Latihan Otot Bisa Lawan Sel Kanker

Olahraga ringan. (Foto: Freepik)

JAKARTA, KBKNews.id – Seringkali kita melihat barbel di sudut ruangan hanya sebagai pengganjal pintu atau penghuni rak yang berdebu. Padahal latihan otot dengan barbel bisa memperkuat metabolisme hingga melawan kanker ganas.

Bagi para ilmuwan olahraga di German Sports University Cologne, otot adalah entitas yang jauh lebih krusial daripada sekadar penampilan atletis. Otot merupakan sistem organ terbesar dalam tubuh manusia, mencakup 40 hingga 50 persen dari total massa tubuh. Sebagai “mesin” utama, otot tidak hanya memungkinkan kita untuk berlari dan melompat, tetapi juga mengontrol fungsi vital yang sering kita abaikan, seperti bernapas, berkedip, hingga detak jantung yang bekerja tanpa henti selama 24 jam sehari.

Use It or Lose It

Pentingnya menjaga massa otot ditekankan oleh pepatah medis, “Use it or lose it”, gunakan atau kau akan kehilangannya. Melansir dari DW, Jumat (13/2/2026), seiring bertambahnya usia, terutama setelah melewati angka 30, manusia mulai kehilangan sekitar 1 persen massa otot setiap tahunnya jika tidak dilatih.

Proses atrofi ini dapat mengakibatkan hilangnya sepertiga kekuatan otot di akhir hayat. Oleh karena itu, latihan beban bukan sekadar hobi bagi binaragawan, melainkan investasi jangka panjang agar seseorang tetap mampu menaiki tangga tanpa kelelahan ekstrem dan menjaga kemandirian fisik di masa tua.

Jenis-jenis Otot

Secara biologis, sistem otot manusia terbagi menjadi tiga jenis: otot polos yang menggerakkan organ dalam secara tidak sadar, otot jantung yang memiliki daya tahan luar biasa, dan lebih dari 600 otot rangka yang menempel pada tulang melalui tendon.

Interaksi antara otot rangka, seperti otot biseps (agonis) dan triseps (antagonis), diatur oleh sistem saraf melalui impuls listrik dari korteks motorik otak. Semakin banyak kekuatan yang dibutuhkan, semakin cepat dan banyak impuls yang dikirimkan ke sambungan neuromuskular untuk menggerakkan tubuh kita.

Namun, penemuan paling revolusioner dalam dekade terakhir adalah peran otot sebagai kelenjar endokrin. Saat aktif berkontraksi, otot memproduksi dan melepaskan zat pembawa pesan yang disebut miokin. Zat ini berfungsi mirip hormon yang memungkinkan otot “berkomunikasi” dengan organ lain seperti hati, pankreas, otak, hingga jaringan lemak.

Miokin inilah yang menjadi kunci mengapa olahraga dapat memperbaiki suasana hati, meningkatkan konsentrasi, dan secara drastis meningkatkan metabolisme tubuh dalam melawan berbagai penyakit kronis.

Latihan Otot Bantu Lawan Sel Kanker

Salah satu fokus penelitian paling menarik di Cologne adalah bagaimana miokin yang dilepaskan saat berolahraga dapat memengaruhi sel kanker. Prof Wilhelm Bloch, ahli kedokteran olahraga molekuler, menjelaskan bahwa serum darah yang diambil dari pasien tepat setelah mereka berolahraga menunjukkan kemampuan luar biasa ia mampu mengurangi vitalitas, pembelahan, dan migrasi sel tumor.

Temuan ini membuktikan bahwa otot yang aktif bekerja adalah pabrik obat alami tanpa efek samping yang mampu memperlambat perkembangan kanker dalam tubuh.

Dampak nyata dari sains ini dirasakan oleh Elise, seorang wanita berusia 52 tahun yang didiagnosis menderita kanker payudara stadium lanjut dengan metastasis pada tulang belakang. Di tengah keputusasaan karena kategori “tidak dapat disembuhkan,” Elise mengikuti studi latihan beban selama sembilan bulan.

Hasilnya mengejutkan; meski dalam kondisi medis yang berat, latihan beban secara rutin meningkatkan kepercayaan dirinya terhadap tubuhnya sendiri, mengurangi depresi, dan secara signifikan memperbaiki kualitas hidupnya secara emosional maupun fisik.

Kisah inspiratif lainnya datang dari Leonie dan Sophia Thiel. Bagi Leonie, memulai kembali latihan setelah dua tahun vakum memberikan apa yang disebut sebagai “newbie gains”, peningkatan kekuatan yang cepat bukan hanya karena massa otot, tapi karena perbaikan koordinasi sistem saraf. Sementara itu, Sophia Thiel, seorang influencer kebugaran, menekankan bahwa latihan otot membantu wanita mendapatkan kepercayaan diri internal.

Ia mengingatkan bahwa otot adalah musuh alami lemak; ketika massa otot naik, lemak akan berkurang secara relatif, menciptakan harmoni kesehatan yang lebih baik.

Di sisi lain, bagi atlet profesional seperti pelompat jauh Maharani Lozo, otot adalah alat presisi tinggi. Untuk mencapai standar Olimpiade, ia membutuhkan kekuatan otot eksentrik pada betis, paha, dan gluteus yang berfungsi layaknya ketapel untuk mengubah kecepatan menjadi daya angkat.

Cedera serius pada tahun 2017 sempat menghancurkan otot pahanya dalam hitungan minggu, namun melalui rehabilitasi intensif dan prinsip hipertrofi, di mana otot dirusak secara mikro melalui beban lalu diperbaiki oleh protein, ia mampu bangkit kembali menuju panggung dunia.

Latihan otot juga terbukti mampu mengubah komposisi tubuh secara signifikan meskipun angka pada timbangan tetap sama. Dalam sebuah eksperimen selama delapan minggu, seorang peserta berhasil menurunkan persentase lemak sebesar 3 persen dan menambah 2,3 kg otot. Hal ini membuktikan bahwa kualitas tubuh jauh lebih penting daripada sekadar berat badan.

Otot yang lebih padat tidak hanya memperbaiki postur dan aura seseorang, tetapi juga memastikan pembakaran kalori yang lebih efisien bahkan saat tubuh sedang beristirahat.

Kesimpulannya, tidak ada kata terlambat untuk mulai melatih otot. Baik itu untuk mencapai prestasi di Olimpiade, memulihkan diri dari cedera parah, atau sebagai pendamping terapi kanker, kekuatan otot adalah fondasi utama kesehatan manusia.

Dengan hanya menyisihkan dua jam per minggu untuk latihan beban yang terstruktur, seseorang dapat mengaktifkan komunikasi antar-organ melalui miokin dan menjaga “mesin” tubuhnya tetap prima hingga usia senja. Otot bukan sekadar tentang penampilan, ia adalah tentang kehidupan yang lebih berdaya.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here