Lagi, anggota Polri bunuh diri

Kematian Brig. Rifdhal Ali, di sebuah rumah di Mampang {rapatan IV, Jakpus, masih misteri.

SEORANG anggota Polresta Manado berinisial Brigadir Ridhal Ali ditemukan tewas di depan rumah di Jl. Mampang Prapatan IV No. 20, Tegalparang, Jaksel,  Kamis (25/4) dengan luka tembak di bagian kepala.

Saat ditemukan, jasad Ridhal yang masih terikat sabuk pengaman berada di kursi pengemudi kendaraan Toyota Alphard No. pol. B1544 QH rubuh ke bagian kiri. Didekat jasadnya ditemukan sarung pistol dan pistol HS kal. 9 mm yang diduga digunakan almarhum bunuh diri.

Kepolisian selanjutnya melakukan penyelidikan atas kasus itu, seperti mendalami motif di balik dugaan bunuh diri dengan memeriksa isi ponsel dan meminta keterangan keluarga.

Sementara pemilik rumah, Indra Pratama sendiri mengaku kenal dengan korban saat bertugas ke Manado beberapa tahun lalu dan kedatangan korban hanya selaku teman yang sudah sepekan menginap di rumahnya.

“Memang saya kenal, tetapi tapi tidak ada penugasan apa pun,” kata Indra kepada wartawan, Sabtu (27/4) seraya menambahkan, korban sudah seminggu menginap di rumahnya dalam rangka bersilaturahmi.

Jenasah Ridhal yang dimasukkan ke peti mati berwarna putih telah diserahkan pada pihak keluarga di Gedung instalasi Kedokteran Forensik RS Polri, Jakarta Timur, Sabtu (27/4), lalu diberangkatkan ke kampung halamannya langsung ke Manado.

Pihak kepolisian masih mennginvestigas penyeban kematian Ridhal Ali dengan memeriksa pemilik rumah, keluarga dn saksi-saksi lainnya walua dugaan awal, korban diperkirakan bunuh diri akibat mengalami depresi.

Muncul spekulasi, kematian korban mirip dengan kasus alm. Brigadir Joshue yang ditembak atasannya, Irjen Ferdy Sambo, teremasuk isteri Ridhal, Oshin (37) yang tidak yakin suaminya meninggal akibat bunuh diri dan meminta Polri mengusut tuntas kasus ini.

Menurut catatan, atasan Ridhal Polwan, sedangkan Ridhal berada di Jakarta dalam rangka penugasan lintas instansi  (diperbantukan atau BKO) sejak Oktober lalu walau hal ini dipertanyakan oleh anggota Kompolnas Poenki Indarti.

“Kalau BKO kenapa harus diambil dari Polda Sulut (jaraknya terlalu jauh-red), sejak kapan dan untuk penugasan apa?, “ tanya Poenki seraya menambahkan, hal itu harus diklarifikasi (pada atasan yang berwenang agar jelas). Pertanyaan lain, kenapa almarhum yang seorang anggota Polantas, ada di rumah seorang pengsaha.

Sepanjang 2023 saja tercatat empat orang anggota Polri yang bunuh diri yakni Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Timur AKBP Buddy Alfrits yag tewas tersambar KA (diduga bunuh diri) dan tiga anggota Polri lainya berpangat bintara.

“Motif bunuh diri bermacam-macam, ada yang khawatir karena tersangkut kasus pidana, ada yang depresi karena masalah pribadi, ada yang bunuh diri karena faktor ekonomi, dan lain-lain, “ ujar Poenki.

Polri harus transparan mengungkap kasus-kasus bunuh diri anggotanya, karena bisa saja akibat atasan sewenang-wenang, kasusnya takut terbongkar (narkoba, perjudian, bakcing-membacking) dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya).

Rakyat ingin Polri yang bersih, adil, berwibawa dan dicintai!

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here