JAKARTA, KBKNEWS.id — Desa Warung Jaud, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, kini resmi berstatus Open Defecation Free (ODF) atau bebas dari praktik buang air besar sembarangan (BABS).
Status tersebut menjadi perubahan besar bagi warga yang sebelumnya masih menghadapi keterbatasan akses sanitasi. Sebagian warga terpaksa melakukan buang air besar di kebun, sawah, atau tempat terbuka karena tidak memiliki jamban di rumah.
Salah satunya Mulhah (50), warga Warung Jaud. Ibu empat anak itu mengaku dahulu harus berjalan cukup jauh menuju kebun atau sawah untuk buang air besar.
“Kita ini kalau BAB biasanya ke sawah, ke kebun, tanpa air, dari dulu memang sudah terbiasa tidak punya jamban. Tapi, saya sudah lama tidak ke sana lagi,” kenang Mulhah.
Kondisi tersebut tidak hanya membuat warga merasa tidak nyaman dan malu, tetapi juga meningkatkan risiko kesehatan. Praktik BABS dapat menjadi salah satu faktor penyebaran penyakit, termasuk diare, serta berkontribusi terhadap persoalan tumbuh kembang anak.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa bersama Czechoslovak Group (CSG) Foundation menjalankan Program Sanitasi dan Higiene melalui Kampung Sehati (Sehat dan Sanitasi) di Desa Warung Jaud.
Program ini mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Warga juga mendapatkan pemahaman mengenai kebersihan diri serta pengelolaan limbah rumah tangga yang tepat.
Setelah proses pemicuan sanitasi dilakukan, masyarakat mulai membangun jamban rumah tangga melalui pendanaan mandiri, gotong royong, serta dukungan material.
Hasilnya, sebanyak 152 unit jamban sehat berhasil dibangun di Kelurahan Warung Jaud.
Pada Jumat, 24 Juli 2026, LKC Dompet Dhuafa bersama Pemerintah Kota Serang kemudian menggelar Deklarasi Pilar 1 STBM dan Stop Buang Air Besar Sembarangan.
Dalam kegiatan tersebut, Warung Jaud dinyatakan resmi bebas dari praktik BABS atau ODF. Warung Jaud juga menjadi kelurahan pertama di Kecamatan Kasemen yang berhasil mendeklarasikan status tersebut.
Kepala LKC Dompet Dhuafa Banten, Meyta Winduka Alexandriana, mengatakan intervensi sanitasi saat ini dilakukan di dua titik utama, yakni Warung Jaud dan Masjid Priyayi, Kecamatan Kasemen.
“Untuk Warung Jaud ada 152 unit jamban sehat, dan hari ini resmi melakukan deklarasi stop buang air besar sembarangan. Warung Jaud menjadi kelurahan pertama di Kecamatan Kasemen yang berhasil mendeklarasikan stop BABS,” ujar Meyta.
Bagi Mulhah, keberadaan jamban di rumah membawa perubahan sederhana tetapi sangat berarti bagi keluarganya.
“Alhamdulillah, sekarang bisa BAB di rumah, sudah punya jamban, dapat bantuan ini, Neng. Ya enak lah pokoknya, jadi semuanya lebih mudah. Dulu kalau lagi kebelet ya ke comberan saja, sekarang anak-anak aman kalau BAB,” tuturnya.
Perwakilan CSG Foundation, Renata, mengapresiasi pendekatan Dompet Dhuafa yang tidak hanya menghadirkan fasilitas sanitasi, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat.
Menurutnya, edukasi tersebut penting agar warga mampu merawat fasilitas yang telah dibangun dan menjaga keberlanjutan perubahan perilaku.
Program ini menunjukkan bahwa persoalan sanitasi bukan hanya tentang menyediakan jamban, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan.
Meski Warung Jaud telah berhasil mencapai status ODF, pekerjaan rumah masih cukup besar. Sekitar 1.900 warga di wilayah lainnya masih membutuhkan dukungan serupa.
Karena itu, kolaborasi pemerintah, masyarakat, lembaga sosial, dan berbagai pihak diperlukan untuk memperluas akses sanitasi layak. Setiap jamban yang dibangun menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.





