
BUAH kegiatan mudik lebih 2,6 juta warga di sekitar wilayah Jakarta dan sekitarnya berupa lonjakan peyebaran Covif-19 seperti yang dikhawatirkan mulai menjadi kenyataan setelah sebagian balik kembali pasca helat Idul Fitri usai.
Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah, mulai dari himbauan, seruan dan sampai larangan mudik dari 6 sampai 17 Mei, berhasil menekan angka pemudik hingga tidak sampai sepuluh persen dibandingkan musim mudik lebaran tahun-tahun sebelumnya.
Bisa dibayangkan, jika himbauan sampai larangan mudik tidak dilakukan sehingga puluhan juta orang mudik, tidak mustahil ledakan penyebaran Covid-19 tidak terkendali seperti terjadi di India saat ini.
Berbagai cara dan akal-akalan ajuga dilakukan para pemudik, mulai dari menggunakan surat keterangan palsu atau asli tapi palsu dan untuk mendapatkannya dari Rumah Sakit, Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) atau surat dari kantor dan lainnya.
Ada juga pengendara sepeda motor yang beramai-ramai menerobos barikade-barikade yang didirikan aparat gabungan di pos-pos penyekatan, ada yang bersembunyi di atas truk pengangkut ternak, ambulans dan aksi kucing-kucngan lainnya.
Angka penambahan kasus-kasus paparan Covid-19 yang cenderung turun sejak pertengahan Ferbruari lalu, mulai menampakkan gejala menaik lagi, dari dua ribu sampai tiga-ribuan kasus peada pekan lalu, menjadi 5.795 kasus, Kamis (20/5).
Angka kematian harian akibat Covid-19 juga masih mencemaskan, yakni 218 orang pada hari yang sama, atau rata-rata sekitar 2,77 persen dari jumlah kasus Covid-19 di Indonesia, dibandingkan rata-rata global 2,07 persen.
Sumatera Zona Merah
Lonjakan penambahan kasus-kasus Covid-19 juga membuat sembilan dari 10 provinsi di Sumatera masuk zona merah, sehingga pengawasan ketat diberlakukan di pelabuhan-pelabuhan laut penyeberangan menuju Pulau Jawa.
Epidemiolog Universitas Indonesia Tri Junis Miko Wahyono menyebutkan, pola penyebaran Covid-19 yang saat arus mudik dibawa pemudik dari kota-kota besar ke kampung halaman mereka, sebaliknya pada arus balik, dibawa lagi ke kota-kota besar.
Miko bahkan mengingatkan, angka kasus-kasus paparan dan korban meninggal akibat Covid-19 terlalu rendah karena kegiatan pelacakan (surveilance) yang terbatas.
“Bisa jadi, angka nyatanya jauh lebih besar dari itu, “ katanya mengingatkan.
Di sisi lain, program vaksinasi jika agak tersendat-sendat, selain pasokan vaksin yang tertunda akibat ledakan angka Covid-19 di India sehingga  membuat pengiriman vaksin tertunda, juga akibat penghentian sementara penggunaan vaksin AstraZeneca pasca meninggalnya seorang pemuda sehari setelah divaksin.
Pemuda warga Bekasi tersebut, Trio Vauki Firdaus (20) meninggal
selang sehari setelah disuntik vaksin AstraZeneca batch CTMAV 547 produk patungan Inggeris dan Swedia dari Korea Selatan.
Akibatnya, BPOM akan melakukan uji toksisitas dan sterilitas vaksin tersebut untuk memastikan keamanannya, sementara seluruh vaksin AstraZeneca dihentikan sementara penggunaannya.
Mengingat baru sekitar delapan juta atau jauh dibawah target vaksinasi untuk menjangkau 181,5 juta penduduk untuk menciptakan kekebalan komunitas (herd immunity), program vaksinasi nasional diperkirakan bakal tertunda.
Sambil menanti pasokan vaksin dan kepastian keamanan penggunaan vaksin AstraZeneca, terus patuhi prokes 3-M untuk menghindari lonjakan penyebaran Covid-19 yang merugikan kita semua.




