Macron Menang, UE Lega

Presiden Prancis Emmanuel Macron (38) (motherjones)

KEMENANGAN Emmanuel Macron atas pesaingnya, Marine Le Pen dalam pemilu putaran kedua Perancis disambut lega oleh kubu yang mengendaki negara itu tetap bernaung di bawah payung Uni Eropa (UE).

Capres independen, Macron  menang telak dengan 65,8 persen suara dalam Pemilu putaran kedua, Minggu (7/5) atas lawannya,  Le Pen dari Front Nasional  yang hanya mampu meraup 34,2 persen suara.

Nilai raihan suara hanya diperlukan sebagai pembuktian kemenangan Macron atas Le Pen, karena berdasarkan jajak pendapat yang diselenggarakan menjelang hari “H” pemilu, Macron memang jauh mengungguli lawannya.

Namun para pendukung Macron tetap was-was, jika terjadi hal tak  terduga seperti kemenangan Presiden Donald Trump pada Pemilu di Amerika Serikat, padahal lawannya, Hillary Clinton di berbagai hasil survey, lebih diunggulkan.

Janji populis kampanye Trump untuk  mengedepankan kepentingan rakyat ketimbang mengurusi imigran atau persoalan dunia, agaknye lebih mengena dan mengantarkannya menjadi orang nomor satu di negeri Paman Sam itu.

Pendukung Macron juga mencemaskan rendahnya partisipasi warga dalam Pemilu, tercermin dari sekitar 25,3 persen rakyat dengan  hak pilih yang tidak mencoblos. Macron dirugikan oleh kondisi tersebut karena lawannya, Le Pen lebih banyak memiliki pendukung fanatik.

Pemunculan tokoh populis seperti PM Inggeris Theresa May dan Donald Trump, semula dikhawatirkan menjadi tren, walau kemudian terpatahkan setelah pada Pemilu Belanda lalu (15/3) tokoh moderat, Mark Rutte menang atas tokoh garis keras Geert Wilder.

UE dengan seksama mencermati pemilu Perancis setelah Inggeris di bawah PM Theresa May hengkang dari perhimpunan 27 negara di Eropa itu sehingga mencemaskan kemenangan Le Pen yang dalam janji-janji kampanyenya akan   mengikuti jejak Inggeris untuk Fraxit  (France Exit).

Keberadaan UE tentu saja akan terganggu jika Perancis, salah satu anggota dengan kemajuan ekonomi dan keunggulan teknologinya yang merupakan salah pilar kekuatan UE keluar, menyusul hengkangnya Inggeris (Brexit).

Oleh sebab itu, kemenangan Macron disambut lega oleh Presiden Komisi Eropa Jean Claude Juncker yang menyebutkan rakyat Perancis telah menentukan pilihannya bagi “masa depan” Eropa.

Berbeda dengan Le Pen yang dalam kampanyenya menebar kebencian pada paham globalisasi dan memicu kecemasan bagi imigran serta kelompok muslim, Macron mengingatkan pada warga untuk meningkatkan daya saing, toleransi serta kemitraan global.

Sementara Kanselir Jerman Angela Merkel menyebutkan, kemenangan Macron sebagai kemenangan persatuan UE yang kuat dan juga kemenangan hubungan  Jerman dan Perancis.

Macron berjanji akan menenangkan kecemasan rakyat dan mengembalikan optimisme mereka, sebaliknya Le Pen bertekad akan terus menjadikan Front Nasional sebagai partai oposisi yang kuat terhadap pemerintah.

Uniknya, Perancis akan memiliki ibu negara Brigitte Trugneux (52) yang tertaut 14 tahun lebih tua usianya dari  Macron (38). Trugneux adalah ibu teman sekelasnya di SMA,  janda beranak tiga dari suaminya terdahulu, seorang bankir.

Pemilu Perancis membuktikan, masih lebih banyak warga yang mendukung pemimpin yang mengedepankan toleransi dan kemitraan global.    (AFP/AP/NS)

 

 

 

 

 

 

Advertisement