak orang yang berdatangan ke Cianjur untuk memberikan bantuan yang dipusatkan di Pendopo Bupati Cianjur.

“Sekarang sudah mulai ramai normal, pas kejadian di sini sepi, sekarang ramai. Di pasar juga barang tersedia, namun ada barang seperti bawang yang harganya naik,” katanya.

Pedagang di lokasi lainnya juga sudah terlihat ramai, seperti di Jalan BLK Kecamatan Cianjur Kota, pusat pertokoan, dan titik-titik keramaian masyarakat.

Salah seorang pedagang nasi Siti Masitoh (60) mengaku baru bisa berjualan setelah sepekan gempa. Sebelumnya, ia tidak berpikir untuk berjualan karena kondisi rumahnya rusak parah.

“Baru seminggu berjualan, kalau setelah kejadian gempa tidak berjualan karena barang-barang seperti kompor rusak. Untung roda untuk jualan tidak rusak,” katanya.

Siti mengungkapkan, jika berlama-lama di pengungsian, ia tidak mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk itu, ia mengaku memaksakan diri berjualan kembali dengan peralatan seadanya. Di juga harus membeli perabotan baru.

Siti berharap, dengan kembali berjualan, ia bisa tetap berpenghasilan, terutama bisa memperbaiki kembali kondisi rumah dan barang-barang peralatan rumah tangga yang sebelumnya rusak akibat gempa.

“Sambil menunggu bantuan (perbaikan rumah) dari pemerintah, saya berjualan, lumayan,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Cianjur saat ini masih melakukan penanggulangan dampak bencana, terutama mencari 11 orang yang masih hilang tertimbun tanah longsor akibat gempa bumi di Warung Sate Shinta dan Cijedil.

Selain korban yang hilang, tercatat masyarakat yang terdampak yakni 41.196 kepala keluarga atau sekitar 114 ribuan jiwa yang saat ini mengungsi di 494 titik atau 375 terpusat, dan 119 pengungsian mandiri.

Sumber: Antara

Advertisement