LIMBUK DADI RATU

Limbuk merayu Harjuna untuk jadi suaminya. Tapi Harjuna tetap ogah!

 WAYANG sekotak paling mujur mungkin hanyalah Raden Harjuna, satria Madukara. Dalam situasi politik seperti apapun selalu eksis dan nyaman. Saat program WUM (Wahyu Untuk si Miskin) diluncurkan Kahyangan, acap kali disabet Harjuna. Lebih-lebih sebagai Satria Lananging Jagad, wayang perempuan cap apapun pastilah mau dikawini Harjuna. Padahal kecuali berwajah tampan, dia sama sekali tak punya kekayaan berarti. Namanya tak pernah masuk majalah Forbes. Rumah pun anya satu, di Madukara. Dulu punya usaha sampingan RM “Madukara” di Gembongan Kartosura (Sala), kini sudah ganti pemilik dan pindah entah ke mana.

Sebagai wayang Satria Lananging Jagad, Harjuna laris manis. Banyak  wayang perempuan ngunggah-unggahi (melamar) ke Madukara. Nggak diberi uang belanja tak masalah, yang penting Harjuna rajin minum Irex dan  Ginseng, sehingga tetap perkasa, rosa-rosa macam Mbah Marijan. Seperti yang terjadi hari itu, seorang raja wanita kirim utusan ke Ngamarta, ingin memboyong Harjuna sebagai suami. Jika mau telah disiapkan rumah di kawasan Pondok Indah. Tapi jika menolak, tau rasa;  negara Ngamarta akan dibumi-hangus,  dikirimi gempa 8,5 SR sehingga dolar menyentuh Rp 15.000.-

“Padahal ratu kami kini sedang Nyapres, dan didukung kaum sarungan dan jubahan. Jika menang, pastilah Raden Harjuna diorbitkan jadi Wapres definitip, tanpa diganti di menit-menit terakhir.” ucap duta dari negeri Timbultaunan.

“Udah menjadi ratu kok masih nyapres. Logikanya bagaimana, gagal paham saya,”  potong Werkudara sudah tidak sabar.

“Ini kan wayang cabe-cabean, Oom….”

Werkudara geleng-geleng kepala, demikian juga Prabu Puntadewa berikut jajarannya. Harjuna sebagai pihak yang berkompeten, juga ogah beristrikan Retna Limbarwati, ratu dari negeri Timbultaunan. Betapapun telah mengirimkan foto diri 10 R lengkap dengan biodatanya sekalian, tatap taka da filling. Soalnua meski wajahynya cantik, tapi bodinya macam gajah bengkak. Kata Harjuna, perempuan model begini pastilah doyan makan, bisa bikin bangkrut.

Karena itulah ancaman ratu Retna Limbarwati disambut dengan gegap gempita. Tumenggung Jayapraceka diseret keluar, ditantang perang. Seperti biasalah,  yang maju Gatutkaca, Antareja dan Setyaki dulu. Harjuna istirahat, makan gudeg di RM Adem Ayem. Jatah main dia nanti tengah malam bersama punakawan Gareng Petruk Cs. Saat kidalang telah mendendangkan suluk sangsaya dalu araras abyor sorot kang lintang kumedhap, Harjuna barulah keluar, dengan wajah ngantuk.

Ternyata di luar dugaan, Tumenggung Jayapraceka memiliki kesaktian luar biasa. Gerakannya lincah sekali,  macam Mbah Maridjan habis minum Ekstra Joss. Gatutkaca, Antareja lan Setyaki terlempar dari pertempuran. Harjuna yang kala itu tengah menikmati gudeg dengan sambel kreceknya, langsung  dicomot Jayapraceka, dipaksa naik taksi, padahal belum sempat bayar apa yang dimakan.

“Jangan main culik begitu dong! Tunggu selesai saya makan dan bayar, kenapa?”  Harjuna protes.

“Payah! Satriya lananging jagad kok nggak punya kartu kredit. Apa kata dunia?”

Singkat cerita, Harjuna telah berhasil dipersembahkan kepada ratu Retna Limbarwati. Ternyata betul, pimpinan kerajaan Timbultaunan tersebut memang berwajah jelita, tapi sayang terhenti sampai muka doang! Bodi gembrot ebrat-ebrot bagaikan reseg kurungan jago. Seumpama artis begitu, itu kolaborasi Heppy Salma dengan Prety Asmara sebelum masuk penjara. Muka Heppy, bodi Prety. Manakala sang ratu tengah duduk di kursi singgasana, selalu ditopang dongkrak mobil, lantaran keberatan pantat!

Beda lagi dengan kipatih,  tubuhnya kurus kering, meruncing bagaikan biting (lidi).  Tangan dan kakakinya pakai besi 6 mm, sehingga mirik burung blekok. Namun demikian gerakannya tetap lincah, sehingga patih Timbultaunan yang juga berjenis kelamin wanita tersebut bernamakan Trincingwati. Anehnya, semenjak menjadi patih Trincingwati kerjanya meninjau pasar-pasar, blusukan mencari simpati. Padahal bagi kalangan orang gila, mana kala sudah kelayaban ke pasar-pasar itu pertanda penyakit makin kronis susah diobati.

Kenapa para pejabat negara Timbultaunan mayoritas wanita? Itu katanya karena menganut asas keterwakilan 30 persen, demi persamaan gender. Maka karena masih kekurangan SDW (Sumber Daya Wayang) perempuan,  babu-babu dan dukun bayi di Timbultaunan juga dipromosikan jadi anggota DPR. Di masa  reses, program tribakti DPR Timbultaunan adalah: arisan, petan (cari kutu) dan  nyatur (bergunjing)!

“Harjuna, kamu tetap ogah jadi suamiku?” Ratu Retna Limbarwati naik pitam.

“Nggak sudi, habisnya kamu kegemukan kayak  kuda nil. Kurangi dulu dong dagingmu,  mestinya buat Idul Kurban kemarin,” ujar Harjuna menghina sekali.

Ratu Retna Limbarwati memang luar biasa.  Tidak micara (pinter omong), tapi gampang tersinggung. Manakala tengah benci pada  musuh politiknya, dipamerkan secara frontal, meski ketemu dalam sebuah pertemuan ogah bersalaman. Asal diwawancarai TV, omongan Retna Limbarwati muter-muter nggak keruan. Anehnya, dia sangat dihormati oleh para pejabat Timbultaunan yang rata-rata bergelar profesor lan doktor. Kenapa mereka takluk terhadap si mudha punggung (anak mnuda bodo), karena meyakini bahwa ratu Retna Limbarwati masih trah langsung Sanghyang Wenang.

“Biar bodo Ratu Retna Limbarwati, tapi ngrejekeni buat kita. Ya sudah, kita yesmen sajalah….,” kata pejabat tinggi Timbultaunan yang tak mau disebut namanya.

“Tetapi sikap kita jadinya harus selalu bertentangan dengan hati nurani,” ujar Tumenggung Joglempo.

“Makan tuh hati nurani,” tambah pejabat yang omongannya selalu minta di-off the record tersebut.

Bila demikian halnya, apakah Limbarwati golongan dewa? Tentu saja hal ini menimbulkan kontroversi bagi kalangan masarakat wayang. Jika memang golongan dewa, kenapa memilih hidup di bawah (ngarcapada) bukannya di atas (kahyangan)? Apa karena sang ratu dulu tidak bersih lingkungan, apa karena kena kasus? Kata kidalang,  terlalu lama di atas bisa keju (kecapekan) Harjuna.

Dorrrr…., klepeg-klepeg! Harjuna terkapar mandi darah, berhenti jadi wayang. Kepada pers dan media elektronik negara Timbultaunan, sang ratu mengatakan bahwa tawanan tersebut sengaja bunuh diri. Tapi meskipun kabar kematian Harjuna sudah ditutup-tutupi tak urung masuk juga ke  internet dan koran-koran Ngamarta.

Prabu Kresna dimohon untuk menyelidiki sambil membawa  mobil ambulans PMI sekalian. Namun setelah dilihat dari pusaka Kaca Paesan, gerak-gerik ratu Timbultaunan sangat mencurigakan. Karenanya punakawan Petruk lalu di-SMS, diminta menyelesaikan masalah tersebut. Honornya lumayan, lebih gede dari sepeda dan tanpa pakai tebakan jenis ikan pula.

Petruk segera bertindak. Retna Limbarwati ditantang perang sekedar simbolis saja. Habis itu langsung diobok-obok tepat di bagian dada. Sang ratu histeris ketakutan dan kegelian, sehingga pada akhirnya menjelma dan berubah menjadi emban perekan si Limbuk. Demikian juga patih Trincingwati, setelah ditarik paksa  celana panjangnya, berubah ujud menjadi Cangik. Petruk segera mengecek ke bagian rumahtangga istana Indraprasta, ternyata perekan Limbuk – Cangik sudah sebulan ini tak masuk kerja. Dalam absen mesin Amno memang ada namanya, tapi itu karena budi baik perekan-perekan lainnya.

“Rusak! Emban-emban saja ketularan penyakit anggota DPR,” Prabu Kresna gemes.

“Potong saja gajinya, biar kapok!” Petruk ikutan nimbrung.

Untung saja Prabu Kresna tak lupa bawa kembang Cangkok Wijayakesuma, sehingga jenazah Harjuna setelah ditungkuli (diletakkan) kembang tersebut mendadak hidup kembali dan sehat wal afiat. Mobil ambulans urung untuk mengangkut jenasah, tapi malah mengangkut wayang-wayang  Pandhawa termasuk Prabu Kresna dan Harjuna. Dan Limbuk-Cangik untuk sementara dibebas tugaskan.  (Ki Guna Watoncarito).

Advertisement