
MEDIA terkemuka the Guardian (Inggeris) dan New York Times (NYT- AS) memberitakan minimnya tes, buruknya komunikasi dari pemerintah Indonesia dan rendahnya kepatuhan warga pada protokol kesehatan terkait Covid-19.
“Indonesia gagal menangani wabah Covid-19, “ demikian judul tulisan the Guardian mengutip pandangan sejumlah pakar kesehatan dalam terbitannya baru-baru ini.
Yang ditulis koran itu agaknya memang fakta, karena dari sisi komunikasi, misalnya tentang istilah “new normal” saja di kalangan pejabat sendiri tidak satu kata, sehingga publik di akar rumput malah memaknainya sebagai “pelonggaran” protokol kesehatan.
Padahal makna “new normal” adalah kebiasaan baru untuk menaati protokol kesehatan, seperti mengenakan masker, menjaga jarak dan sering mencuci tangan untuk mencegah penyebaran Covid-19.
Sedangkan “pelonggaran” dimaksudkan dimulainya lagi aktivitas publik termasuk pengoperasian transportasi masal, pembukaan kantor-kantor, pusat perbelanjaan, pasar tradisional, warung makan dan lainnya secara bertahap, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
Sikap abai, bahkan pembangkangan oleh sebagian warga tampak dari berbagai insiden seperti penolakan mengenakan masker yang berujung adu fisik, sedangkan pelakunya tidak saja warga biasa, tetapi ada (oknum) aparat keamanan, bahkan juga anggota parlemen yang sejatinya menjadi panutan.
Pengambilan jenazah secara paksa dari rumah sakit, juga terjadi disejumlah wilayah, karena kaum kerabat orang yang meninggal curiga, prosesi pemakaman oleh pihak RS tidak sesuai syariat agama.
Lebih tajam lagi, New York Times dalam terbitannya akhir Juli lalu memuat berita berjudul: “Di Indonesia, obat palsu justeru direkomendasikan oleh tokoh-tokoh yang seharusnya paham”.
Yang dimaksudkan adalah penggunaan kalung, balsem, inhaler, minyak gosok dan produk lainnya berbahan dasar minyak kayu putih yang diklaim oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasir Limpo untuk mengobati Covid-19.
Sebagai menteri, seharusnya ia paham, pembuatan obat dilakukan melalui rangkaian proses panjang, mulai dari ethical clearance, uji pra-klinis, uji klinis in vitro (melalui media sel atau jaringan) dan in vivo (hewan, lalu manusia menyertakan ribuan relawan) sebelum diproduksi massal.
Contoh lain, klaim Gubernur Bali I Wayan Koster tentang arak yang manjur mengobati Covid-19 dan yang sedang heboh pekan ini klaim “Profesor” Hadi Pranoto tentang cairan herbal temuannya yang bisa mengobati Covid-19 hanya dalam dua atau tiga hari.
NYT juga memuat pernyataan menyesatkan seorang tokoh agama di Lombok yang menyebutkan, pengenaan hijab oleh perempuan muslim bisa mencegah penyebaran Covid-19, jadi tidak perlu mengenakan masker.
Menurut catatan, di awal-awal terdeteksinya Covid-19, seruan untuk menghindari ibadah berjamaah di masjid dalam upaya menghambat laju penyebaran Covid-19 dicurigai, bahkan ditolak sebagian kalangan, karena dianggap sebagai upaya menjauhkan umat dari agamanya.
Penyebaran Covid-19 di negeri ini masih belum terkendali dan bahkan sedang menuju puncaknya, sehingga diperlukan satu kata dan langkah segenap elemen bangsa untuk bahu-membahu mengatasinya.




