Masih Ada Waktu, Jangan Malas di Bulan Ramadan

Ilustrasi. (Foto:  egyptindependent.com)

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, musim kebaikan, di mana dosa-dosa kita diharapkan diampuni, dan taubat kita diterima. Di bulan ini, jiwa kita ditempa dengan ketaatan kepada Allah, meninggalkan segala yang dilarang-Nya.

Selama 11 bulan, kita sering hidup tanpa aturan, semau kita. Namun, di bulan Ramadan, kita dilatih untuk mencapai penghambaan yang sempurna kepada Allah.

Bulan ini bukanlah bulan untuk bermalas-malasan. Puasa disyariatkan untuk menjaga tubuh dan raga kita, agar kita mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Masih ada waktu untuk meningkatkan ibadah selama Ramadan.

Kita mensyukuri nikmat yang selama ini kita gunakan: tubuh, mata, jantung, paru-paru, dan segala organ yang telah bekerja tanpa henti selama bertahun-tahun. Di bulan Ramadan, kita diperintahkan untuk mensyukuri nikmat tersebut.

Ramadan: Bulan Kerja Keras, Bukan Bermalas-malasan

Ramadan adalah bulan untuk kerja keras, bersungguh-sungguh, bukan bulan untuk bermalas-malasan. Lihatlah orang yang ingin menikah tetapi tidak mampu, sementara syahwatnya begitu kuat. Apa yang harus dia lakukan? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyuruhnya untuk berpuasa. Dengan berpuasa, kita melatih jiwa kita untuk taat kepada Allah, menjadi jiwa yang tenang (nafsul mutmainnah).

Allah berfirman dalam Surah Al-Fajr ayat 27-30:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Jiwa yang tenang ini akan diperintahkan masuk surga setelah melalui proses penempaan melalui puasa. Puasa mengajarkan kita untuk hidup teratur dan disiplin, menundukkan nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan.

Ramadan: Bulan Perjuangan

Ramadan adalah bulan perjuangan. Lihatlah kegembiraan para salafus shalih menyambut Ramadan. Mereka berdoa enam bulan sebelumnya, “Allahumma ballighna Ramadan.” Mereka bergembira karena Ramadan adalah musim untuk beramal saleh, mendekatkan diri kepada Allah. Malam mereka diisi dengan shalat dan membaca Al-Qur’an, siang mereka gunakan untuk berpuasa dan berbuat kebaikan.

Generasi terdahulu tidak menghabiskan Ramadan dengan tidur atau begadang tanpa tujuan. Mereka berjuang melawan nafsu dan musuh-musuh Allah. Perang Badar, misalnya, terjadi pada tanggal 17 Ramadan. Penaklukan Kota Makkah juga terjadi pada bulan Ramadan. Mereka tidak bermalas-malasan, tetapi justru bersemangat dalam beribadah dan berjuang.

Jangan Terjebak Syahwat di Bulan Ramadan

Sayangnya, di zaman sekarang, banyak orang yang masih terbelenggu oleh syahwatnya di bulan Ramadan. Mereka masih tunduk pada keinginan perut dan nafsu lainnya. Padahal, Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk melatih diri, menundukkan nafsu, dan meningkatkan ketakwaan.

Allah berfirman dalam Surah An-Nur ayat 36-38:

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang.”

Inilah yang memotivasi generasi terdahulu untuk beramal saleh di bulan Ramadan. Mereka tidak dilalaikan oleh urusan dunia, tetapi tetap fokus pada ibadah dan ketaatan kepada Allah.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here