
KOTA Kudus di Jawa Tengah yang dikenal dengan industri rokok kretek, sedang mengalami lonjakan kasus Covid-19 ditandai ratusan tenaga kesehatan yang terpapar, bahkan dikabarkan belasan jenasah harus antri di Unit Pemusalaraan Jenasah RSUD dr Loekmono Hadi (2/6).
Selain terbatasnya tenaga di RSUD, menurut salah seorang petugas, Anas, petugas RS harus menangani mulai dari pemusalaraan jenasah sampai membawanya ke TPU, sementara di area TPU tidak ada petugas atau warga desa yang membantu, mungkin takut tertular.
| Selain angka kematian yang melonjak menjadi rata-rata sekitar 32 sehari, sebanyak 189 nakes di Kudus juga terkonfirmasi positif Covid-19 dan seorang diantaranya meninggal, Rabu kemarin. |
Bupati Kudus Hartopo mengakui, RS-RS rujukan di kota Kudus kekurangan nakes yang berguguran dan untuk menangani lonjakan pentebaran Covid-19 saat ini diperlukan tambahan 400 perawat dan 60 dokter.
IGD RSUD dr Loekmono juga kewalahan menampung pasien walau dengan gejala berat sekali pun sehingga beberapa diantaranya terpaksa dirawat di atas ambulance yang diparkir atau di lorong-lorong RS untuk menyelamakan nyawa mereka.
Sejumlah RS terpaksa menolak pasien karena memang sudah melebih kapasitas dan nakes yang ada termasuk dokter sudah kewalahan, apalagi jumlah mereka menurun drastis karena terpapar atau sedang menjalani isolasi mandiri.
Sejumlah pasien terpaksa diminta mencari RS untuk rawat inap ke kota-kota di sekitarnya termasuk Semarang, sedangkan yang bergejala ringan atau tanpa gejala diminta cukup melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing.
Sebanyak 14 pasar tradisional di seputar kota Kudus ditutup selama 14 hari sejak 1 Juni setelah 42 desa sekabupaten masuk kategori zona merah Covid-19. Sejak awal pandemi, 626 orang warga Kudus meninggal.
Data Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten
Kudus mencatat, hingga Senin (31/5), jumlah pasien positif Covid-19 yang dirawat di rumah sakit sebanyak 298 orang dan 972 orang positif Covid-19 yang dirawat di RS atau menjalani isolasi mandiri.
Upaya pencegahan dengan menggalakkan penggunaan prokes terutama di seluruh kota-kota dan kabupaten harus terus ditingkatkan agar lonjakan penyebaran Covid-19 tidak meluas ke level nasional.




