Menerka, “Ending” Kematian Khashoggi

Demo d Washington DC, 8 Oktober lalu untuk menunjukkan empati atas hilangnya wartawan senior Jamal Khashoggi di kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul 2 Okt. lalu, Empati pada Khashoggi juga bermunculan dari berbagai komunitas dunia.

ARWAH Jamal Khashogi mungkin saat ini sudah tenang berada di alam barzah, namun misteri kematiannya masih menjadi misteri, siapa yang memerintahkan, siapa pelakunya, dengan cara apa ia dihabisi dan kemana jasadnya dibuang?

PEMERINTAH Arab Saudi mengecam pernyataan senat Amerika Serikat tentang keterlibatan Putera Mahkota Pangeran Mohhammed bin Salman (MBS) dalam kasus pembantaian wartawan senior Jamal Khashoggi.

Pemerintah Saudi menilai, pernyataan tersebut sebagai campur tangan persoalan internal mereka, walau tetap ingin melanjutkan komitmen hubungan kedua negara dengan menyebutkan senat AS sebagai: badan legislatif sekutu yang terhormat dan pemerintah yang bersahabat”.

Presiden AS Donald Trump sendiri di berbagai kesempatan menyatakan dukungannya pada MBS walau keterlibatan putera mahkota Arab Saudi idalam pembunuhan wartawan senior Jamal Khashoggi semakin santer.

Dalam wawancara ekslusif dengan Reuters (11/12) Trump terang-terang membela MBS, dengan alasan ia adalah putera mahkota Arab Saudi, negara mitra startegis dan penting bagi AS.

Keengganan Trump untuk bersikap keras terhadap Saudi diduga karena Saudi merupakan salah satu mitra utama AS, tercermin dari nilai kontrak penjualan senjata AS pada 2017 sebesar 110 milyar dollar AS atau sekitar Rp1.600 triliun.
Sebaliknya Direktur Dinas Rahasi AS (CIA) Gina Haspel juga sudah memastikan, berdasarkan bukti-bukti yang dimilikinya, MBS lah yang memerintahkan menghabisi Khashoggi.

Kontroversi kematian Khashoggi terus berlanjut sejak ia raib saat berada di gedung konsulat Saudi di Istanbul 2 Oktober lalu. Sejumlah bukti menunjukkan, wartawan the Washington Post berkebangsaan Saudi yang kritis terhadap kalangan istana itu dibantai dan dimutilasi atas perintah “boss” di Riyadh.

Awalnya, rezim Saudi menampik keterlibatan mereka atas kematian Khashoggi, namun setelah terpojok, mengakui Khashoggi ewas saat berada di gedung konsulat di Istanbul akibat perkelahian. Belasan orang diduga algojo yang didatangkan dari Riyadh untuk mengeksekusi korban, sebagian juga sudah ditangkap dan dipecat.

Dalam pernyataannya merespons sikap senat AS, pemerintah Saudi menyatakan menolak campur tangan asing terhadap persoalan internal negara dan cara apapun yang tidak menghormati kempimpina negara dan merongrong kedaulatan negara.

Kasus Khashoggi bagai “duri dalam daging” bagi Arab Saudi, karena sejumlah negara di Eropa seperti Inggeris, Perancis dan Jerman mengancam akan menghentikan transaksi penjualan senjata terhadap negara Arab kaya tersebut.MBS juga berupaya memperoleh dukungan dari tetangganya misalnya dalam forum Dewan Kerjasama Teluk beberapa pekan lalu, namun dinilai gagal karena Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamd al-Thani tidak bersedia hadir.

Entah bagaimana nantinya “ending” kasus Khashoggi, apakah kebenaran di tengah gemerlapan harta dan kekuasaan, bisa terungkap.
(AP/AFP/Reuters/NS)

Trump Ngotot Bela Pangeran Salman
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump tetap mendukung Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) walau keterlibatan putera mahkota Arab Saudi itu dalam pembunuhan wartawan senior Jamal Khashoggi semakin santer.
Dalam wawancara ekslusif dengan Reuters (11/12) Trump terang-terang membela MBS, dengan alasan ia adalah putera mahkota Arab Saudi, negara mitra startegis dan penting bagi AS.
“Ya, saat ini pasti, “ kata Trump dengan tegas ketika didesak pertanyaan tentang apakah keberpihakannya pada Arab Saudi (otomatis-red) juga berarti ia juga berada di belakang MBS.
Menanggapi bahwa di kalangan istana Saudi sendiri juga sudah ada gerakan untuk mencegah agar MBS tidak diangkat menjadi raja, Trump mengatakan bahwa ia belum mendengar isu itu, dan tetap yakin, kedudukan MBS masih sangat kuat.
Fraksi Republik di Senat AS mengecam keras sikap Trump yang tetap bergeming terhadap sejumlah bukti-bukti yang menjurus pada keterlibatan MBS dalam pembunuhan terhadap wartawan The Washington Post bekewarganegaraan Arab Saudi itu.
Berdasarkan sejumlah barang bukti yang dikumpulkan oleh pihak Turki dan AS dan dari keputusan Arab Saudi memecat 17 aparat intelijennya, , wartawan yang kritis terhadap kalangan istana termasuk MBS itu telah dibantai di kantor konsulat Saudi di Istanbul, 2 Oktober lalu.
Rekaman sebagian wajah tim intelijen yang langsung didatangkan dari Riyadh dan dipastikan berada di gedung konsulat Saudi di Istanbul pada hari kejadian dan diterbangkan kembali ke Saudi pada hari yang sama dilaporkan ada di tangan dinas rahasia Turki.
Rekaman percakapan antara MBS dengan anggota tim, juga dengan konsul jenderal Arab Saudi di Istanbul, DNA korban dan larutan kimia yang diduga digunakan untuk menghilangkan jejak setelah korban dimutilasi kabarnya juga diperoleh dinas rahasia Turki.
Direktur Dinas Rahasi AS (CIA) Gina Haspel juga sudah memastikan, berdasarkan bukti-bukti yang dimilikinya, MBS lah yang memerintahkan menghabisi Khashoggi.
Trump sendiri menilai, kesimpulan CIA prematur, namun dalam wawancara dengan Reuters, ia menolak menjawab peranyaan, apakah MBS terlibat kasus dugaan pembunuhan tersebut.
Trump juga menyatakan tidak cemas akan dimakzulkan, lagi-lagi dengan dalih, ia tidak bisa mendakwa begitu saja orang yang tidak melakukan kesalahan, apalagi sosok yang menciptakan kegiatan ekonomi sangat besar bagi negaranya.
Menurut catatan, pada 2017 saja AS meneken penjualan persenjataan senilai 150 milyar (sekitar Rp2.100 triliun) dengan Arab Saudi atau setara dengan APBN Indonesia.
Berbeda dengan AS, negara pemasok senjata terbesar lainnya seperti Jerman, Perancis dan Norwegia dilaporkan membatalkan kontraknya dengan Saudi akibat kasus pembunuhan Khashoggi tersebut.
Presiden Turki Recep Toyib Erdogan bahkan mendesak Saudi agar mengekstradisi para tersangka pembunuhan ke negaranya yang menjadi tempat perkara (locus delicti). (AP/AFP/Reuters)

Arab Saudi di Pusaran Raibnya Khashoggi
RAIBNYA wartawan senior the Washington Post Jamal Khashoggi sampai kini masih diselimuti kabut misteri, tetapi tekanan internasional terhadap pemerintah Arab Saudi untuk jujur, terbuka dan segera mengungkapnya datang bertubi-tubi.
Kerugian berupa sirnanya peluang investasi mulai mengancam Saudi, sejak pemberitaan terkait hilangnya Khashoggi (59) setelah berada di gedung konsulat negara itu di Istanbul (2/10) menyebar di berbagai media di seluruh jagat.
Pengusaha Inggeris pendiri Virgin Grup, Richard Branson yang sedianya akan berpartisipasi dalam pengembangan proyek pariwisata bernilai milyaran dollar AS di Saudi kabarnya membatalkan rencananya.
Sementara itu, forum ekonomi global, Future Investment Initiative (FII) yang akan digelar di Riyadh 23 – 25 Oktober juga dikhawatirkan terkena imbasnya, padahal pertemuan yang bakal dihadiri pebisnis global diharapkan akan mampu menarik investasi besar-besaran ke negara itu.
Khashoggi yang melalui tulisan-tulisan tajam mengritik perilaku dan kebijakan rezim petahana di bawah Pangeran Mohammed bin Salman dan pendahulunya diduga sejumlah pihak telah dihabisi dan sejumlah bukti yang menguatkan keterlibatan pemerintah Saudi terus bermunculan.
Sumber-sumber Turki dan AS mengakui, memiliki rekaman video yang mendukung bukti , Khashoggi disiksa, dihabisi dan dimutilasi di dalam gedung konsulat Saudi oleh belasan algojo yang didatangkan langsung dari Riyadh.
Nama-nama ke-15 warga Saudi yang tiba di Istanbul, kemudian kembali pada hari yang sama saat hilangnya Khashoggi saat ia menyambangi konsulat tersebut untuk mengurus surat pernikahannya dengan perempuan Turki bernama Hatice juga sudah dikantongi oleh aparat setempat.

AS juga tekan Saudi
Amerika Serikat, mitra utama ekonomi dan juga negara yang menggelontorkan
persenjataan mutakhir untuk memperkuat militer Saudi, mengancam akan mengambil langkah tegas jika negara itu terbukti melakukan konspirasi dalam pembunuhan Khashoggi.
“Kami akan menemukan kebenaran dalam kasus ini dan bakal ada sanksi hukuman keras, “ kata Presiden AS Donald Trump pada wawancara dengan TV CBS (11/10), seraya menambahkan: “Hingga kini mereka (Saudi) membantah keras. Apa mungkin mereka pelakunya? Bisa saja “
Namun, beberapa pengamat meragukan apakah Trump berani mengambil risiko untuk bersikap keras terhadap Arab Saudi atau hanya sebatas gertakan untuk mencitrakan pada rakyatnya dan juga dunia bahwa ia lebih mementingkan penegakan HAM ketimbang keuntungan bisnis.
Dari bisnis persenjataan saja, AS bakal kehilangan 110 milyar dollar AS jika dibatalkan gara-gara kasus Khashoggi.
Otoritas Turki juga meyakini, Khashoggi dibunuh di gedung konsulat dan menurut laporan harian pro pemerintah “Sabah” (13/10), tim investigasi menemukan rekaman jam tangan Apple milik korban yang terkirim ke ponsel Iphone yang dititipkan kepada kekasihnya sebelum ia memasuki gedung konsulat.
Berdasarkan penuturan Hatice, Khashoggi menitipkan ponselnya dan berpesan agar ia menghubungi polisi jika terjadi sesuatu atas dirinya. Hatice tidak ikut masuk, hanya menunggu di luar gedung, karena menurut dia, tidak diizinkan oleh petugas konsulat.
Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, lambat laun akan ketahuan juga. Entah siapa pelakunya, orang hanya menduga-duga sampai suatu saat nanti. AP/AFP/Reuters/NS)

Advertisement