
MILISI Kurdi menghadapi gempuran serangan udara dan darat pasukan Turki, praktis tanpa dukungan pihak lain, terutama dari Amerika Serikat, mitranya dalam memerangi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) yang sudah ditaklukkan.
Selain “bertemankan bukit-bukit”, sesuai motto perjuangan sayap militer Partai Demokratik Kurdi (YPD) Kurdi yang tergabung dalam Unit Pelindung Rakyat (YPG), cuaca buruk, sementara mampu membuat mereka bertahan.
Ofensif militer besar-besaran dilancarkan Turki ke basis YPG di distrik Afrin, Suriah sejak Jumat lalu (19/1) dengan mengerahkan pesawat-pesawat tempur, ratusan tank dan ribuan pasukan reguler dan juga milisi perlawanan Suriah pro-Ankara (FSA).
Dari sisi perimbangan militer, kekuatan YPG dibandingkan Turki yang anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dengan sekitar setengah juta pasukan, lebih seribu pesawat udara dan lebih 2.000 tank sangat lah “njomplang”.
YPG bakal mengalami kesulitan jika pertempuran berlarut-larut dan AS bergeming untuk tidak terjun membantunya, sementara hujan lebat, angin kencang dan kabut tebal tidak lagi menghalangi Turki melakukan bombardemen dari udara dan pasukan daratnya merangsek ke kantong-kantong perlawanan YPG.
Kepala Utusan Administrasi Demokratik Rojava yang menguasai wilayah Kurdi di Suriah Utara, Sinam Mohammed menyatakan, AS memiliki tanggungjawab moral untuk melindungi demokrasi di kawasan itu.
“Kurdi berkoordinasi dan berjuang bersama AS memerangi NIIS demi (kepentingan-red) seluruh warga dunia. Kini AS berdiam diri. Kami sangat kecewa, “ ujar anggota YPG Omar Mahmoud.
AS sendiri sebelumnya sudah merencanakan penempatan 30.000 anggota pasukannya di wilayah Kurdi guna membantu YPG terhadap kemungkinan bangkitnya kembal NIIS, tapi entah kenapa urung dilakukan.
Wilayah Rojava mencakup Al-Hasakah, Eufrat dan Afrin di utara Suriah yang memiliki otoritas sendiri sejauh ini merupakan kawasan percontohan demokrasi yang menjadi “duri dalam daging” bagi rezim Suriah pimpinan Bashar al-Assad.
Selain di Suriah utara, jutaan etnis Kurdi juga tersebar sebagai warga minoritas di Iran, Irak dan Turki yang juga dibatasi ruang geraknya karena dianggap menjadi ancaman terkait aksi-aksi separatis yang dilancarkan mereka.
Turki sendiri, sebelum operasi Ranting Zaitun yang sedang berlangsung saat ini juga pernah melakukan Operasi Tameng Eufrat tahun lalu dalam upaya melemahkan gerakan YPG di sepanjang perbatasannya dengan Suriah.
Etnis Kurdi di Irak juga mengalami masa-masa sulit di era Presiden Saddam Husein yang beberapa kali menyerang wilayah otonomi mereka termasuk dengan gas beracun dan kehadiran mereka baru diakui saat YPG dan pasukan Irak bahu-membahu memerangi NIIS.
Berbeda dengan isu Palestina yang mendapat perhatian besar dari komunitas dunia, aksi-aksi separatis yang dilancarkan oleh diaspora Kurdi di keempat negara tetangganya sejauh ini belum membuahkan perhatian dan dukungan nyata.
(AFP/Reuters/ns)
R




