
PARA petinggi kelompok garis keras, Hamas dan kelompok moderat Fatah sedang berada di Beijing, China untuk membahas upaya rekonsiliasi dan pembentukan pemerintah persatuan Palestina.
Di pihak lain, secercah asa menuju perdamaian di Gaza muncul setelah Anggota Biro Politik Hamas, Khalil al-Hayya mengaku telah menerima tanggapan dari Israel terkait proposal damai yang dikirimkan pihaknya melalui Mesir dan Qatar, 13 April lalu.
Dalam pernyataan yang disampaikan sebelumnya, al-Hayya menyebutkan, pihaknya siap untuk meletakkan senjata dan menerima kemerdekaan Palestina sesuai dengan luas wilayah yang ditetapkan pada 1967 atau secara tersirat juga mengakui Israel.
Hamas yang berhaluan Islam fundamentalis dan Fatah yang menganut nasionalis sekuler berbeda visi dan puncaknya terjadi saat Hamas menang pemilu legislatif pada 2006 yang membagi wilayah kekuasaan. Hamas berkuasa di Tepi Barat sedangkan Fatah di bawah otoritas Palestina berada di Gaza.
Dalam perang yang terjadi sejak serangan Hamas ke wilayah Israel selatan 7 Oktober tahun lalu dan dibalas secara brutal oleh Israel sehari kemudian sampai hari ini, Fatah dalam posisi dilematis.Wilayah kedudukan dan warganya di Gaza dibumihanguskan Israel akibat aksi Hamas.
Kebuntuan isu Palestina terjadi, karena Israel yang merdeka pada 1948 dan selalu memang dalam tiga kali perang besar melawan negara-negara Arab, mencaplok sebagian wilayah Arab dan mandat wilayah yang diberikan pada Palestina saat itu.
Seruan stop perang
Sementara seruan terkait penghentian perang antara Hamas dan Israel di Gaza yang sampai hari ini telah menewaskan 34.000 orang dan melukai 70-an ribu lebih warga Palestina bermunculan dari berbagai penjuru dunia.
Dari Sydney dan Melbourne, Australia sejumlah universitas mendirikan tenda solidaritas untuk menyerukan penghentian perang di Gaza.
Salah seorang pengunjuk rasa, Yasmine Johnson mendesak agar pengelola perguruan tinggi berhenti menginvestasikan dana abadi ke Israel yang dijadikan salah satu modal bagi negara Yahudi itu menyerang Gaza dan Tepi Barat, Palestina.
Sementara massa di Istanbul, Turki, terang-terang menunjukkan keberpihakannya pada warga Gaza dan mendesak penghentian aksi genosida tak kunjung henti yang dilancarkan Israel sejak 8 Okt. lalu.
Di Paris, para pengunjuk rasa mendirikan tenda-tenda di lapangan utama di Universitas elite Science Po sejak beberapa hari terakhir ini dan menuntut divestasi dana kampus dari Israel dan segenap civitas academica sepakat melanjutkan isu divestasi secara akademis.
Mereka juga sepakat membatalkan segenap rencana sanksi atau sanksi yang dijatuhkan terhadap para pengunjuk rasa melalui pernyataan tertulis yang disampaikan Rektor Science Po Jean Basseres.
Setelah pernyataan Basseres, pengunjuk rasa beragsur-angsur membubarkan diri, sementara unjuk rasa di sejumlah kampus di Perancis terus berlangsung.
Para mahasiswa di sejumlah perguuan tinggi juga tidak ketinggalan berunjuk rasa, memprotes dukungan penuh pemerintah pada Israel yang dianggap menjadi salah satu penyebab perang terus berlangsung.
Berbeda dengan AS yang dalam berbagai hal berada di belakang Israel, mahasiswa George Washington University (GWU) yang berunjuk rasa diancam oleh rektor dan dekan bakal dibatalkan sejumlah mata kuliahnya, bahkan diancam akan dikeluarkan.
Akibatnya, ada sejumlah mahasiswa pengunuk rasa yang ciut nyalinya, tapi sebagian melanjutkan aksinya menuntut divestasi dana investasi kampus dari lembaga0lembaga di Isarel.
Sedangkan Senat Columbia University meminta keterangan Rektor yang mendatangkan polisi untuk membubarkan pendemo dan hal sama juga terjadi di kampus University of Colorado di mana polisi menangkapi sejumlah aktivis mahasiswa yang menuntut divestiasi dari lembaga-lembaga Israel.
Perang yang berlangsung sudah 74 tahun antara negara-negara Arab dan Israel terkait isu Palestina ternyata tidak menghasilkan apa-apa selain kerugian harta-benda dan ratusan ribu nyawan manusia.
Solusi “dua negara” yakni Israel dan Palestina yang berdampingan secara harmonis, jika berhasil diwujudkan, tentu akan berkontribusi besar bagi perdamaian di kawasan dan juga dunia. (AFP/AP/Reuters/ns)




