
LAGI-lagi 13 orang menyongsong maut dan 34 orang luka-luka dalam perjalanan wisata yang selayaknya dipenuhi canda-ria, namun berujung duka akibat kecelakaan bus di Bantul, Yogyakarta, (6/2), menambah deretan panjang daftar kecelakaan lalu-lintas di negeri ini.
Kecelakaan tunggal bus wisata yang mengangkut acara wisata pekerja konveksi di Sukoharjo terjadi di Jalan Imogiri-Dlingo, dekat Obyek Wisata Bukt Bego, Desa Wukirsari, Kec. Imogiri, Bantul, Minggu pukul 14.00 siang.
Dugaan sementara, seperti yang sering terjadi, menurut Kapolres Bantul AKBP Ihsan, akibat rem tidak berfungsi alias blong, bus menyerempet tebing, sehingga bagian depan dan samping ringsek.
Dari 13 korban tewas termasuk supir, sementara 34 lainnya mengalami luka-luka (empat luka berat, dua luka sedang dan selebihnya luka ringan) dirujuk di RSUD Panembahan Senopati, RS Nur Hidayah dan RS Muhammadiyah, Bantul.
Di lokasi yang berdekatan, di jalan akses Imogiri-Dlingo dekat Bukit Bego juga pernah terjadi kecelakaan yang menewaskan dua orang pada 2017 lalu.
Menurut catatan Polri 2021, terjadi kenaikan 31 persen lakalantas dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 772 kasus, 74 orang meninggal, 990 orang luka tingan, 74 luka berat dan 990 orang luka ringan.
Penyebab kecelakaan, 61 persen akibat ulah manusia (pengemudi), Sembilan persen factor kelayakan kendaraan dan 30 persen kondisi lingkungan (jalan dan alam).
Dari segi manusianya, sudah menjadi rahasia umum, begitu mudahnya orang mendapatkan SIM, ringannya sanksi bagi pelanggar dan masih ada oknum-oknum yang bisa diajak berdamai.
Akibatnya, kompetensi mengemudi kendaraan dipertanyakan, padahal di negara-negara maju, selain sanksi berat yang dikenakan, uji ulang SIM juga dilakukan terhadap pelaku pelanggaran.
Terkait kondisi kendaraan, kir atau uji laik kendaraan terkadang juga dilakukan Cuma formalitas saja, juga sarat dengan permainan uang, buktinya banyak kecelakaan diakibatkan rem blong.
Faktor lain misalnya kelebihan muatan, kondisi jalan seperti minimnya lampu penerangan jalan, jalan berlubang, tikungan tajam, banjir, longsor  dan lainnya.
Tanpa upaya bersama para pemangku kepentingan mulai dari polantas, kementerian perhubungan (DLAJR), produsen kendaraan dan juga masyarakat luas, musibah berikutnya, tinggal tunggu waktu saja.
Disiplin di jalan raya, perlu terus ditanamkan pada para pengguna, selain untuk menghindari risiko kecelakaan, diri maupun orang lain, juga menjaga citra bangsa, karena tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa tercermin dari perilaku di jalan raya.
Ayo berubah! Mulai dari disiplin dan tertib berlalin !
.




