Lagi Dipamerkan, Jet Tempur India Jatuh

Pesawat tempur ringan buatan India Tejas yang sedang dipamerkan di Dubai AIrshow jatuh pada 21 Nov lalu sehingga menghambat upaya pemasarannya (foto: HAL)

INDIA benar-benar lagi mengalami nahas, jet tempur Tejas yang digadang-gadang untuk dipasarkan di Dubai Airshow, jatuh di hadapan para calon pembeli, Jumat lalu (21/11).

Peristiwa tragis yang menewaskan pilotnya,  Namansh Syal itu tentu bakal membebani upaya India mengekspor  Tejas, sehingga membuat pesawat ini bergantung pada pesanan domestik.

Belum diketahui penyebab kecelakaan itu yang terjadi di tengah perebutan pengaruh yang sengit selama pameran, yang juga dihadiri Pakistan — enam bulan setelah kedua negara berhadapan dalam pertempuran udara terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Saat itu, pesawat-pesawat tempur J-10C buatan China yang dioperasikan AU Pakistan menembak jatuh lima pesawat AU India (5/8) lalu terdiri dari dua Rafale (eks-Perancis), satu MiG-29 (eks-Uni Soviet dan  dan dua Sukhoi SU-30 (eks-Rusia).

Sementara mengenai jatuhnya Tejas, para analis meyakini bahwa musibah di tengah sorotan publik ini akan menghantui kampanye ekspor India setelah proses pengembangan jet selama lebih 40 tahun.

Dubai Douglas A Birkey, direktur eksekutif Mitchell Institute for Aerospace Studies yang berbasis di Amerika Serikat, Douglas A Birkey menyebut kecelakaan Tejas di pameran udara internasional adalah sebuah kegagalan besar.

Namun menurut Birkey, Tejas kemungkinan besar akan kembali mendapatkan momentum meski menghadapi publisitas negatif.

Pameran Dirgantara ke-3 terbesar

Adapun Dubai Airshow adalah pameran dirgantara terbesar ketiga di dunia setelah Paris dan Farnborough.

Menurut catatan, kecelakaan di ajang sekelas ini semakin jarang terjadi. Pada 1999, pesawat Rusia Sukhoi Su-30 jatuh saat bermanuver di Paris Airshow, dan MiG-29 Uni Soviet jatuh satu dekade sebelumnya.

Namun kejadian itu tidak menyurutkan animo sejumlah  negara untuk membeli SU-30 termasuk Indonesia.

“Penjualan jet tempur didorong oleh realitas politik tingkat tinggi yang melampaui insiden tunggal,” kata Birkey.

Program pengembangan Tejas oleh India dimulai pada 1980-an sebagai upaya menggantikan jet era Soviet MiG-21, yang baru pensiun, September lalu setelah beberapa kali perpanjangan karena lambatnya pengiriman Tejas oleh Hindustan Aeronautics Ltd (HAL).

HAL saat ini memiliki pesanan 180 unit varian Mk-1A untuk kebutuhan domestik, namun belum dapat memulai pengiriman karena masalah rantai pasokan mesin dari GE Aerospace.

Hapus peluang ekspor

Seorang mantan eksekutif HAL yang baru keluar dari perusahaan menyatakan bahwa kecelakaan di Dubai “menghapus peluang ekspor untuk saat ini.”

Ia menyebut pasar potensial sebelumnya mencakup Asia, Afrika, dan Amerika Latin, serta menyebut pembukaan kantor HAL di Malaysia pada 2023 sebagai bagian strategi.

“Fokus beberapa tahun ke depan berupa peningkatan produksi pesawat untuk kebutuhan domestik,” ujarnya, dengan syarat anonim.

Namun AU India menghadapi kekhawatiran serius terkait penyusutan jumlah skuadron tempurnya, yang kini tinggal 29 dari kebutuhan ideal 42.

Sejumlah jet seperti MiG-29 varian awal, Jaguar Anglo-Prancis, dan Mirage 2000 akan pensiun dalam beberapa tahun mendatang.

“Tejas seharusnya menjadi penggantinya, tapi ia menghadapi masalah produksi,” kata seorang perwira IAF.

Sebagai alternatif, India mempertimbangkan pembelian langsung untuk menutup kekosongan, termasuk kemungkinan tambahan jet Rafale buatan Perancis.

Dua pejabat pertahanan India mengatakan bahwa India tetap berencana menambah sekitar 40 unit Tejas yang sudah beroperasi, sembari menimbang tawaran jet generasi kelima F-35 dari AS dan Su-57 dari Rusia.

India di bawah PM Narendra Modi selama ini menjadi salah satu importir senjata terbesar dunia, sementra Tejas sebagai simbol kemandirian pertahanan.

Menurut Walter Ladwig, peneliti di Royal United Services Institute London, pengembangan Tejas sebelumnya terhambat oleh sanksi pasca-uji coba nuklir India tahun 1998 serta kesulitan dalam pembuatan mesin lokal.

Namun, ia menyebut, nilai jangka panjang Tejas “kemungkinan tidak terletak pada penjualan ekspor, tetapi pada fondasi industri dan teknologi yang dibangunnya untuk program pesawat tempur masa depan India.”

Tejas yang merupakan pesawat tempur ringan (LCA) mulai dikembangkan pada 1980-an oleh HAL untuk menggantikan MiG-21 eks Uni Soviet,

Tejas Mk-1 diawaki satu atau dua untuk latih, panjang 13,20m, lebar sayap 8,20m, berat kosong 6,5 ton, berat maks.13,3 ton, kecepatan Mach 1.8, jangkauan 1.850km dan radius tempur 500km.

Selain kanon 23mm, Tejas dilengkapi 8 rakrak (enam di sayap dan dua di badan) untuk membawa rudal udara ke udara, udara ke permukaan, rudal anti kapal dan aneka bom.(Reuters/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here