Menatap Olimpiade

SUKSES menggelar Asian Games ke-18 (AG 18) dan meningkatkan prestasi para atlit di ajang pesta olahraga terakbar di benua Asia tersebut, Indonesia tampil percaya diri menawarkan diri sebagai tuan rumah olimpiade 2032.

Sebagai penyelenggara, RI dianggap sukses terutama atas tampilan kolosal yang digelar pada acara pembukaan dan penutupan AG 18 di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta masing-masing pada 18 Agustus dan 2 September 2018.

Di acara pembukaan, khazanah keindahahan lanskap alam , keragaman budaya dan kesenian Indonesia yang ditampilkan secara spektakuler, diselingi kejutan rekayasa tayangan video perjalanan Presiden Jokowi dari Istana Bogor menuju venue AG 18 berkendara motor trail, menyeruak kemacetan lalulintas ibukota menjadi viral di media on-line di seluruh jagat.

Acara penutupan juga tidak kalah megahnya, bernuansa kental untuk memanjakan selera remaja milineal dengan menampilkan grup-grup dan penyanyi kesohor di tanah air, disemarakkan pula oleh grup K-pop yang memang digandrungi para ABG di Indonesia, juga kesenian dari tim kesenian China, tuan rumah AG 2022 yang akan digelar di kota Hangzhou.

Dari sisi penyelenggaraan, sisi kekurangannya antara lain masih adanya praktek percaloan, insiden kecil atlit silat Malaysia yang merasa dicurangi wasit, tingginya polusi udara di Jakarta, sedangkan kemacetan lalin yang semula sangat dicemaskan bisa diatasi walau dengan mengorbankan kepentingan publik melalui sistem buka tutup dan ganjil-genap nomor polisi di ruas-ruas jalan tertentu.

Di luar sukses penyelenggaraan dan prestasi AG18, tentu saja pertanggungan jawab keuangan yang saat ini masih diaudit berjalan mulus sehingga tidak ada panitia yang dicokok KPK. Pemerintah telah mengaloksikan dana Rp34,5 triliun untuk pembagunan sarana dan prasarana AG 18 ditambah Rp735 milyar anggaran untuk persiapan para atlit.

Yang perlu diperhatikan dalam event-event mendatang, misalnya kekurang tertiban dan sportivitas penonton terutama di pertandingan bulu tangkis. Di negara-negara maju, penonton baru bertepuk tangan saat pemain menyudahi aksinya, setelah pukulan smesh, lob-lob atau drop-shot usai dilontarkan, tidak berteriak-teriak menyoraki pemain terus-menerus. Etika penonton juga tidak kalah pentingnya karena menyangkut citra bangsa.

Dari sisi prestasi, di tengah berbagai kendala saat proses persiapan, bertengger di peringkat 4 setelah China, Jepang dan Korea Selatan, kontingen RI di AG 18 dengan 31 medali emas, 24 perak dan 43 perunggu merupakan raihan terbaik sepanjang kesertaan di Asian Games, jauh melampaui target peringkat 10 besar dengan 16 medali emas.

Saat menjadi tuan rumah pada AG 1962, Indonesia memang berhasil menjadi runner-up setelah Jepang dengan perolehan 51 medali (11 emas, 12 perak dan 28 perunggu), walau hasil tersebut tentu tidak bisa dibandingkan megingat AG 1962 hanya melombakan 15 cabang olahraga (cabor) diikuti 17 negara peserta, sementara AG 2018 melombakan 40 cabang olahraga diikuti 45 negara.

Cabor non-olimpiade
Namun demikian, sukses kontingen RI di AG 18 masih bisa dikritisi, karena 14 medali emas atau hampir separuh medali emas yang diraih (31 keping) berasal dari pencak silat yang kemungkinan cuma dilagakan di event AG kali ini karena diusulkan tuan rumah, belum tentu diikutkan dalam AG selanjutnya, apalagi di ajang olimpiade. Medali emas juga diperoleh dari cabor non-olimpaide lainnya seperti wushu, paralayang dan sepak takraw.

Bagaimana selanjutnya? Jalan panjang harus dilalui jika atlit-atlit Indonesia ingin “naik kelas” ke level dunia di ajang olimpiade, yang paling dekat Olimpiade Tokyo yang akan digelar pada 2022.

Menurut catatan, RI yang mulai berkiprah di Olimpiade Helsinki pada 1992 dan kemudian absen pada Olimpiade Tokyo (1964) dan Moskow (1980), pertama kali menyabet medali emas dari Susi Susanti (single badminton puteri ) dan Allan Budikusuma (single badminton putera) di Olimpiade Barcelona 1992. Hingga Olimpiade Beijing 2016, tujuh medali emas diperoleh, seluruhnya dari badminton.

Dari sisi prestasi, dituntut perencanaan jangka panjang untuk lolos seleksi olimpiade karena harus melalui proses kualifikasi berjenjang yang amat ketat, misalnya di atletik, mulai Olimpiade Tokyo 2020.

Setiap atlit harus mengumpulkan poin demi poin dari berbagai turnamen regional dan dunia, berbeda dengan sistem sebelumnya yang menggunakan sistem limit waktu dan jarak. Contohnya, di Olimipade Rio de Janeiro 2016, limit waktu untuk lari 100 meter putera 10,16 detik dan puteri 11,32 detik.

Sementara dari sisi penyelenggaraan olimpiade , Indonesia tentu sangat mampu, misalnya mulai sekarang membangun kota olimpiade dimana saja, bisa di pulau-pulau besar atau kecil yang dipadukan dengan berbagai pusat kegiatan lainnya misalnya pusat riset dan teknologi atau perguruan-perguruan tinggi, asing dan lokal, swasta mau pun negeri.

Mungkin bisa dipilih, lokasi yang landskapnya indah dan lengkap, ada gunung, laut, sungai atau danau, tinggal dibangun prasarana dan sarana yang diperlukan. Dengan membangun kota khusus olimpiade, seluruh nomor pertandingan bisa tertampung di satu lokasi, bebas dari kemacetan lalu-lintas serta tercipta sinergi dengan kegiatan lain agar kota tetap hidup pasca helat olimpiade usai.

Intinya cetak biru keolahragaan dalam jangka panjang, termasuk penganggaran yang memadai harus dirancang jika Indonesia ingin menjadi tuan rumah olimpiade dan berniat mengantarkan para atlitnya berjaya di event kelas dunia itu.

Advertisement