LANGKAH kebijakan baru Amerika Serikat yang diberlakukan Presiden Donald Trump tidak saja menuai kegaduhan di dalam negeri, tetapi juga memicu reaksi keras dari dari negara-negara mitra utamannya.
Australia sangat terkejut atas pernyataan Trump yang menilai kesediaan presiden AS sebelumnya, Barack Obama menerima limpahan pengungsi dari Australia sebagai keputusan bodoh.
Trump, seperti dikutip oleh harian the Washington Post menyebutkan kesepakatan yang dibuat Obama dengan PM Ausrtralia Malcom Turnbull sebagai kebijakan terburuk yang pernah dilakukan AS.
Bahkan Trump menuding Turrnbull seolah-olah mencari celah untuk “mengekspor” pembom bunuh diri lainnya seperti yang pernah dilakukan oleh pengebom Boston kelahiran Kirgistan, Dzokhar Tsarnaev. Dalam kesepakatan itu, AS bersedia menerima 1.600 pengungsi yang ditempatkan Australia di kamp-kamp penampungan sementara PNG dan P. Nauru.
Di dalam negeri, Trump mengancam akan menarik dana pemerintah dari University of California (UC) di Barceley akibat aksi unjukrasa mahasiswa untuk menentang kehadiran seorang wartawan senior penebitan lokal pemuja Trump yang dikenal sering melontarkan ujaran kebencian.
Negara Bagian Massachusetts, New York dan Virginia dilaporkan telah memasukkan gugatan terhadap kebijakan larangan masuk bagi tujuh negara dan pengungsi Suriah yang diberlakukan Trump. Di tingkat kota, Los Angeles, New York dan Chicago juga dilaporkan melakukan aksi serupa.
CEO perusahaan minyak Exxon Mobil Rex Tillerson yang diangkat menlu oleh Trump diperkirakan juga akan menghadapi tugas berat membela presidennya mengingat ia harus berhadapan dengan sekitar 1.000 diplomat yang menentang kebijakan Trump mengenai pembatasan imigran dari tujuh negara Islam.
Pengangkatan Tillerson sendiri menuai kontroversi, selain karena dianggap tidak berpengalaman, pimpinan peusahaan minyak ASI yang pernah tinggal di Rusia ini juga dikenal bersimpati terhadap Rusia.
Pengangkatan Tillerson memunculkan spekulasi bahwa Trump sedang memperkuat langkahnya untuk membangun aliansi baru AS dan Rusia yang saling berseteru di era Perang Dingin lalu itu.
Berseberangan
Negara-negara Uni Eropa (UE) juga was-was dan sebagian bahkan mengambil posisi berseberangan terhadap Trump khususnya mengenai kebijakan imigrasi dan pendekatan AS terhadap Rusia dan juga dalam kaitannya dengan keberadaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang dianggap Trump sudah ketinggalan zaman.
Terkait larangan masuk imigran dari tujuh negara Islam ke AS, berarti negara-negara UE juga akan menanggung beban lebih berat, sedangkan sikap agresif Rusia mendukung kelompok separatis Ukraina dan campurtangannya di wilayah Krimea juga menjadi potensi ancaman bagi UE.
Penolakan terhadap kebijakan imigrasi Trump juga diutarakan oleh pimpinan negara-negara mitra utamanya seperti PM Inggeris Theresa May, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Francois Hollande.
Ketiganya, dalam pernyataan senada menyebutkan kebijakan imigrasi Trump melukai azas kemanusiaan dan menganggap demokrasi hanya bisa diterapkan secara efektif jika prinsip-prinsip dasar kemanusiaan ditaati.
Selain akibat kebijakan Trump, UE saat ini juga sedang terancam kredibilitasnya berkaitan dengan rencana keluarnya Inggeris (Brexit) dari keanggotaan komunitas Negara-negara Eropah tersebut.
Dunia sedang menanti sepak terjang Trump selanjutnya. Yang jelas Trump telah sukses membuat gaduh.
Dua raksasa ekonomi Asia – Jepang, mitra utama AS dan Tiongkok yang berambisi menguasai dunia, menyalip AS – juga bersiap diri merespons niat Trump untuk mengenakan bea masuk tinggi bagi produk mereka.
Dunia menanti sepak-terjang Trump selanjutnya. Yang jelas ia telah sukses menciptakan kegaduhan dan musuh-musuh baru. (AP/AFP/Reuters/NS)





