Korban Tewas Tragedi Acara Keagamaan di India Bertambah Jadi 116 Orang

Seorang anak laki-laki, yang terluka akibat terinjak-injak di sebuah pertemuan keagamaan, dibawa ke rumah sakit untuk perawatan di distrik Hathras di negara bagian utara Uttar Pradesh, India, 2 Juli 2024. (Foto: ANTARA/REUTERS/Stringer)

NEW DELHI – Jumlah korban tewas akibat insiden terinjak-injak di Negara Bagian Uttar Pradesh, India utara, pada Selasa (2/7/2024), telah meningkat menjadi 116 orang.

Dari jumlah tersebut, 88 jenazah berada di pusat trauma setempat, 27 di Rumah Sakit Etah, dan satu di rumah sakit di Kota Hathras, menurut konfirmasi seorang pejabat pemerintah setempat kepada Xinhua via telepon.

Komisaris Divisi Aligarh, Chaitra V., menyatakan kepada media bahwa jumlah korban tewas telah “meningkat menjadi 107 orang.”

Jumlah korban tewas dikhawatirkan akan terus bertambah karena banyak korban luka yang dirawat di berbagai rumah sakit, dengan beberapa di antaranya berada dalam kondisi kritis.

Menurut laporan awal, hampir 50.000 orang berkumpul dalam acara keagamaan di daerah Sikandra Rao, Hathras. Namun, hanya ada 40 polisi yang ditugaskan untuk mengatur kerumunan besar ini, kata laporan tersebut.

Sebagian besar korban tewas adalah wanita dan anak-anak yang terpeleset di lahan basah dan jatuh ke saluran air di pinggir jalan.

Tragedi ini terjadi setelah upacara, yang berlangsung selama hampir dua jam, selesai dan orang-orang mulai meninggalkan lokasi.

Seorang tokoh agama meninggalkan lokasi, dan orang-orang berlarian ke arahnya untuk menyentuh kakinya dan mendapatkan berkah.

Kekacauan tiba-tiba terjadi ketika orang-orang terpeleset di lahan basah saat berlari, dan mulai menimpa satu sama lain, menurut seorang saksi mata kepada kanal berita Aaj Tak.

Kantor berita Press Trust of India (PTI) mengutip pernyataan seorang saksi mata bernama Shakuntala, yang mengatakan bahwa setelah upacara keagamaan berakhir, orang-orang mulai meninggalkan lokasi.

“Di luar, jalan dibangun di area yang tinggi dengan saluran air di bawahnya. Satu per satu, orang mulai jatuh ke dalamnya. Beberapa orang bahkan tertimpa reruntuhan,” katanya.

Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa “sikap tidak peka” dari pihak pemerintah setempat dan kepolisian, yang tidak memastikan pengaturan yang memadai di lokasi pertemuan keagamaan, telah menyebabkan tragedi tersebut.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here