SEMENJAK program ekspor babu diresmikan Menteri Tenaga Kerja Sudomo taun 1983, jagad perwayangan juga ikut latah. Negara Ngastina misalnya, ikut-ikutan mengirim TKW (Tenaga Kerja Wayang) ke Timbultaunan dan Ngalengka. Maklumlah, gara-gara harta kekayaan negara banyak dikorup pejabat Gajahoya, negara tidak mampu kasih makan rakyat. Para petinggi negara sarapan hamburger dan piza, rakyat makan nasi aking dari sisa beras raskin.
Wayang-wayang kelas akar rumput saling berebut untuk menjadi pahlawan devisa. Anehnya, babu andalan kraton si Limbuk, juga tertarik mendaftar TKW ke Timbultaunan. Tentu saja Prabu Duryudono merasa cotho (kehilangan). Maka sebelum berangkat Patih Sengkuni ditugaskan untuk melobi Limbuk jangan sampai berangkat. Alasannya, ada pepatah lama mengatakan; meski hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri.
“Saya ingin mengubah nasib, ndara Sengkuni. Jaman sekarang babu digaji Rp 2 juta, mana cukup? Minimal ya Rp 10 juta, gitu.” Kata Limbuk si calon TKW.
“Apa? Sepuluh juta? Kok le pinuk (enak betul)! Prabu Duryudana saja dipatok Rp 15 juta dari jaman dinasti Ming, aku sendiri cuma Rp 10 juta. Mana mungkin gajimu disamakan denganku, gila lu…..,” jawab Haryo Suman agak emosi.
Ternyata keinginan Limbuk tak bisa dicegah, dia tetap berangkat ke negeri Timbultaunan, meskipun harus palsukan umur dari 50 menjadi 35 tahun. Ya begitu itulah kwalitas Patih Sengkuni, berdiplomasi dengan babu saja gagal. Maklum, ini sekedar perjuangan yang non profit. Tapi coba yang ada aroma UUD (Ujung-Ujungnya Duit), woo….. musti “ditlateni” dari bakda magrib hingga adzan subuh.
Demikianlah, Limbuk segera berangkat ke Timbultaunan. Baru setahun jalan tiba-tiba ada faksimil masuk kantor kerajaan Ngastina, mengabarkan bawa perekan Limbuk mati dipancung di Timbultaunan. Dia dipersalahkan bunuh majikan yang hendak memperkosanya. Kebangetan juga itu majikan, ada TKW model Limbuk kok ya berselera juga. Padahal wajah dan bentuk Limbuk tak ada sisinya yang merangsang.
“Itu majikan bacaannya pasti situs porno, sampai-sampai Limbuk doyan juga. Wong di sini paman Durna saja nggak sudi,” kata Patih Sengkuni.
“Tuh kan, gue nggak salah apa-apa kok dibuat sampel..!” protes Begawan Durna.
Tambah kurang ajar lagi, mayat Limbuk bukan dikirim ke Ngastina, tapi malah dimanfaatkan sebagai tumbal. Ini kan penghinaan tak terkira. Maka Prabu Duyudana pun murka, para kerabat Istana Gajahoya dikumpulkan, untuk merundingkan nasib Limbuk. Katanya Timbultaunan negara sahabat, tapi perilaku kok seperti jajil lanat (iblis). Apakah tak merasa bahwa setiap tahun memperoleh devisa triliunan dari Prabu Duryudana, karena wayang-wayang Ngastina pada berziarah ke pesareyan Syeh Bolak-Balik di Timbultaunan.
“Sudahlah anak prabu, Timbultaunan diserbu saja. Telaten amat,” Patih Sengkuni ngompori.
“Itu pemborosan anggaran namanya. Kita kan baru kumpulkan duwit untuk bangun infrastruktur….” ujar Prabu Duryudana terobsesi negeri tetangga.
Kasus pemancungan Limbuk memang bikin keluarga besar wayang Kurawa terbangkitkan solidaritasnya. Gedung KB (Kedutaan Besar) Timbultaunan di Jl. Sentanu Bulevard, dilempari batu. Dubes Tumenggung Sastro Jenggirat kabur kembali ke negaranya, tak tahan dibully rakyat Ngastina yang secara serentak menyebut nama hewan Bonbin Ragunan: mulai dari asu, celeng, babi hingga bedhes (kera).
“Paman Sengkuni, mari berbagi tugas. Saya habis Jumatan ini mau demo ke Timbultaunan, apa sih maunya?” instruksi Prabu Duryudana.
“Selamat jalan. Nanti Mentri Luar Negeri dan Mentri Tenaga Kerja biar saya pecat……,” Jawab Sengkuni sambil berangkat ke studio TV-One, untuk jadi narasumber di program ILC. Semoga saja tidak ketemu Rocky Gerung-Fadli Zon.
Tiba di negara Timbultaunan Prabu Subakastawa tengah pesta, bergembira ria bersama para manggala praja. Namanya saja mirip gending gamelan, maka hiburannya ya uyon-uyon manasuka dengan pesinden asing, Megan dari AS. Sang prabu memang sedang berlega hati. Sebab menurut wisik (perintah) dewa, jika ditumbali pakai kepala Limbuk, pageblug Timbultaunan segera sirna. Nantinya bakal murah sandang pangan, beras Rp 5.000,- sekilo.
“Tapi bagaimana ini Sinuwun. Rakyat Ngastina demo, dubes kita diusir,” patih Subakesthi kasih laporan.
“Alah, gertak sambal aja itu. Jika pesareyan Syeh Bolak-Balik ditutup, mau ngalap berkah ke mana, hayo?” ujar Prabu Subakastawa optimis, karena hobinya memang sayur tumis.
Sesungguhnya Prabu Subakastawa mengakui, selama ini iki kerjasama perdagangan dengan Ngastina cukup baik. Sini ekspor duwet dan kacang, Ngastina kirim blangkon, surjan bersama keris pasren pengantin. Tapi karena kepentingan nasional lebih utama, terpaksa mayat babu Ngastina Limbuk dibuat tumbal. Sebetulnya kasihan juga, wong dianya tidak bersalah kok dikorbankan. Ini namanya didzolimi.
Belum juga selesai berunding, tiba-tiba Prabu Duryudana datang dengan wajah merah macam dicat Glotex. Marah sekali rupanya, siapa pun ngomong salah sedikit saja, sepatu bisa mendarat di muka. Prabu Subakastawa grogi juga. Biasanya apa-apa tinggal menyuruh, kali ini turun tangan sendiri.
“Sorry Boss. Dewa menghendaki tumbal yang “setu legi” (setengah tuwa tur lemu ginuk-ginuk). Kebetulan ada Limbuk sampeyan yang nganggur, langsung dipotong saja.” jawab Prabu Subakastawa seenaknya.
“Kenapa nggak ngomong dari kemarin?. Jika butuh yang demikian, koruptor tangkepan KPK Ngastina banyak. Butuh yang Ketum partai, pengurus PSSI, anggota DPR, atau staf khusus mentri, semua tinggal telpon. Gratis…..”
Prabu Duryudana – Subakastawa lalu berunding empat mata. Intinya Ngastina tatap minta Limbuk dihidupkan kembali. Padahal namanya orang mati teraniaya dibabat pedang, tak mungkin bisa dihidupkan. Raja Timbultaunan tidak sanggup, tapi malah ditonyo-tonyo Prabu Duryudana. Katanya jadi raja, tapi kok dungu tingkat dewa. Bagi dunia wayang kan biasa mati hidup kembali?
Prabu Subakastawa barulah paham. Dia segera kirim WA ke Prabu Kresna, mohon izin pinjam pusaka Cangkok Wijayamulya. Ternyata nggak bisa, karena pusaka tersebut sedang “disekolahkan” pada kantor Pegadaian. Alternatif lain tinggal kepada Bethara Yamadipati, barangkali bersedia menghidupkan kembali si Limbuk. Ternyata penguasa kahyangan Retnadumilah tersebut belagu, minta imbalan Rp 5 miliar.
“Mau segitu, gak mau juga nggak patheken.” Yamadipati pasang tarip.
“Ya sudah, asalkan anggarannya patungan dengan Ngastina.”
Jenazah Limbuk yang terkapar mengenaskan, terpisah dari kepalanya, segera disim-salabim oleh Hyang Yamadipati, wush! Seketika itu juga hidup kembali. Tapi setelah tengok sana tengok sini, Limbuk malah protes. Katanya di sana sudah hidup nyaman, kenapa ditarik paksa kembali ke dunia? Kehidupan suwarga pangrantunan (janatun naim) apa-apa serba gratis, bebas pajak, sekolah juga bebas SPP. Menjadi PNS tak perlu nyogok.
“Tapi tenaga dan pikiranmu dibutuhkan Ngastina,” Prabu Duryudana bares.
“Alah mbelllll……” Limbuk mencibir. Baru ini babu ngelawan boss.
Limbuk segera diboyong ke Ngastina. Tapi malam harinya diam-diam kontak WA Hyang Yamadipati, minta dikembalikan ke suwarga pangrantunan lagi. Biaya berapa dolar, ikut saja. Dan seperti yang kemarin, Yamadipati pasang harga Rp 5 miliar. Untung saja gaji Limbuk selama di Timbultaunan semua masuk rekening, kontan diwujudkan. Sekarang Limbuk berhasil hidup bahagia di suwarga pangrantunan lagi.
Yang enak Hyang Yamadipati lantaran dapat obyekan kanan-kiri hingga Rp 10 miliar dari Ngastina – Limbuk. Kini dia pun berwacana mau boking artis Angela Vanesa, eh….sudah masuk Rutan Medaeng, Surabaya. (Ki Guna Watoncarita).



